"Seberapa jauh seseorang boleh peduli sebelum itu berubah jadi sesuatu yang tidak seharusnya?" El selalu terlihat seperti jawaban. Tenang, rapi, dan seolah tidak pernah salah langkah.
Tapi manusia jarang sesederhana penampilannya.
Di balik sikapnya...
baca pelan-pelan aja yaa yang lagi cape aku saranin baca besok aja yap, take ur timee
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━
Perpustakaan memang bukan tempat yang sering dikunjungi siswa terutama ketika jam kosong. Tempat itu tidak akan jadi tujuan utama dengan pengecualian seseorang yang rajin, pintar, atau yang mencari tenang, seperti Calla. Ia hanya melihat tiga orang di dalam sana dan dia adalah salah satunya.
Suara AC lebih keras dari yang pernah Calla dengar. Duduk di meja di bagian sudut ruangan membuat pikirannya leluasa bepergian. Buku tebal yang terbuka tergeletak di atas meja tanpa benar-benar dilirik. Tangannya hanya menggenggam pulpen yang masih tertutup— menggerakkannya memutar di atas meja dengan berulang.
Jam kosong kurang lebih tiga Minggu lalu, tidak tepat, tidak di hari yang sama, tidak di jam yang sama juga, membuatnya mengerti sesuatu. Bagain paling seru adalah menonton dan bagian paling menyebalkan adalah ditonton. Bukan trauma hanya— antisipasi. Jika separuh manusia bisa percaya hal yang ia lihat setengah maka separuhnya akan percaya pada antisipasi.
Pikirannya berkeliling sebelum sedetik lalu ada yang menarik kursi di depannya. Suara gesekannya kecil tapi mampu membuat Calla mendongak. Orang itu duduk tanpa izin seolah seperti itu hal yang tidak penting. Perpustakaan bukan milik gadis itu.
Meski dia mengganggunya.
Calla mengernyit. Kepalanya yang tadi bersandar pada dinding seketika tegak. “Tempat lain masih banyak,” katanya, netranya menatap laki-laki asing yang memiliki bekas luka di samping mata sebelah kirinya.
Tapi pernyataan itu tidak penting. Rayden tidak langsung menimpali. Matanya berkeliling pada rak buku seperti sedang mencari sesuatu. Duduknya bersandar yang kalau dilihat, dia bukan kebetulan duduk tapi memang yang mengincar tempat itu sejak tadi.
Ia berdehem ketika matanya bergulir dan berhenti di— Calla. “Lo sering di sini?”
Terdengar acak.
“Kenapa?” Tepat setelah pertanyaan itu jatuh, netra mereka bertemu. Ada bagian aneh. Sesuatu yang rasanya tidak nyaman. Calla bukan takut, tapi tatapan orang itu— dengan name tag bertuliskan Rayden, seperti tengah melihatnya sebagai barang lama. Lama dalam artian tidak asing. Lama yang maksudnya ia sudah kenal bahkan sampai detail kecil.
“Ya.. nanya aja sih.” Nafasnya terhembus. Rayden terbatuk kecil ketika ujung bibirnya ditarik.
Hening sebentar.
Entah sejak kapan Calla fokus pada buku yang terbuka itu. Tapi pertanyaan acak selanjutnya membuatnya mematung sebelum tatapannya menyelidik.