"Seberapa jauh seseorang boleh peduli sebelum itu berubah jadi sesuatu yang tidak seharusnya?" El selalu terlihat seperti jawaban. Tenang, rapi, dan seolah tidak pernah salah langkah.
Tapi manusia jarang sesederhana penampilannya.
Di balik sikapnya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━
Koridor masih sama. Kosong, panjang, dan sepi tapi kali ini dengan suara yang berbeda. Langkah Calla belum berhenti, rasanya berat, rasanya berisik di kepalanya sendiri. Kalimat-kalimat yang Tasya lontarkan tadi berputar cepat seolah tengah memilah bagian mana yang paling sakit untuk di ingat.
Licik. Pura-pura polos padahal suka di lirik. Lo jahat, Kal.
Dukk
Pundak itu terantuk bagian sudut tembok di ujung lorong. Desisan pelan keluar sebelum tangan yang dingin itu mengeratkan kepalannya. Kuku-kukunya yang tidak terlalu pajang menancap yang ia sendiri yakin akan menimbulkan jejak tenggelam di telapak tangannya.
Calla belum tahu akan kemana. Pikiran amannya hanya meminta jangan di situ hingga kakinya berbelok kearah kanan di ujung lorong tepat setelah pundaknya terantuk. Ia berhenti pada sebuah tangga belakang yang memiliki akses langsung menuju rooftop tapi ia berhenti.
Kepalanya menunduk membuat rambut-rambutnya jatuh rapi meski sebagian tertahan oleh jepit rambutnya. Nafasnya mulai tidak beraturan sebelum memutuskan duduk pada tangga ketiga dari tempatnya berdiri.
Hening.
Atau seharunya.
Suara gesekan sepatu dengan kramik tangga dan sebuah hembusan nafas pelan dari arah atas tidak membuat Calla menoleh sama sekali. Laki-laki itu mengambil jarak satu tangga di atas Calla sebelum duduk tenang dengan siku yang ia letakkan pada lutut. Jemarinya saling bertautan.
“Udah selesai?”
Suara itu berat tapi membuat Calla merasa sedikit ringan. Calla tau suara itu milik siapa. Nafasnya tertahan sebentar sebelum jawaban singkat berhasil ia keluarkan. “Ntah.”
El mengangguk meski Calla pasti tidak akan melihatnya. Ia turun sebentar meletakkan botol air mineral di dekat gadis itu duduk. Matanya melirik. “Haus kan?” Tebakan itu jatuh bersamaan dengan gerakan duduknya lagi.
“Dari kapan?”
“Lumayan. Gue liat dari sebelum semuanya rusak.”
Bohong jika Calla tidak kaget. Bahunya sempat kaku sedetik sebelum El terkekeh pelan.
“El, berkas event itu kayaknya ketinggalan di bawah,” celetuk Zeno yang tengah berdiri dengan badan sedikit membungkuk memilih, menumpuk dan membuka berkas-berkas itu dengan asal. Tubuhnya menegak dengan kepala yang mengarah pada El. Laki-laki yang tengah minum itu berdehem singkat.