"Seberapa jauh seseorang boleh peduli sebelum itu berubah jadi sesuatu yang tidak seharusnya?" El selalu terlihat seperti jawaban. Tenang, rapi, dan seolah tidak pernah salah langkah.
Tapi manusia jarang sesederhana penampilannya.
Di balik sikapnya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━
El menatap netra Calla bergantian, keduanya sejenak terkunci pada pikiran masing-masing. “Lo juga beda banget sama yang lo pikirin,” celetuk El, sedetik kemudian laki-laki bermata sipit ini mendapati gadis di depannya mengernyit. El menarik sudut bibirnya. “Gue duluan,” sambungnya sebelum setelahnya berlalu meninggalkan Calla yang masih membisu.
Lo juga beda banget sama yang lo pikirin.
Calla heran, El seperti langsung menangkap bagian dimana gadis itu bilang bahwa dirinya dan Zeno berbeda, dan Calla kebingungan ketika El bilang dirinya berbeda, bahkan dengan pikiran gadis itu sendiri.
Ia akhirnya memilih merajut langkahnya menuju kamar sang ayah. Langkahnya teratur tapi sepertinya orang di seberang Calla tengah terburu-buru. Gadis itu sedikit menggeser posisinya tapi orang di seberang sana juga. Tubuh keduanya bertabrakan, membuat Calla mundur beberapa langkah kebelakang.
Kepalanya terkena siku laki-laki dengan masker putih itu.
“Maaf.” Mata lentik itu langsung bertemu dengan pandangan Calla. Dirinya meringis kecil. Kedua tangan laki-laki itu beralih pada kepala Calla, salah satunya menahan dan sebagian lainnya digunakan untuk mengusap pelan kepalanya. “Maaf maaf.”
Calla mengangguk, keningnya masih terlipat. “Udah baikan?”
“Udah.”
“Maaf ya, gue buru-buru banget, gue duluan ya,” ujarnya yang langsung berlalu tanpa perlu menunggu anggukan Calla. Kepalanya pusing, dirinya bahkan berkedip beberpaa kali untuk menormalkan penglihatannya.
Di sisi lain, El tengah mondar mandir di luar ruangan Yana. Wanita dengan diagnosa penyakit autoimun itu drop. Perawat bilang jika tadi Yana sempat sesak nafas dan kemudian kejang.
Kaki El tidak mau diam. Matanya berkunang, kepalanya pusing. Tangannya gemetar, sensasi setiap dirinya menahan sesuatu itu muncul kembali di waktu yang salah. El duduk pada kursi besi di luar ruangan, kakinya bergerak mengetuk lantai gelisah, kuku tangannya hampir habis ia gigiti.
Pikiran-pikiran buruk bermunculan di kepalanya. Kemungkinan paling mengerikan yang kini menguasai pikirannya membuat nafas El naik turun. Seorang dokter yang keluar dari dalam ruangan menyita perhatiannya, setelah sedetik mendongak dengan terburu-buru El menegakkan tubuhnya. “Dok, gimana keadaannya?”
Tangan El bersembunyi di belakang tubuhnya. Sesekali ia akan menahan nafas agar nafasnya kembali normal.
“Ibu Yana belum sadar tapi masa kejangnya sudah selesai. Peradangan membuat cairan di sekitar paru-paru pasien dan itu yang membuatnya tadi sempat sesak nafas. Kami juga sudah memasang alat bantu pernafasan.”
El membisu. Tangannya tidak lagi gemetar tapi sekarang digantikan lemas yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Dokter laki-laki itu tersenyum, menepuk pundak El pelan. Yana sudah sangat lama menjadi pasien di rumah sakit dokter itu, membuatnya juga mengenal dan tahu bagaimana El selama Yana di rumah sakit. “Jangan negatif thinking, berdoa yang baik-baik saja. Saya permisi.”
El mengangguk setelah dokter itu berbalik dan berlalu dari hadapannya. Dirinya langsung terduduk lagi setelah mengintip sedikit kedalam ruangan. “Tuhan...”
Sedangkan di ruangan lain, Calla tengah duduk pada kursi di samping brankar Adrian. Setelah sempat drop kemarin, hari ini ayahnya menunjukkan kemajuan kondisinya. Calla menggenggam tangan yang tadi sempat bergerak saat dirinya bicara tadi.
Seminggu berlalu, Calla baru ingat akan bundanya lagi. Gadis itu meraih ponsel di atas nakas kemudian menekan panggilan pada nomor bundanya. Panggilan pertama tidak di angkat, tapi setelah menunggu sejenak, panggilan kedua berhasil memunculkan suara istri dari ayahnya itu.
“Kenapa, Kal? Kamu ganggu.”
Sudut bibir yang sempat terangkat kini sirna. Calla melihat kearah ayahnya yang masih terpejam, berfikir apakah dirinya harus memberi tahu kondisi Adrian pada bundanya atau tidak. Kakinya bergerak menepuk-nepuk lantai bergantian.
“Bunda lagi apa?”
“Istirahat bentar.”
“Ohh...” Pandangan Calla berkeliling. Tangannya semakin erat menggenggam tangan Adrian yang terasa agak dingin. “Bunda udah tau kondisi ayah?”
“Kenapa?”
“Ayah koma, bunda. Belum sadar sampai sekarang.” Calla mengembuskan nafasnya menunggu kalimat apa yang akan di lontarkan oleh perempuan itu.
“Bunda udah tau dari semenjak ayah kamu itu kecelakaan, ada orang ngehubungin bunda juga, nggak cuma kamu.” Suara-suara lalu lalang orang yang sibuk seperti menjadi backsound kalimat panjang bundanya itu.
“Jadi bunda...”
“Kamu urusin aja ayah kamu, bunda masih sibuk.”
“Bun—”
Panggilan diputus sepihak. Calla masih aneh kenapa keadaan seperti tengah mempermainkannya. Gadis berjepit rambut ini tidak pernah benar-benar tahu kenapa sikap ayah dan bundanya bisa berubah drastis.
Calla meletakkan ponselnya lagi. Setidaknya bundanya sudah tahu, entah nanti akan peduli atau tidak, tidak akan jadi urusannya. Kepala Calla membawanya pada El, atau karena dirinya yang berbeda seperti apa yang di pikirannya?
Calla menoleh keluar ketika mendengar suara langkah kaki yang biasanya kedap sekarang terdengar sangat nyata. Itu El. Langkahnya stabil seiring ayunan tangannya. “El—” Calla menjeda, tubuhnya mematung di antara pintu ruangan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━
Yaa ampun hahahhaa Sempat'in banget nulis ini, plotnya malah jadi weird wkwk ga apa' deh Tandain typo yup, mett puasaa