misaligned ~28

101 31 83
                                        

━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━

Pintu pagar berdecit pelan ketika ada yang mendorong dari luar. El baru selesai memutar kunci motornya. Gerakan kakinya yang hendak menyebrangi motor itu berhenti sedetik sebelum setelahnya ia benar-benar berdiri. Tubuh tegapnya berbalik dengan tangan kiri yang masih membawa sebuah helm.

El urung melangkah setelah ia melihat siapa yang datang. Rompi orange di tubuhnya terlihat mencolok. Sebuah sarung tangan yang terlihat begitu tebal juga terpasang rapi pada jari-jarinya. Sebuah masker dan setitik tanda bekas luka di samping mata sebelah kirinya.

“Rumahnya... beda.” Matanya menyapu. Sesekali ia akan mendongak, menatap El kemudian kembali menatap bangunan di belakang tubuhnya. Dia meletakan sebuah bak yang dibawanya. Matanya memaku, membesar. “Gue kira... lebih rame.”

El sebentar menoleh pada bangunan tempat tinggalnya sekarang. “Nyari siapa?”

“Gue liat dulu aja.”

El sedikit memiringkan kepalanya. Topi itu sedikit menghalangi tebakannya. Ia memperhatikan, bukan wajahnya, tapi cara bicaranya.

“Tempatnya beda,” jeda itu ia gunakan untuk masuk lebih dalam. Tubuhnya berdiri di antara pagar dan halaman rumah El, seperti sedang menjelaskan bahwa dirinya bukan kebetulan lewat. “Lebih tenang—”

“Kalau nggak ada urusan, nggak usah lama,” El memotong.

Laki-laki itu terkekeh. Tangan yang tadi bertumpu pada bak besar itu beralih menarik turun maskernya. Cukup untuk membuat El bergeming sepersekian detik. Matanya berotasi malas seolah sudah menebak reaksi El yang tidak kaget berlebihan, dan tidak benar-benar tidak mengenalnya. “Masih sama,” ujarnya pelan. “Cepet nyuruh orang pergi” setelahnya decihan remeh keluar. “Di sini... enak ya? Lebih enak dari sebelumnya?”

Kepala El tersentak dengan rahang yang mengeras tanpa sadar. Kalimat putus-putus itu terlalu melekat padanya. Terlalu kenal untuk pura-pura tidak. “Simpen bacotan sampah lo dan nggak usah repot dengan jauh-jauh dateng---”

“Jauh?” Kepalanya miring sesaat. “Perasaan dulu... lo yang ninggalin.” Dia berdehem singkat seolah ingin memecah atmosfer yang terlalu tegang. Sesuatu yang terbalut sarung tangan itu bertaut— berpangku di belakang tubuhnya yang bersandar pada pagar. “Bener nggak sih?” Alisnya yang mengernyit melemas karena senyumnya terbit. “Semudah itu buat lo?”

El menarik nafas, bahunya naik— terlalu naik untuk saat ini. “Lo nggak tau apa-apa—”

“Tau kok.” Wajah itu di buat semeyakinkan mungkin, kepalanya mengangguk beberapa kali. “Gue cuma belum... bilang.”

MISALIGNED Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang