"Kalian apa gak ada rencana honeymoon?"
Hari sedang tenang, tiba-tiba dapat pertanyaan demikian dari ibu. Sejujurnya, tentang honeymoon, Sopan tak kepikiran. Yang dipikirkannya tak lebih dari pekerjaan yang sedang dijalani dan juga istri dan anak yang baik-baik saja di rumah. Itu sudah cukup bagi Sopan.
"Kalian berdua tuh loh, ibu lihat sibuk sendiri-sendiri. Ada yang sibuk kerja, ada yang sibuk di rumah. Waktu berduaan kalian, sayang kalau gak ada."
Sopan tersenyum tipis. "Ibu gak perlu khawatir. Waktu berdua kami, aman. Walaupun kami sibuk sendiri-sendiri, malamnya kan bisa berduaan lagi."
"Iya, ibu tau itu ... maksudnya, gak ada rencana refreshing, gitu? Jalan-jalan, bermalam, berdua aja."
Sopan menatap ibunya. "Ibu memangnya gak mau ikut?"
"Gak perlu, ibu di rumah aja, sama cucu ibu. Jalan-jalan yang ada ibu masuk angin."
Sopan senyumin lagi. "Nanti bisa aku bicarakan dengan (Name)."
Fania tersenyum. "Sebaiknya juga gitu. Permanis hubungan kalian berdua, jangan sibuk-sibuk terus,"
"Iya bu, aku paham."
"ENEEKK!" Tiba-tiba ada entitas diketahui yang tak lain merupakan anaknya Sopan, datang dengan langkah kecil mendekati neneknya.
"Jangan teriak-teriak, sayang. Habis ngapain?" ujar Fania
"Main cama teman-teman di pleglon." ucapnya, tak lupa dengan cengiran yang menampilkan gigi-gigi kecil. Tak luput pula badan yang kotor habis aktif bermain bersama teman seumurannya di playground dekat rumah.
Wanita paruh baya tersebut merasa gemas melihat cucunya. "Mandi yuk, kotor kamu tuh habis main."
Abyan menurut, langsung dirinya mengangkat kedua tangan agar baju yang dikenakannya bisa dilepas. Mereka berdua pun pergi dari ruang tamu. Sekarang, giliran (Name) yang datang ke ruang tamu sehabis tadi nyuci banyak pakaian di belakang.
(Name) langsung menghempas tubuhnya yang lelah ke atas sofa, tangannya mengipas-ipas. Ada kipas angin listrik di situ, tapi rasanya jauh untuk dijangkau oleh (Name).
Sopan memperhatikan istrinya, ia yang peka pun mendekati kipas dan menyalakannya agar ada angin sejuk.
"Makasih, kak."
Sopan kembali ke tempatnya duduk. "Tentu."
(Name) menegakkan posisi tubuhnya, lalu berucap, "Aku ada rencana ke rumah papa dan mama, kak. Lama aku gak ke sana."
"Oh, iya? Kapan?" sahut Sopan
"Umm, nanti sore aja sih. Malahan niatnya nginep semalam. Mumpung besok kakak masih libur juga."
Mendengar itu, Sopan menganggukkan kepala. "Baiklah."
===
"Om Nanaaaa!"
Baru tiba di kediaman masa gadis, Abyan langsung menyerbu pamannya alias Cahyana (panggilan khusus dari Abyan: Nana). Keduanya langsung berpelukan, dan Cahyana menggendong ponakan kecilnya itu.
"Semangat kali kamu, Byan,"
Abyan cuma cengengesan sampai gigi-gigi kecilnya terlihat.
(Name) pula sama halnya, cipika-cipiki dengan mamanya juga berpelukan dengan papanya. Sopan cukup menyalim tangan mereka berdua.
Mereka bertiga akan berada di sini sampai besok hari. Kebetulan sekali, Fania juga ada kegiatan keluar rumah selama semalaman yang membuat rumah kosong nan terkunci. Makanya, sekarang Sopan dan (Name) berani pergi menginap.
"Ayo masuk, semuanya."
Ketiga tamu di rumah itu memasuki rumah. Abyan mereka biarkan bersama Cahyana, (Name) pula memasuki kamar lamanya bersama Sopan untuk meletakkan barang.
(Name) mendaratkan dirinya di atas lantai, di samping kasur, yang telah lama tidak ia tempati. "Kangennyaaa."
