"Seberapa jauh seseorang boleh peduli sebelum itu berubah jadi sesuatu yang tidak seharusnya?" El selalu terlihat seperti jawaban. Tenang, rapi, dan seolah tidak pernah salah langkah.
Tapi manusia jarang sesederhana penampilannya.
Di balik sikapnya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━
Karena kelas yang tadinya berantakan kini sudah kembali rapih, banyak yang menukar-nukar tempat duduk mereka. Calla akhirnya mendapat tempat di baris kedua, dan di sebelah mejanya adalah tempat Tasya dan Feli.
Tak berapa lama, seorang laki-laki masuk. Perawakannya seperti El tapi matanya tidak sesipit laki-laki itu, dan dia persis mengambil tempat di samping bangku Calla. Mereka satu meja.
“Eh?” Calla bertanya, pasalnya kemarin anak itu tidak ada.
“Gue Zeno, gue duduk di sini nggak apa-apa kan?”
Calla yang bingung mengangguk saja. Gadis ini memilih duduk di tempatnya, bel masuk baru saja berbunyi.
“Kamu kemarin nggak ada ya?”
Zeno menoleh. Netranya menatap netra bening Calla, dengan suara halusnya, Zeno merasa di sihir sejenak sebelum setelahnya ia bergumam singkat. “I-iya. Kemarin gue masih di rumah lama gue.”
Zeno juga tersenyum menyambut uluran tangan Calla. “Iya gue tau.”
“Ha?”
Zeno gelagapan. “Maksudnya, El udah ngasi tau,” sahutan cepat Zeno kembali membuat Calla mengernyit. “Ah, lupain-lupain.” Jabatan tangan mereka terlepas. Calla terkekeh singkat sedangkan Zeno merasa wajahnya panas, mungkin sekarang telinganya merah padam.
“Kamu yang tadi berangkat sama dia ya?”
“Yap benar.”
“Kalian deket?”
“Ha?”
“Maksud aku, kalian udah temenan lama?”
“Oh, El itu sahabat gue.”
Calla terlihat kaget. Zeno yang menyadari perubahan ekspresi wajah Calla terkekeh ringan. “Gue temen kecilnya, yaa nggak dari kecil banget si, tapi kita gede bareng,” sambung Zeno. Calla akhirnya menganggukkan kepalanya. “Lo ada ngerasa sesuatu?”
“Sedikit, dia keliatan pendiem.” Calla merubah posisinya menghadap Zeno sempurna. Sepertinya jam pertama akan kosong.
“Iya, dia agak pendiem sejak Mama dia nggak ada, dia jadi keliatan mendem semuanya Sendirian.” Zeno sedikit mengembuskan nafasnya. Topik-topik di kepalanya bermunculan, seolah ingin terus mendengar suara lembut yang mengalun dari bibir Calla. “Dia juga jarang ngomong, kadang-kadang si, tapi dia selalu usaha dan itu yang sering banget buat dia kehabisan tenaga. Anaknya jadi ngantukan.”
Calla terkekeh kecil. Bahunya agak bergetar, rambutnya juga sedikit berayun. Matanya menyipit walau tidak banyak, dan gigi kecilnya terlihat jelas. Zeno menikmati pemandangannya.