Chapter 14

1.1K 150 23
                                        

Hari baru di ruang penderitaan kembali dimulai. Untuk hari ini, (Name) pastikan dirinya tidak menderita, karena niatnya ingin pulang ke rumah lajangnya, bertemu kedua orang tua beserta adik yang ia rindukan.

(Name) menyiapkan dirinya agar rapi dan sopan dibawa keluar rumah. Ia sengaja memakai pakaian besar dan tebal, karena ia suka, kebetulan itu juga menyamarkan bentuk perutnya.

Sudah siap dan cantik, tiba-tiba ada Sopan datang ke kamar. (Name) pun segera menghampiri suaminya itu.

"Kak, aku mau pulang bentar ya." ucap (Name)

"Baiklah. Pergi sendiri?" sahut Sopan

"Iya, aku bisa sendiri kok. Kakak di rumah aja jaga diri, jagain rumah juga biar gak hilang. Nanti pulang aku kasih oleh-oleh deh."

Sopan cuma memandangnya dengan senyuman. Tuturnya sudah seperti dirinya adalah anak perawan yang harus diam di rumah agar aman.

"Baiklah kalau begitu yang kamu mau. Kamu juga harus hati-hati. Kabari aku kalau sudah sampai."

(Name) pun menyalim tangan Sopan. "Kalau lupa?"

"Gak boleh lupa."

(Name) tersenyum, lalu pergi keluar kamar, melihat sekitaran rumah yang sepi. (Name) tau Fania sedang pergi. Dengan begitu, dirinya tak ada diberi lirikan sinis bila tak sengaja papasan ataupun dilihat oleh Fania.

(Name) menuju rumahnya dengan diantar taksi (lah katanya tadi pergi sendiri). Beberapa menit kemudian, ia tiba di tujuan. Tak lupa membayar, (Name) pun memasuki rumah itu.

"Eh, ANAK MAMAK!" seru (Mother), wanita yang kebetulan ada di halaman rumah.

"Mamaa!" (Name) menghampiri (Mother). Ibu dan anak itu pun berpelukan, melepas rindu setelah sekian lama tak bertemu.

"Padahal sebelumnya ada janji mama aja yang ke sana. Kok kamu enggak bilang-bilang bakal pulang? Mama enggak ada nyiapin apa-apa untuk kedatangan kamu tau." Pelukan mereka pun lepas.

"Sengaja, ma, biar kejutan. Emang harus siapin apa?"

"Apa aja, jajanan gitu, yang kamu suka. Masa tamu datang dicuekin."

"Gak usah lah, tapi kalau ada aku mau. Lagian aku 'kan anak mama juga. Mending kita masuk."

"Oh ya, ayo. Kebetulan semua ada di rumah."

Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah. Kedatangan (Name) disambut dengan baik oleh (Father) dan Cahyana, mereka juga sempat berpelukan.

"Lama gak ketemu anak perempuan papa. Gimana kabar kamu, nak?" tanya (Father)

(Name) menunjukkan ekspresi manyun. "Gak bisa dibilang bagus. Mertua aku di situ jahat tau, tiap hari dimarahin mulu." (Name) berbicara seolah mengadu pada papanya.

"Hari ini kakak lagi di sini, 'kan gak bakal ada yang marahin. Istirahat dulu di sini, gak pulang-pulang ke situ lagi juga gak apa-apa." ujar Cahyana

"Ah bisa aja, yakali kakak gak pulang ke situ lagi. Entar malah dibilangin macem-macem."

"Lah, malah serba salah dibuatnya,"

"Kalau emang gak suka, 'kan gak bakal pernah ada benarnya."

(Mother) masih di situ, ia ikut nimbrung. "Gimana kesehatan tubuhmu belakangan?"

"Baik-baik aja, ma, tiap kontrol dokternya pasti nyuruh untuk jangan stress, biar makin sehat."

"Pasti itu, mental sama fisik memang sinkron. Makan sehat tapi sedih mulu, kan gak beneran sehat jadinya."

"Iyaa."

"Oh iya, mama baru inget. Cah, beli jajan sana ya buat kita." ucap (Mother), seraya menyodorkan uang.

