misaligned ~21

120 49 56
                                        

━━━━━━━━━ ✢   ⟡   ✢ ━━━━━━━━━

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

━━━━━━━━━ ✢   ⟡   ✢ ━━━━━━━━━

“Bibi Mila?” Wanita itu mendongak memperlihatkan matanya yang memerah basah. Nafasnya masih naik turun tidak beraturan membuat Calla sempat menatap bingung kearahnya. Isak kecil menyusul seolah enggan benar-benar hilang. “Kenapa?” Tanya Calla sambil mengusap pelan lengan atas Mila. Gadis ini membawanya duduk pada kursi besi di lorong dingin rumah sakit.

Kepala wanita itu menunduk berusaha meredam isak yang mulai jatuh lagi. Usapan Calla berubah menjadi dekapan hangat — berpindah pada tepukan kecil pada punggung. “Saudara bibi di rawat di sini?”

“Udah ng-nggak ada.”

Tepukan itu berhenti sejenak sebelum sekarang menjadi dekapan yang lebih erat.

“Ayah.” Pria itu menoleh. “Ayah, saudara bibi Mila yang sakit, udah nggak ada,” ungkap Calla iba. Ia duduk pada sofa yang cukup jauh dari brankar Adrian. Tangannya bergerak memilin ujung baju, kepalanya menunduk.

“Kita datang.”

━━━━━━━━━ ✢   ⟡   ✢ ━━━━━━━━━

Gerimis mulai berjatuhan. Sebagian orang mulai bepergian, sebagain menunduk lagi sejenak sebelum melakukan hal yang sama. El berdiri agak jauh dari gundukan tanah basah yang tidak benar-benar kosong. Langkahnya tertahan, seperti semuanya benar-benar melambat hari ini.

Di depannya seorang wanita yang masih berjongkok setengah menumpahkan tangisnya lagi. Tangannya mengusap nisan pelan. El mulai maju satu langkah, hanya satu, tapi cukup membuatnya merasa jaraknya berubah berlebihan. Kepalanya mendongak, urat tangannya menegang.

“El... Mba sempat nanyain kamu.” Tangan wanita itu sesekali bergerak mengusap netranya. Mila tidak menjelaskan banyak, wanita itu berlalu meninggalkan tempat terkahir Yana.

El menunduk membuat yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh. Jemarinya mengencang membuatnya bisa merasakan kukunya dengan baik. Tatapannya kosong tapi terlalu tajam untuk di katakan tidak melihat apa-apa.

Nafasnya naik turun tidak beraturan hingga entah tarikan nafas yang keberapa, isaknya menyusul, membuat bahunya luruh. Urat pada lehernya menegang. Kakinya yang sejak tadi kokoh kini jatuh sekaligus membuat celana di bagian lututnya menyentuh tanah.

El tidak peduli.

Tangannya mengepal terlalu kuat. Sesekali ia akan mendongak merasakan gerimis yang jatuh lebih sering.

Tanah itu masih baru. Masih terlalu hidup untuk disebut tenang.

Angin ringan yang datang cukup membuat rambut basahnya sedikit bergerak juga membawa suara derap langkah seseorang. Langkah itu berhenti, tepat di belakang sampingnya. El enggan mencari jawaban. Ia menahan nafas untuk sedikit meredam isaknya.

MISALIGNED Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang