"Seberapa jauh seseorang boleh peduli sebelum itu berubah jadi sesuatu yang tidak seharusnya?" El selalu terlihat seperti jawaban. Tenang, rapi, dan seolah tidak pernah salah langkah.
Tapi manusia jarang sesederhana penampilannya.
Di balik sikapnya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━
Angin sore mulai menyapa, menyapu jalan dan dedaunan yang sesekali berada di samping kemudian berpindah dari tempatnya. Ujung rambut Calla ikut menari tak tentu arah. Sebagian akan menghalangi pandangannya, sebentar kemudian rambut-rambut itu akan menempel pada pipinya. Calla mendongak, menyingkirkan rambut itu dengan jarinya. Kepalanya menggeleng kecil.
Tasya sesekali bersenandung pelan. Mood gadis berambut pendek itu tengah sangat baik. Senyumnya sedari tadi belum surut. Felicia kadang akan terkekeh. Kuncir kudanya akan berayun sering langkah semangat Tasya yang menggandengnya.
Jalanan di depan tidak benar-benar kosong. Mobil, angkot, atau motor tak jarang akan melintas, meninggalkan sisa angin yang tercampur aduk.
Tasya menoleh singkat. “Gue masih nggak nyangka sih,” katanya. Kakinya menghentak pelan ke aspal. “Dia baik banget! Maksud gue, siapa sih yang bakal langsung lepas sepatu di depan umum kayak gitu?!”
“Yang lagi pengen sok keren,” Feli menimpali. Alis dan ujung bibirnya terangkat, menciptakan wajah menyebalkan di depan Tasya.
“Ihh apaan sih!” Tapi sedetik kemudian senyumnya terukir. Matanya ikut berbinar sambil sesekali menggoyangkan lengan Feli yang ia gandeng. “Keren emang.” Jari-jarinya menutup mulut ketika tawanya hampir keras. Calla terkekeh, hanya sekedar ikut andil berekpresi pada cerita Tasya. Kebetulan mereka akan pulang bersama. Tasya mendadak bersemangat berjalan kaki padahal jarak rumahnya dengan sekolah agak jauh. Katanya hitung-hitung pemanasan kalau motor Feli mogok lagi.
“Naik bus aja.” Feli mengangguk sambil tertawa.
“Sok-sokan sih.”
Ketiganya berhenti hampir bersamaan. Tasya dan Feli duduk sedangkan Calla memilih berdiri, bersandar pada tiang halte. Tangannya tertaut, berpangku di depan tubuhnya. Matanya tidak selalu mengarah pada Tasya dan Feli. Sesekali hanya mengikuti kendaraan yang melintas di depan mereka.
“Cie...” Feli mencolek kecil lengan Tasya. “Baru keinjek langsung jatuh hati,” sambungnya. Kekehan menyusul bersamaan dengan alis Tasya yang terangkat.
“Bukan jatuh hatiii, ini takdir.”
“Takdir apaan?”
“Ya takdir kok.” Entah, Calla hanya menyimak. “Padahal gue maunya sepatu gue masih di dia biar besok bisa ketemu lagi.”
Bel pulang berbunyi nyaring. Guru biologi yang ditunggu pelajarannya selesai akhirnya membereskan buku-bukunya. Senyum terpaksa terlihat jelas di wajahnya. “Sampai ketemu Minggu depan,” pamitnya. Suara duk duk sepatu pantofel mengiringi langkahnya. Felicia menggendong tas— berdiri.