"Seberapa jauh seseorang boleh peduli sebelum itu berubah jadi sesuatu yang tidak seharusnya?" El selalu terlihat seperti jawaban. Tenang, rapi, dan seolah tidak pernah salah langkah.
Tapi manusia jarang sesederhana penampilannya.
Di balik sikapnya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━
Gerbang sekolah sudah setengah tertutup ketika Tasya muncul di ujung jalan. Ia sempat membungkuk dengan tangannya yang bertumpu pada lutut sebelum setelahnya berlari kecil. Tas yang ia gendong beberapa kali memantul membentur punggung karena gerakannya.
“Pak, bentar.”
Satpam yang hendak menutup setengah gerbang lagi berhenti sebentar. Matanya menatap sekilas dengan tangan yang masih menggenggam besi tinggi itu. “Telat kamu,” katanya.
Tasya sedikit memukul bagian dadanya yang agak sesak. Nafasnya masih naik turun tidak beraturan membuatnya beberapa kali memejamkan mata. “Baru sekali doang pak,” celetuk Tasya sambil menerobos masuk sebelum celah itu benar-benar tertutup. Ia membungkuk lagi untuk sebentar.
Langkahnya melambat begitu sampai di dalam. Nafasnya naik kemudian menahannya sedikit. Tangannya berpindah pada bagian belakang leher, mengusapnya pelan sebelum melangkah mendekati gedung sekolah.
Halaman sekolah tidak seramai biasanya. Sebagian anak sudah masuk ke dalam kelasnya masing-masing. Mungkin yang mendapat jadwal olahraga sedang ada sedikit materi sebelum benar-benar turun ke lapangan. Beberapa siswa masih terlihat berlari kecil, mungkin sama dengan Tasya. Bel masuk sudah lewat hampir lima menit.
Koridor kearah kelasnya lebih sepi dari halaman. Pintu-pintu kelas di tutup. Tasya berhenti di depan kelasnya, merapikan rambutnya sekilas sebelum menghembuskan nafasnya pelan. Tangan ragunya terangkat mengetuk pintu kelas di depannya.
“Masuk.”
Seruan dari dalam membuat Tasya menurunkan knop pintu secara perlahan. Pintunya di buka sedikit.
“Maaf telat.” Jari-jarinya bertaut di depan tubuhnya. Tidak ada alasan tambahan. Guru itu hanya melirik jam dinding lalu kemudian mengangguk tipis.
“Duduk.”
Ia membungkuk sekilas. Langkahnya tidak membuat banyak suara. Beberapa kepala menoleh kearahnya termasuk Feli yang langsung menampakkan ekspresi tanya di wajahnya.
Tasnya ia jatuhkan pelan bersamaan dengan gerakan duduknya. Ia meraih buku dari dalam sana. Matanya tidak langsung mengarah pada guru di depan tapi bergeser kearah samping.
Calla duduk seperti biasa, tenang, dan tidak banyak bergerak. Rambutnya jatuh rapi seolah memang begitu seharusnya. Ia menatap sedikit lebih lama. Zeno yang duduk di samping gadis berjepit rambut itu sesekali melirik seperti menjaga sesuatu yang berharga, yang tidak boleh hilang.
Setelah merasa cukup, ia memalingkan pandangannya ke depan. Pulpen di tangannya ia genggam lebih kencang dari biasanya. Benda itu bergerak di atas buku. Garisnya tidak benar-benar terbaca karena di tekan terlalu kuat.