misaligned ~32

82 26 111
                                        

━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━

Calla menggenggam sedotan yang ia putar berulang pada gelas minumannya. Punggungnya tegak dengan kaki kanan yang berpangku pada kaki kirinya. Kafenya tidak begitu ramai tapi cukup menenggelamkan suara-suara asing selain sebuah musik yang tengah ditampilkan.

Dinding depannya kaca, membuat orang-orang di luar bisa melihat dengan jelas. Orang masuk, duduk, bahkan air muka jika ia cukup dekat.

Suara lonceng kecil berbunyi setiap seorang masuk, Calla mendongak. Mejanya yang dekat dengan pintu membuatnya tidak harus berbalik badan untuk tahu siapa yang datang.

Selatan masuk dengan cara jalannya yang tenang. Tatapannya langsung menemukan Calla tanpa harus mencari lebih dalam. Laki-laki dengan sweater putih itu menerbitkan senyumnya sedetik sebelum pertanyaannya keluar.

“Nunggu?”

“Enggak.” Kepala Calla bergerak ke kiri dan kanan beberapa kali.

Hening sebentar.

Pelayan perempuan dengan apron hitam menghampiri meja mereka ketika Selatan mengangkat tangannya. Ia menyebutkan beberapa pesanannya dan melirik Calla sekali. “...sama es krim yang rasa cookies and cream, dua.”

Pelayan itu mengangguk setelah alat tulisnya beberapa kali bergerak di atas kertas kecil. “Di tunggu ya kak.”

Selatan mengangguk kemudian bergulir kearah Calla setelah pelayan itu benar-benar pergi. Tatapan keduanya sempat bertemu membuat rasa familiar itu berubah jadi sesuatu yang lebih nyaman.

“Kal, lo harus cobain sih es krimnya, gue pesen dua buat lo satu.” Kepala Calla bergerak turun sekali.

“Selamat ya Kak, buat OSIS tadi.”

Haha... thanks, gue penasaran lo tadi nyoblos siapa.”

“Netral.”

“Hah? Yang nggak sah tadi itu punya lo?” Alis Selatan naik membuat Calla menahan senyumnya sedetik. Gadis itu terkekeh hingga bahunya bergetar dan Selatan tahu kalau sekarang ia tengah di tertawakan. “Lucu, Kal?”

“Dikit.”

Selatan berdecih kemudian membuang pandangannya. Bibirnya terlipat sangat sebentar untuk bisa di tangkap. Suara kursi yang sedikit di geser membuat Selatan menoleh lagi. Kali ini pelayan laki-laki yang datang dengan membawa pesanannya tadi. “Mas Selatan? Pacarnya?”

MISALIGNED Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang