"Seberapa jauh seseorang boleh peduli sebelum itu berubah jadi sesuatu yang tidak seharusnya?" El selalu terlihat seperti jawaban. Tenang, rapi, dan seolah tidak pernah salah langkah.
Tapi manusia jarang sesederhana penampilannya.
Di balik sikapnya...
karena udah berantakan hehe aku berantakin sekalian aja yaa biar beresinnya sekalian juga🤌🏻😋 (aduh) enjoy your reading💞💞
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━
Cahaya matahari baru terasa menghangat ketika Selatan menginjakkan kakinya pada kawasan sekolah yang masih sepi. Ia melirik arlojinya sebentar untuk memastikan sesuatu yang lain yang ia rasa tidak beres dan matanya berkeliling lagi. Aula masih kosong masih setengah siap tapi Selatan rasa itu belum siap sama sekali.
Kursi masih di tumpuk di sisi kanan— bagian yang dekat dengan tembok pembatas lingkungan sekolah. Masih terikat, rapi dan terlihat belum banyak diubah dari semenjak benda itu disitu. Kabel berserakan, memang tergulung tapi tempatnya berantakan. Ada yang di sudut, ada yang di dekat kursi dan ada yang menumpuk di samping panggung aula.
Panggungnya belum siap sama sekali.
Suara orang-orang bercampur— bagian dari mereka-mereka yang masuk kedalam organisasi dan ikut menjadi panitia acara Cassiopeia tahun ini. SPECTRUM : Where Colors Collide. Yang datang dengan cara yang sama setiap tahunnya— ramai, berwarna dan penuh suara yang saling bertabrakan tanpa benar-benar menyatu.
Homeschooling bukan alasan hingga Selatan tidak tau acara itu yang setiap tahun sengaja diadakan dan berhasil menjadi ciri khas sampai sekarang. Tapi kali ini berbeda. Kerangkanya bahkan belum terlihat jika acaranya akan berlangsung seminggu lagi.
Suara-suara bercampur dengan panitia lain yang ikut berjalan tak tentu arah seolah jika begitu sesuatu di hadapan mereka akan 'selesai'.
“Eh! Ini backdrop siapa yang pegang sih?!”
Seruan dari atas membuat Selatan mendongak. Cahaya silau matahari yang mulai merambat yang sebagian tertutup daun dari pohon tinggi langsung menyambut netranya. Ia menyipit. Tangannya masuk ke dalam saku celana. Postur seseorang yang masih mengamati.
Gadis dengan rambut diikat setengah membawa banyak kertas-kertas yang tempat menumpuknya tidak presisi— berjalan menghampiri gadis lain yang berdiri tidak jauh dari Selatan. “Belum ada konfirmasi katanya nunggu ACC—”
“ACC dari siapa lagi?!” Itu suara anak lain. Laki-laki yang baru keluar dari ruangan OSIS dengan tas yang masih digendong.
Selatan berdiri di tengah itu semua.
Suasana chaos kecil itu belum mereda meski jam sudah menunjukkan pukul enam kurang dimana siswa-siswi pasti akan mulai berdatangan. Sisa embun masih menempel pada rumput yang sengaja ditanam mengelilingi lapangan membuat sepatu-sepatu yang menginjaknya basah dan kotor bersamaan.