"Seberapa jauh seseorang boleh peduli sebelum itu berubah jadi sesuatu yang tidak seharusnya?" El selalu terlihat seperti jawaban. Tenang, rapi, dan seolah tidak pernah salah langkah.
Tapi manusia jarang sesederhana penampilannya.
Di balik sikapnya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━
“Kak Vano, geser.” Tangan kecil El mendorong pelan tubuh Vano yang menempel pada tubuhnya. Setelahnya, anak laki-laki ini beralih pada lengan Vano yang juga melingkar nyaman pada lehernya.
“Orang biar bagus,” Vano kecil menyahut. Lengannya yang sempat turun kini sudah kembali melingkar di leher El. Yana yang sudah siap memotret dengan ponsel jadul itu terkekeh. “Ja, diem dulu.”
El kecil mengerucutkan bibirnya malas. Bahunya sedikit melemas ketika Vano tidak mau mengalah. Anak laki-laki ini berdecak.
“Ezra, bilang cis—”
Cekrik
Setelahnya Yana menarik ponsel itu sambil memperhatikan hasilnya, El bergeser membuat lengan Vano lepas dari lehernya. “Jelek kamu, Ja,” ledek anak laki-laki yang umurnya terpaut dua tahun di atas El.
El mencibir. "Biar."
“Vano, mau liat nggak?” Yana berseru membuat Vano kecil berlari kegirangan. El juga membuntuti di belakangnya. “Kalian ganteng-ganteng ya.”
“Ezra jelek tuh, nggak cis, manyun.”
Yana tertawa melihat El yang membuang pandangan. Anak laki-laki ini merasa lucu dengan ekspresinya sendiri. “Biar.” El terkekeh kecil sambil menutup mulutnya, membuat Yana tertawa dengan tingkah bocah delapan tahun itu.
“Ibu, aku mau ambil foto ibu.”
“Ibu?”
“Ayok kesini—” El menjeda. Tangan kecilnya menarik Yana tepat di tempat dirinya berfoto dengan Vano. Sebuah rumah sederhana dengan cat putih menjadi background wanita itu. El menyingkir, berdiri dengan perkiraan dirinya tidak tersorot kamera.
“Satu... Dua...”
Cekrik
“Ja! Liat!” El kecil berlari menghampiri Vano kemudian memperhatikan apa yang bocah laki-laki itu tunjukan. Potret ibunya yang baru di ambil, senyum kecil itu sangat kontras dengan matanya yang melengkung tipis. “Cantik.”
“Iya, cantik.”
Erangan singkat memecah ingatan El. Ia meletakan bingkai foto itu perlahan, pandangan turun pada Yana yang terlihat begitu kesusahan untuk sekedar bernafas. Wajahnya terlihat membiru di beberapa titik. Sebagian rambutnya rontok membuat bantal putih itu seakan penuh helaian hitam milik ibunya.