Cahyana menerima itu. "Siap, kalau gitu aku pergi dulu." Pemuda itupun segera pergi.

(Mother) memperhatikannya sekilas sebelum kembali mengobrol. "Kamu ke sini sama siapa? Mama gak lihat, lihatnya kamu aja yang tiba-tiba udah masuk rumah,"

"Aku naik taksi tadi." jawab (Name)

"Memangnya suami kamu dimana?"

"Aku yang mau sendiri ke sini, dia aku suruh di rumah aja."

(Name) berada seharian di rumahnya itu, bercengkrama banyak hal dengan keluarganya dan membuat (Name) merasa bahagia. Setidaknya lebih bahagia daripada di rumah bersama Fania. Rasa bahagianya pun tentu berpengaruh baik untuk dirinya.

(Name) ke sini pada jam pagi menjelang siang hari, sampai jam sore. (Name) lupa waktu karena ia senang berada di sini.

Saat ini, ia sedang bersantai di dalam kamar lamanya bersama mamanya. Tadi pun ia sempat tidur siang sebentar, sekarang sudah bangun.

"Udah jam tiga lebih, aku harus pulang nih." kata (Name)

"Kalau begitu, biar papa yang mengantarkanmu."

"Aku gak nolak."

(Name) merapikan dirinya sejenak, lalu mereka berdua keluar dari kamar. (Name) pergi ke kamar orang tuanya, terdapat (Father) di situ untuk ia mintai tolong untuk mengantar dirinya pulang.

(Name) tiba di rumah dengan tangan berisi, berisi jajan. Dari depan, (Name) memantau kondisi rumah. Masih sama sepinya seperti sebelum (Name) pergi. Ia pun segera masuk ke dalam rumah, di lantai bawah pun terlihat sepi. (Name) pun naik, segera memasuki kamarnya, ia meletakkan jajanan di situ.

(Name) mengganti pakaian menjadi pakaian yang lebih santai dan rumahan. Ia hendak keluar kamar lagi, tapi sebelum itu ia celingukan dulu dari depan kamar.

"Baru pulang?"

(Name) memergik kaget begitu terdengar suara Fania dari sebelahnya. (Name) tak melihat wanita itu datang, tiba-tiba sudah bersuara di sampingnya.

Wanita itupun berdiri di hadapan (Name) dengan tatapan khas, khas tajamnya. "Perempuan apaan sih kamu ini, taunya keluyuraan aja dari pagi sampai jam segini! Rumah kagak diurus, malah nyusahin suami! Jalan sama cowok mana kamu?!"

(Name) tentunya merasa tak senang disemprot begitu saja. "Fitnah dari mana itu, bu? Aku tadi pulang, gak sama cowok yang ibu maksud. Aku pergi sendiri, pulangnya diantar papaku."

"Halah, alasan aja yang banyak. Itu bukan fitnah, tapi fakta! Perempuan kayak kamu gak mungkin sepolos itu. Ngaku aja sama siapa tadi?!"

"Sama keluargaku lah!"

"Oh, udah kurang ajar sekarang? Berani teriak depan orang tua?!"

"Ibu duluan yang teriak duluan depanku, disentil balik malah gak terima."

Mata Fania menajam. "Sini kamu, saya ajarin adab!" Fania pun menarik tangan (Name).

(Name) menahan dirinya agar tidak bergerak. "Gak mau! Lepaskan aku!"

"Dasar pembangkangan gak beradab!"

"Gaakk!"

Tarik-tarikan tangan itu tak sengaja terlepas, membuat Fania berjalan tak seimbang ke depan, (Name) yang dari tadinya sibuk menahan pergerakannya pun jatuh ke belakang. Seketika (Name) kesakitan sambil memegangi perutnya. Kemudiannya ia perdarahan.

Fania malah terdiam menatap (Name) di bawah situ. Wanita itu pun kabur saat ada Sopan yang ternyata sudah pulang dari luar. Pria itu langsung membawa (Name) keluar rumah, menuju rumah sakit.

To Be Continued

[ 06 Juli 2024 ]

Certainty [✓]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang