"Seberapa jauh seseorang boleh peduli sebelum itu berubah jadi sesuatu yang tidak seharusnya?" El selalu terlihat seperti jawaban. Tenang, rapi, dan seolah tidak pernah salah langkah.
Tapi manusia jarang sesederhana penampilannya.
Di balik sikapnya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━
Dinginnya angin malam menembus seragam sekolah milik El. Dirinya benar-benar tidak menemui Calla setelah kejadian hampir tertabraknya gadis itu. El memilih mencari siapa biang masalahnya sekarang.
Motornya melaju cepat membelah padatnya jalanan kota sampai pada sebuah gang-gang kecil perkampungan. Ia berhenti pada sebuah bangunan yang hanya berbentuk persegi, temboknya penuh coretan tangan jahil entah milik siapa.
Dari arah seberang terdengar tawa renyah. Lebih seperti kekehan yang penuh kemenangan. Laki-laki itu seperti sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia dengan sengaja menyenggol bahu El yang sejak tadi diam memperhatikan. Di wajahnya masih tersisa seringaian sisa kekehan barusan. Bukan dari bibirnya, dia memakai sebuah masker, tapi dari matanya yang melengkung tipis.
“Lo pikir gue bakal diem aja?” tanyanya. Laki-laki berbalik begitu juga El. “Minggir.”
“Lo masih hobi kabur ternyata.”
Dorongan itu terjadi bukan yang keras tapi cukup membuat El mundur satu langkah. El refleks memegang jaket laki-laki di depannya.
“Jangan sentuh gue,” gumamnya sambil menatap nyalang. El menyeringai, kali ini giliran dirinya yang mendorong cepat membuatnya langsung kehilangan keseimbangan. Tumit laki-laki itu tergores aspal. Hanya sebentar setelah kemudian kembali bangun.
Tinju yang coba dilayangkannya gagal, pergelangan tangannya terkunci. Tatapan mata mereka sama-sama bertemu. Nafas keduanya memburu bersamaan.
“Udah.” Itu suara El. “Ini nggak ngubah apa-apa.”
Laki-laki itu melepaskan cekalannya. “Lo yang mulai,” desisnya.
Tinju pertama tanpa aba-aba dan berhasil mengenai pipi El, kepalanya tertoleh kesamping. Laki-laki ini langsung merasa telinganya berdengung.
“Masih sok kuat? Padahal dari dulu juga beraninya di belakang,” celetukan itu terdengar setelahnya di susul oleh kekehan meremehkan.
Tapi El masih sadar. Bagian sikunya langsung menyambar rahang laki-laki di depannya, situasi berbalik. Kali ini dia yang mundur.
“Lo pikir gue lupa?” Netranya memerah, masker itu bergerak naik turun seolah seperti menghadang sebagian oksigen yang seharusnya masuk. Laki-laki itu terlihat menahan sesuatu. “Lo ninggalin gue waktu semuanya berantakan. Pengecut!”
Bugh
Tinju berikutnya mendarat di perut El. Ia limbung tapi tidak sampai jatuh, hanya lututnya yang hampir menyentuh aspal. “Liat lo sekarang,” gumamnya sambil menarik kerah seragam El, mengangkatnya tinggi-tinggi. “Dari dulu sampai sekarang, selalu jadi beban.”
El bungkam, itu kata-kata yang pernah dirinya percaya.
Pandangan mereka bertemu. “Kenapa lo nggak ngomong? Kenyang denger fakta?”