Terhitung sudah seminggu lamanya (Name) koma. Pagi ini, tampaknya ada Sopan yang sedang bersama (Name). Sudah dari kemarin malam Sopan datang dan berjaga sendiri, dan sekarang tampaknya ia masih tidur, belum bangun pagi.
Kemarin, selama seharian Sopan berkuliah. Setelah pulang kuliah dan mandi, pada petangnya Sopan kembali pergi dari rumah menuju rumah sakit, dengan niat menjaga (Name). Saat baru tiba di ruang rawat, ada Fania yang menjaga, lalu mereka bertukar jam jaga. Fania pulang, giliran Sopan yang duduk dan menjaga, sampai akhirnya pada larut malam ia ketiduran dengan posisi duduk dan kepala di atas kasur. Posisi tidur biasa tiap menjaga (Name).
Lalu, kedua netranya mulai terbuka dengan perlahan, setelah sekian hari tidur lelap. Perlahan-lahan itu mulai terbuka dengan sempurna. Tapi ia cuma diam, menatap ke depan.
Lalu, giliran Sopan yang bangun tidur. Sopan segera menegakkan tubuhnya, dan langsung terbelalak melihat (Name) dalam keadaan melek. Ia tentunya syok. Ia tak menyangka, hari ini akhirnya (Name) bangun.
"(Name)? Ini benar 'kan? Akhirnya kamu bangun, (Name)." ucap Sopan dengan keharuan tertahan.
Beberapa detik kemudian, baru ia menyadari ada yang lain dari (Name). "(Name), kenapa kamu cuma diam?"
(Name) cuma bengong dengan tatapan yang lurus ke depan. Tampak kosong dan begitu hampa. Sopan segera bangun untuk memanggil dokter, yang hampir ia lupakan karena saking tak menyangkanya (Name) sudah bangun.
Sopan kembali ke samping istrinya. "(Name) ... lihatlah ke sini, jangan cuma diam begini. Apa benar kamu sudah bangun?" Sopan mulai khawatir dengan (Name). Seminggu tidur lelap, bangun-bangun bengong.
Dokter pun datang, segera memeriksa (Name) yang baru bangun. Sopan berdiri agak jauh dari kasur, menunggu dokter memberi hasil yang baik.
"Dari hasil pemeriksaan, pasien baik-baik saja, kondisinya pun jauh lebih stabil dari sebelumnya." ucap dokter
"Tapi, kenapa dia cuma diam seperti itu?"
"Kami kurang bisa menangkapnya, yang jelas pasien tidak kenapa-kenapa. Mungkin setelah beberapa waktu ke depan, pasien baru bisa pulih seperti sedia kala."
"... Baiklah, dokter. Terima kasih."
Setelah dokter pergi, Sopan kembali duduk di tempatnya. Memperhatikan (Name) yang masih sama diamnya.
"(Name), seminggu sudah kamu tidur, sekarang kamu telah, bangun kenapa cuma diam? Kamu bahkan gak melirikku sedikitpun?" Satu tangan Sopan memeluk (Name), kepalanya pun kembali bersandar di atas kasur.
"Tolong jangan lama-lama bengongnya. Aku kangen ngobrol denganmu, pokoknya aku kangen semuanya denganmu. Berhari-hari aku menunggumu bangun."
Disuasana itu, ada kedatangan Fania ke ruangan itu. Wanita itu bisa melihat anak dan menantunya, bisa dilihat juga bahwa (Name) sudah bangun dari koma.
Tanpa berbasa-basi, Fania langsung mendekati (Name). Sopan pula segera menegakkan posisi duduknya.
Barusan Fania merasa senang karena akhirnya sang menantu bangun, tapi ia sadar bahwa (Name) kelihatan bengong. "Nak, ini (Name) udah beneran bangun 'kan?"
Sopan mengangguk dengan pelan. "Dokter pun kurang tau dengan kondisi (Name) yang cuma bengong ini, apalagi aku. Kita tunggu waktu saja, bu."
Fania tampak murung. Ia kembali menatap (Name) dan mengelus kepalanya. Sopan cuma diam melihatnya, sebelum akhirnya berkata, "Aku mau pergi sebentar, bu."
"Baiklah."
Setelah Sopan pergi, Fania masih di situ. Tatapannya tak putus dari (Name). Sejujurnya ia sedih dengan ini. (Name) seolah koma dalam keadaan mata terbuka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Certainty [✓]
Fanfiction୨⎯ BoBoiBoy Sopan w/ Female!Readers ⎯୧ Pahit di awal, manis di akhir‼️ (Name), gadis baik-baik dan termasuk anak pintar di sekolahnya, malah harus terjerumus ke dalam pernikahan dini yang diakibatkan kehamilan pranikah. Sopan, lelaki baik-baik yang...
![Certainty [✓]](https://img.wattpad.com/cover/371248822-64-k704315.jpg)