Sopan meletakkan barang bawaan mereka di lantai, dekat dengan kasur juga nakas. Bawaan mereka cuma satu tas besar dengan isi keperluan (Name) bersama Sopan dan satu tas dengan ukuran lebih kecil yang isinya lengkap keperluan Abyan.
"Capek, ya?" tanya (Name), yang sebenarnya tak perlu ditanyakan karena jawabannya sudah kelihatan.
"Em, ya. Lumayan." Sopan ikut duduk di dekat (Name).
(Name) senyum. "Istirahat dulu lah, Abyan biarin main sama Cahyana." (Name) pun berdiri.
"Mau kemana?"
(Name) menoleh ke arah Sopan. "Cuma ke balkon." Lalu, ia pergi ke arah pintu yang tertutup tirai.
(Name) membuka tirai coklat tersebut, lalu membuka pintunya yang langsung bertemu dengan langit. Angin sepoi-sepoi menyapu (Name), ia pun mendekati pembatas dan melihat-lihat sekitarnya yang tak lebih dari genteng, langit, dan juga jalanan.
(Name) menikmati pemandangan langit sore, saat tiba-tiba dirasa ada yang menggelikan di bagian perutnya. (Name) menoleh karena kaget, ternyata itu suaminya datang dalam diam dan langsung melingkari perut (Name) dari belakang.
"Ih, ngagetin. Datengnya gak ada suara."
Sopan tersenyum, ia meletakkan kepalanya di bahu (Name).
"Katanya mau istirahat, kak?" tanya (Name)
"Sama kamu." Sopan mengangkat kepalanya. "Kamu malah ke sini."
"Nyari angin. Gak pengen ganggu juga."
"Gak bakal mengganggu kalau sama kamu." Kembali Sopan meletakkan kepalanya, sepertinya mau tidur.
(Name) jadi kasihan dengan suaminya ini. Ia menoleh ke arah bahunya yang ada kepalanya Sopan. "Ayo ke dalam, deh. Masa di sini, sambil berdiri."
"Asal sama kamu, gak apa-apa gimanapun posisinya."
(Name) masih melihat ke arah situ. "Gak usah gitu, nanti aku-nya juga pegel, loh."
Sopan mengangkat kepalanya lagi, tentu membuat muka mereka bertemu dengan jarak yang amat dekat. (Name) jadi degdegan bila melihat seluruh muka Sopan sedekat ini. Sopan dengan santainya malah mencuri kecupan kecil di bibir istrinya.
"Heh!" Terlepas juga (Name) dari bengongnya.
Sopan terkekeh. "Lucu banget. Ya sudah, ayo kembali ke dalam."
Makin lama, hubungan mereka makin kelihatan bucinnya. Lebih kelihatan bila hanya sedang berdua, seperti sekarang. Di hadapan orang tua ataupun mertua atau juga anak mereka pasti berusaha bersikap profesional, walau kadang kelepasan dikit.
Mereka kini sudah di dalam kamarnya (Name), di atas kasur, dengan (Name) yang mengelus-elus kepala Sopan yang sepertinya mulai tidur. Jarang-jarang Sopan diginiin, biasanya (Name) ngelonin Abyan doang. Pria juga butuh dikelonin seperti ini.
Sopan belum tidur lelap, kentara dari tangannya yang bergerak membenarkan pelukannya pada (Name) agar lebih nyaman. (Name) masih tetap mengelus kepala Sopan sampai-sampai dirinya ikut mengantuk.
Kemudian, kantuknya lenyap seketika karena merasakan sentuhan aneh di punggungnya. Tangan suaminya--menyelusup ke dalam baju yang sedang (Name) kenakan.
"Kak Sopan!"
•
To Be Continued
Kayaknya dia gak beneran tidur, deh.
Bagaimana part ini?
Tumbenan ya ngelihatin kebucinan pasutri dini ini sksksk 😚.
Komen gak, lo?! Biar author makin semangat wkwkwk.
Sampai jumpa, gaes!
[ 06 September 2024 ]
KAMU SEDANG MEMBACA
Certainty [✓]
Fiksi Penggemar୨⎯ BoBoiBoy Sopan w/ Female!Readers ⎯୧ Pahit di awal, manis di akhir‼️ (Name), gadis baik-baik dan termasuk anak pintar di sekolahnya, malah harus terjerumus ke dalam pernikahan dini yang diakibatkan kehamilan pranikah. Sopan, lelaki baik-baik yang...
![Certainty [✓]](https://img.wattpad.com/cover/371248822-64-k704315.jpg)