misaligned ~39

51 15 174
                                        

━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━

Ruang tengah kediaman Gentala terasa asing meski tidak ada yang berubah kecuali dengan keberadaan dua koper besar yang tergeletak di dekat sofa. Pintu kupu-kupu yang terbuat dari kayu dengan ukuran tinggi itu terbuka lebar membuat lebih banyak angin yang masuk ke dalam rumah.

Calla berdiri di tengah kegiatannya menuruni tangga, bukan sedetik tapi sepenuhnya. Refleks tubuhnya akan sesuatu dan suasana yang menurutnya berbeda. Gadis itu merapatkan tubuhnya pada pegangan tangga dengan badan sempurna mengarah pada pintu dan pada sosok yang sekarang duduk di sofa.

Itu Bundanya.

Kipas portable berada pada genggaman tangannya. Wajahnya sedikit lebih terlihat tanpa guratan lelah atau sudah mandi, atau tidur, atau sudah benar-benar istirahat. Calla tidak bisa memastikannya. Sepertinya rambut itu sedikit di potong, terlihat lebih pendek dari yang terkahir Calla ingat.

Perasaan yang sedikit ragu tidak membuatnya urung melanjutkan langkah. Calla menuju dapur ketika ia ingin minum dan sekarang ada dorongan mengambilkan juga untuk wanita yang tengah duduk merebah di sofa ruang tengah.

Karena ada sesuatu yang harus ia pastikan, juga.

Langkahnya pelan hampir tidak menimbulkan suara. Ia berdiri di dekat meja, masih memperhatikan yang baru saja mengambil seluruh isi kepalanya— atau menaikan sesuatu ke permukaan. Gelas itu ia genggam sampai Hasna menemukan Calla yang sedang di posisinya.

Duk kecil menyadarkan keduanya. Calla duduk pada sofa panjang yang tidak sejalur dengan yang diduduki Hasna. Senyumnya terbit sedikit. “Udah pulang?”

Biasanya, tapi sekarang tidak. Senyum Hasna mengembang cepat lebih dari biasanya ketika tangannya langsung menyambar gelas yang Calla letakkan tadi. Kepalanya mengangguk beberapa kali. “Iya. Bunda kira nggak ada orang di rumah.”

Bukan yang banyak tapi yang terasa. Sebuah jarak. Entah keduanya atau hanya perasaan Calla jika masih ada garis yang tidak tipis yang setiap mereka berinteraksi selalu tidak selesai atau memang seharusnya tidak di selesaikan.

Setelah meletakkan kembali gelas itu, Hasna beralih pada ponselnya sebentar. Hanya sebentar sebelum ia menaruhnya lagi di atas meja. Ia membetulkan apapun, rambutnya, letak bantal sofanya, letak kopernya yang ia geser sedikit mendekat. Ada jeda hening di antara keduanya.

“Capek?” tanya Calla singkat.

“Lumayan.”

Calla menurunkan kepalanya sekali dengan ritme pelan yang didominasi rasa ragu. Tangannya bertaut kemudian terbuka dan bertaut lagi untuk mengulang hingga beberapa kali. “Aku ketemu seseorang di sekolah.” Gerakan tangannya berhenti dengan beralih meremas ujung dress putih pink selututnya.

MISALIGNED Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang