"Seberapa jauh seseorang boleh peduli sebelum itu berubah jadi sesuatu yang tidak seharusnya?" El selalu terlihat seperti jawaban. Tenang, rapi, dan seolah tidak pernah salah langkah.
Tapi manusia jarang sesederhana penampilannya.
Di balik sikapnya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━
Mesin motor dimatikan oleh pemiliknya. El mengangkat helmnya kemudian duduk berbalik saat Zeno yang ia bonceng sudah turun. Laki-laki dengan permen di mulutnya itu memilih duduk di motor samping milik El.
“Gimana perasaan lo?”
El mendongak. “Apaan? Sama lo?”
Zeno yang mendengarnya menggigit kuat permen di mulutnya. Bunyi krak kecil dari sana membuat Zeno mengangkat sedotan itu kemudian melemparkannya pada El. Kepala itu menunduk— membuang pandangannya, membuat sedotan itu tempat mengenai telinga lawan bicara Zeno.
“Gila,” sungutnya. Rambutnya yang berantakan terkena angin kini lebih berantakan karena gerakan bergidiknya. El mendengus bersamaan dengan kekehannya. Ia mengibas sedotan yang jatuh di atas celana abu-abu itu, bahunya masih bergetar.
“HAII JUNEDH!” Tasya yang baru datang melambai, mengaburkan suara kekehan pelan milik El.
“Lo ubah-ubah terus dah nama gua, padahal bagus,” sahut Zeno membuat Tasya mengerjap beberapa kali.
“Siapa nama lo?” Feli ikut andil walaupun jantungnya berdegup lebih kencang dari seharusnya.
“Zeno Akbar Mahendra. Kan bagus? Lo bisa panggil Zeno, Akbar, Mahen, Hendra, atau Ndra juga bagus—”
“Bagus juga Junaidi, Junedh, Julkipli, Juanda. Keren gitu nggak pasaran, ya nggak, Fel?” Tasya memotong. Ia mempraktekkan nama Juanda dengan u yang sangat tipis. Gadis berambut pendek itu menyenggol lengan Feli yang curi-curi pandang kearah El.
Ia refleks menoleh dan menemukan Zeno yang sedang melihat kearahnya. Feli membuang wajahnya, bukan karena Zeno melihatnya— tapi karena Zeno memergokinya tengah memperhatikan El.
“I-iya... Sya, ke kelas aja—”
“Kun-ti, liat cewek gua.” Kepala Zeno tersentak menunjuk Calla dengan dagunya. Gadis berjepit rambut itu baru turun dari mobil, persis seperti saat ia melihatnya bersama Manan. Calla tidak langsung merajut langkah masuk, gadis itu menunggu sedikit lebih lama.
Seorang pria bersetelan rapi— jas abu-abu dengan sweaterturtleneck di bagian dalamnya. Sweater yang memiliki garis berbentuk bulat dengan ribs panjang yang mendekati kerongkongan. Senyum pria itu terlihat jelas bagi siapa-siapa yang melihatnya meski hanya sekilas.
El juga.
Laki-laki yang tengah bersandar dengan meletakkan sikunya pada gas motor itu sejak tadi memperhatikan. Kepalanya sedikit jatuh tanpa sadar. Rambutnya bergerak sekilas karena angin.