"Seberapa jauh seseorang boleh peduli sebelum itu berubah jadi sesuatu yang tidak seharusnya?" El selalu terlihat seperti jawaban. Tenang, rapi, dan seolah tidak pernah salah langkah.
Tapi manusia jarang sesederhana penampilannya.
Di balik sikapnya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━
Gerbang sekolah telah tertutup sempurna. Jam yang terpasang rapi di tangan gadis cantik dengan jepitan putih di sisi kanan rambut panjangnya ini, menunjukkan tepat pukul setengah delapan pagi. Seru-seruan anak SMAN Cassiopeia atau lebih sering disingkat SMANCA kini lebih ramai dari biasanya. Bel masuk berbunyi lima kali yang menandakan semua pelajar SMANCA harus berkumpul di lapangan.
Lapangan di SMANCA merupakan pusat sekolah ini. Di bagian barat terdapat perpustakaan besar, di sebelah selatannya ada ruangan olahraga, loker-loker siswa berada di sisinya, sedangkan bagian timur dan utaranya terdapat ruang kelas bertingkat, ruang TU, ruang guru, lab, dan UKS.
Semua siswa mulai berkerumun, Senin pertama di tahun ajaran baru diisi dengan penyambutan dan penerimaan siswa kelas sepuluh. Gadis dengan jepit rambut ini tersenyum ramah pada semua orang. Calla namanya. Tas medium baby blue terpasang rapih pada punggungnya, juga sebuah topi dan dasi identitas sekolah SMA-nya.
Ketika di bubarkan, semua siswa berjalan mencari kelasnya masing-masing. Nama yang tertempel pada jendela kelas di sebelah timur, kelas di bagian bawah menunjukkan namanya. Calla Miraille Afsana. Ia dengan cepat masuk untuk mencari tempat duduk.
Ramai. Itu satu kata yang bisa di deskripsikan. Kursi-kursi penuh, hanya tersisa dua meja dengan empat kursi, di bagian depan paling kanan dan di bagian paling belakang sebelah tengah. Tanpa pikir panjang, Calla menaruh tasnya di kursi sebelah tembok, mungkin nanti akan ada yang datang lagi.
Menit-menit berlalu. Calla masih melihat-lihat kelas yang akan ditempatinya, mungkin satu tahun kedepan. Suara pintu didorong, ada lima orang masuk dengan mengenakan almamater grey, dua perempuan dan sisanya anak laki-laki. Senyum-senyum ramah terukir pada raut wajah mereka. Calla menegakkan duduknya.
“Pagi.”
“PAGI.”
“Semangat yang bagus.” Itu bias suara anak laki-laki di posisi tengah. Rambutnya agak ikal, dengan kacamata bertengger di hidungnya.
“Jadi... sayang banget nih wali kelas kalian lagi berhalangan hadir, biar kami yang gantikan ya,” kata perempuan dengan hijab di kepalanya. Senyumnya merekah membuat dimple di pipi kanannya terlihat jelas.
“Biar kami juga yang mewakilkan kalian buat perkenalan, oke?” Itu saran dari anak laki-laki yang lain, warna kulitnya sedikit gelap tapi dengan tinggi yang sedikit lebih diantara anak laki-laki lainnya.