misaligned ~25

102 35 66
                                        

━━━━━━━━━ ✢   ⟡   ✢ ━━━━━━━━━

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

━━━━━━━━━ ✢   ⟡   ✢ ━━━━━━━━━

“Pagi, Om,” sapa Zeno setelah turun dari motornya. Adam baru selesai melakukan peregangan di halaman rumahnya. Senyumnya tersungging. Tangan kirinya masih lurus dengan tangan kanan yang menarik— menahannya.

“Pagi, Zen.” Adam berdehem singkat.

Zeno mendesis. “El ada?”

“Ada, di dalam. Temenin gih, dari kemarin dia turun kalau mau aja.” Zeno sedetik mengalihkan pandangannya, kepalanya bergerak naik turun perlahan. Adam bergeser sedikit. Kakinya terangkat, lututnya ia tempelkan pada perut. “Sana,” perintah Adam. Kepalanya tersentak kearah samping.

“Hehe, masuk ya, Om.” Zeno membungkuk sebentar kemudian mulai merajut langkahnya untuk masuk.

“EL!” Kepalanya bergerak kesana kemari. Adam sempat menoleh kebelakang, pria itu terkekeh, padahal Zeno baru berada diantara pintu depan. Langkah Zeno masuk lebih dalam. Ruang tamu kosong. Zeno mendongak sedikit. Ia menarik nafas sebentar kemudian menahannya. “EZRA KAEL ADITYAN! WHERE ARE YOU?!

“BERISIK BEGO!”

Netra Zeno yang sempat terpejam mengerjap pelan. Senyum bangganya terukir ketika menemukan El berdiri di lantai atas— berpegangan pada pagar pembatas. Laki-laki bermata sipit itu berjalan menuruni tangga. Langkahnya lebih pelan, bahunya masih belum setegak sebelum hari kemarin.

Zeno menyambutnya di ujung tangga. Badannya membungkuk. Tangan kiri berada di belakang tubuhnya, sebagian lain berputar sebentar dan kemudian berhenti. Telapak tangannya menengadah. “Pangeran tidur Ezra Kael Adityan—AHH IYA IYA! KAGAKK!!”

Zeno berdiri tegak setelah El melepaskan cengkraman pada rambutnya. Bisa-bisa laki-laki berkulit pucat itu akan menjambaknya jika ia terus melanjutkan kegiatannya tadi. Meledaknya. “Ngapain si lu anaknya Mahendra?"

“Mau ngajak main PS, yok!”

“Nggak ah—”

“Halah, lu takut kalah ya?” Ujung bibir Zeno naik lebih jelas dari sebelumnya. El mencibir. Langkahnya terajut menuju dapur dengan Zeno yang membuntuti di belakangnya.

“Ngaco,” katanya. Tangannya bergerak membuka kulkas, mengambil sebotol air dingin dari sana. El sedikit membungkuk untuk meraih gelas setelahnya menuangkan segelas kedalam sana. Ia menarik kursi, duduk, kemudian mulai menenggak air dinginnya.

“Jelek lo, El.”

El mematung sejenak.

Jelek kamu, ja,

Ia menoleh. “Makan boy, hidup butuh makan, makan butuh hidup, orang ma—” Zeno berhenti. Bukan menjeda, tapi berhenti sepenuhnya. “Kalau nggak makan nanti... Orang makan—bodo ah pokoknya lo harus makan.” Setelah sedikit bergumam tidak jelas, Zeno akhirnya menarik kursi tepat di sebelah El.

MISALIGNED Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang