"Seberapa jauh seseorang boleh peduli sebelum itu berubah jadi sesuatu yang tidak seharusnya?" El selalu terlihat seperti jawaban. Tenang, rapi, dan seolah tidak pernah salah langkah.
Tapi manusia jarang sesederhana penampilannya.
Di balik sikapnya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━
“Lo kenapa deh, Kal?” Feli mendaratkan tepukan pelan pada bahu gadis di sampingnya. Calla sedikit terperanjat, kepalanya menoleh kaget.
“Eh, kenapa?” Langkahnya sedetik terhenti sebelum kesadarannya terkumpul.
“Lo ngelamun.”
Ngelamun?
“Ada yang lo pikirin?” Tasya berpindah dari samping Feli menjadi di samping Calla. Gadis berjepit rambut ini sekarang berada di tengah dua temenannya.
Ia tersenyum simpul. “Nggak—”
BRAKK
Aaw
“Astaga, maaf—” ia menjeda. Untung saja reflek laki-laki yang menabrak Tasya sedikit cepat. Minuman yang seharusnya mengenai baju gadis itu, sudah tumpah lebih dulu — jatuh. Calla bergeser sedikit.
Selatan hampir berjongkok untuk membersihkan sepatu gadis yang tidak sengaja ia injak, sampai Tasya menahannya lebih dulu. Kedua tangannya menetap, mencengkram seragam Selatan dibagian pundak. “Gue minta maaf, itu kotor—”
“Lo nggak harus bersihin kayak gitu di depan umum, kak.”
Selatan beralih berusaha mencari cara lain. Tangannya sebentar menyugar rambut. Matanya sempat berkeliling seolah mencari sesuatu yang bisa ia lakukan. “Pakai sepatu gue aja gimana? Gue bayarin jasa cuci sepatu lo dulu, nanti pulang gue anter,”
“Nggak—”
Tangan laki-laki itu terulur membuat Tasya menatap tangan dan wajah Selatan bergantian. Ia menerimanya. “Gue Selatan, anak sebelas IPA satu, lo boleh cari gue kalau sampai pulang sepatu lo belum balik.”
Tasya mengangguk kikuk. Mulutnya sempat terbuka sebelum terhenti melihat aksi Selatan. Laki-laki itu melepas sepatunya dan menaruhnya tepat di depan kaki kecil Tasya. Feli dan Calla menyimak agak jauh membuat interaksi itu benar-benar milik Tasya dan Selatan. “Lepas sepatu lo,” pintanya.
“Ah iya.” Tasya berjongkok kemudian melepas sepatunya dengan tangan sedikit gemetar. Ia mendongak, melihat Selatan yang mengulurkan tangannya.
“Sini,” ujarnya. Tasya menggeleng.
“Pegang talinya aja.”
“Nggak sopan.” Selatan meraihnya saat Tasya baru memberikan setengah. “Gue duluan ya, maaf banget,” laki-laki itu berujar, belum berlalu sampai Tasya benar-benar berdiri dan mengiyakan.
“Kak, gue sorry juga.”
Kepalanya mengangguk. “Kalau kaki lo kenapa-kenapa, bilang ke gue. Kalau gue belum balikin, lo susul aja ya. Hati-hati—” Selatan menjeda, ia mengangkat sepatu Tasya yang sudah digenggamnya. “Gue duluan.”
Selatan berlalu dengan kaos kaki putih setumitnya. Tasya berbalik memperhatikan bagaimana Selatan terlihat tidak keberatan sama sekali. Kemudian beralih pada sepatu kebesaran yang sekarang ia kenakan. Felicia cekikikan membuat Calla sedikit mendongak menatap gadis di sampingnya.
“Cie, gue yakin habis ini dia bakalan jadi crush lo.”
Tasya menghentakkan kakinya dengan sepatu kebesaran milik Selatan. Ia tersenyum lebar hingga deretan giginya nampak. “Untung kaki gue keinjek, tapi sakit sih, tapi keinjek!” Ringisan kecil sesekali keluar dari mulutnya. Kalau diperhatikan, laki-laki tadi memang agak dalam menginjak kakinya.
Calla terkekeh, matanya sempat mengikuti arah kemana laki-laki tadi pergi. Bukan karena siapa, tapi karena caranya.
“Maaf.” Mata lentik itu langsung bertemu dengan pandangan Calla. Dirinya meringis kecil. Kedua tangan laki-laki itu beralih pada kepala Calla, salah satunya menahan dan sebagian lainnya digunakan untuk mengusap pelan kepalanya. “Maaf maaf.”
Calla mengangguk, keningnya masih terlipat. “Udah baikan?”
“Enggak.” Ia tersenyum. Pandangannya sempat turun kearah sepatu Tasya yang terasa asing.
━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━
Bel pulang sudah hampir berbunyi membuat halaman belakang sekolah semakin sepi. Selatan duduk di salah satu kursi panjang dekat dengan pohon besar. Bayangannya menutupi matahari yang mulai condong kearah barat. Kakinya terangkat satu, berpangku pada salah satunya lagi. Ujung kaos kakinya menyentuh samar ujung rumput yang hangat.
Sepatu yang ia bawa di letakkan begitu saja di sampingnya. Sudah lebih bersih, warnanya sudah lebih putih tanpa noda kotor tadi. Ia menatapnya sebentar kemudian mengalihkan pandangannya.
Tangannya memutar botol minum yang isinya sisa separuh. Tanpa diminum, hanya menelusuri, memutarnya berulang. Pikirannya lebih dari sekedar halaman belakang sekolah.
Aneh.
Ia lebih sering merasa kejadian seperti tadi akan lewat begitu saja. Tabrakan tidak sengaja, minta maaf, tanggung jawab dan selesai. Tapi kali ini tidak.
“Orang aneh,” katanya pelan. Lebih seperti gumaman untuk dirinya sendiri. Selatan berhenti sebentar dengan kegiatannya. Kepalanya memutar ulang kejadian hampir empat jam lalu. Bukan pada gadis yang sepatunya ia pinjamkan. Bukan juga yang rambutnya paling panjang. Tapi yang satunya.
Selatan menegakkan duduknya, memutar ulang lagi. Bukan kejadian tabrakan tadi. Tapi pada tempat lain. Langit hujan, bau antiseptik yang menyengat. Dan seseorang yang berjalan hati-hati tapi bisa terantuk sikunya.
Alisnya mengerut tipis. “Beneran pernah liat ya?” Tapi tidak ada rasa ingin menjawabnya sama sekali.
Selatan bangkit, membawa serta sepatu putih yang sudah kering di tangannya. Berjalan santai seperti tidak terjadi apa-apa. Seperti tidak pernah merasakan sesuatu yang seharusnya asing, tapi tidak begitu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━
makin lama makin kerasa banget pendek'nya huhuu༎ຶ‿༎ຶ tapi yaaa yauda dehh minal aidzin wal faidzin yaaaaa selamat menyambut hari raya idul fitri buat yang melaksanakan, naa minta maaf juga kalau ada salah okayy?
salam toleransi yaa met baca, enjoyyy tandain typo mwah😚