misaligned ~41

7 1 12
                                        

chap ini diciptakan buat pecinta Zeno Akbar Mahendra #nomor1 wkwkwk, pokonya gitu dehh
𝐡𝐚𝐩𝐩𝐲 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐢𝐧𝐠 💞💞

chap ini diciptakan buat pecinta Zeno Akbar Mahendra #nomor1 wkwkwk, pokonya gitu dehh𝐡𝐚𝐩𝐩𝐲 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐢𝐧𝐠 💞💞

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━

Cahaya lampu berpendar saling bertabrakan dia atas panggung. Biru, ungu, merah— dan banyak lagi, semuanya datang tanpa urutan jelas. Mengusung konsep keberagaman, menjadi ruang bagi setiap individu untuk menampilkan warna dan potensinya masing-masing di atas panggung yang sama.

Mereka menamainya SPECTRUM. Sebuah acara yang merayakan warna— tentang bagaimana setiap orang bisa hadir dengan versi terbaik dirinya, berdiri di bawah lampu yang sama tanpa harus menjadi seragam. Tidak ada yang membicarakan apakah warna itu cocok atau tidak atau bagaimana jika warna yang satu bercampur dengan warna yang lain.

Ketika beberapa terlalu terang, beberapa terlalu redup, atau beberapa lainnya justru saling menutupi. Semua akan tetap berjalan seperti seharusnya dengan sesuatu yang membuat seolah-olah semua warna itu ditakdirkan untuk berada di satu tempat yang sama.

Lampu-lampu dipasang terlalu terang dan dekorasi disusun begitu rapi untuk sesuatu yang akhirnya tetap berantakan. Suara musik bocor dari soundcheck terakhir bercampur dengan riuh penonton yang memadati area depan panggung.

Kursi yang disusun tidak hampir separuh yang menggunakannya. Lebih banyak yang berdiri meski beberapa yang duduk tidak sesekali meneriaki mereka.

Acara itu akhirnya tetap berjalan dengan sisa kekacauan kemarin.

“Geser dikit! Kursinya jangan di tumpuk!”

“Semua udah di cek kan?!”

MC udah naik tuh!”

“Duduk dong!”

Suara bertumpuk tanpa jeda. Para panitia ikut andil dalam acara mereka. Tidak ada seragam OSIS. Tidak ada almamater. Semuanya mengenakan pakaian dengan warna yang mereka pilih sendiri. Ada yang berlari kecil membawa kabel. Ada yang berdiri di tengah seolah tahu akan melakukan apa meskipun tidak.

Di tengah itu semua, El berdiri di ujung lorong di gedung kelas sebelas. Lapangan mereka terlihat seperti lautan manusia. Tangannya menggenggam beberapa lembar kertas rundown yang bagian ujungnya sudah sedikit terlipat. Matanya memperhatikan semuanya sekaligus, pada panggung dan kertas di tangannya, pada beberapa panitia, seperti tengah memastikan semuanya terlihat sesuai.

“Ra, ini urutan penampilan kedua berubah?” Suara yang menyahut di belakang El membuatnya menoleh. Anak laki-laki dengan seorang gadis yang tengah memperhatikan ponsel di tangannya. Gadis itu mendongak menatap El.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 8 hours ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

MISALIGNED Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang