"Seberapa jauh seseorang boleh peduli sebelum itu berubah jadi sesuatu yang tidak seharusnya?" El selalu terlihat seperti jawaban. Tenang, rapi, dan seolah tidak pernah salah langkah.
Tapi manusia jarang sesederhana penampilannya.
Di balik sikapnya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━
Suara-suara sendok beradu dengan piring mengisi keheningan di meja makan. El mendongak singkat menunggu patahan kalimat yang mungkin akan di sampaikan salah satu orang tuanya.
“Kamu sekolah sampai sore?” Tanya Tania-istri ayahnya itu. Wanita yang masih cantik di umurnya yang sudah menginjak kepala empat.
“Iya,” jawab El singkat.
Suasana kembali hening. Ayah El-Adam tengah menggenggam segelas air. Pakaiannya lebih berantakan dari biasanya.
Suasana canggung menghampiri mereka. El sadar semalam orang tuanya sempat berdebat. Pintu kamar mereka tidak pernah benar-benar kedap, bahkan beberapa kalimat seperti “bertahan kayanya bukan lagi jadi solusi.” Garis besar yang akan terjadi kemudian.
Selesai dengan sarapannya, El berjalan kearah ruang tamu. Mengambil kemudian memakai sepatunya perlahan. Suara pantofel mendekat dan tanpa menoleh ia sudah tau siapa yang datang.
“El?”
“Mhn?” El yang tengah menyimpul sepatunya berhenti sejenak. Kepalanya tidak menoleh, netranya tetap menunggu laki-laki dewasa itu melanjutkan kalimatnya.
“Kamu berangkat sekarang?” Adam menjeda.
“Iya.” El mengangguk kecil melanjutkan kegiatannya. sudut bibir El terangkat ketika salah satu pantofel Adam mengetuk-ngetuk lantai seperti sedang menahan sesuatu.
“Semalam... Kamu dengar?”
El tidak langsung menjawab. Ia menegakkan tubuhnya setelah sepatunya terpasang, berdiri tepat di depan ayahnya yang sekarang terlihat seperti pengecut. “Dengar apa?”
“Suara ribut.”
“Biasa.”
Adam tersenyum tipis, matanya setengah sayu. “Nggak biasa, El.” Sunyi sejenak, netra Adam seperti menyiratkan jika El tidak boleh menjadi seperti dirinya. “Ayah sama Mama lagi mikir, mungkin kita butuh jalan masing-masing,” sambung Adam. Nafasnya terhembus pelan.
El tidak langsung menanggapi. Tangannya bergerak merapihkan tali tas di pundaknya. “Udah diputusin?”
“Belum, tapi bertahan juga bukan solusi.”
Serius. El mengangguk kecil. Lucu. “Kalau dari awal tau nggak bisa bertahan, kenapa dipaksain?” El membuang pandangannya. Kalimat itu akhirnya keluar juga dari mulutnya.
“Nggak semua orang tau arahnya bakal kemana,” jawab Adam pelan. “Kadang orang cuma yakin di awal.”
Ia mengangguk kecil. “Terus?”
“Ayah cuma nggak mau kamu mikir hubungan itu cuma soal siapa yang kuat nahan lebih lama.”
“Yahh, atau soal siapa yang nyerah duluan kan?” El menatap lurus ke depan. Pagi ini Adam berhasil membuat dirinya tidak sopan pada ayahnya sendiri. Kaki jenjangnya melangkah, tangannya menyambar kunci yang berada di meja. “El berangkat.”