Suara tangis bayi terdengar nyaring pada dini hari ini. Membangunkan orang di dekatnya. Abyan yang sedang tidur diantara orang tuanya, tiba-tiba menangis, tak tau karena apa. Sopan dan (Name) pun harus bangun. Sopan segera menekan saklar lampu yang ada di dekatnya.
"Dia kenapa ya ..."
Sopan kelihatan mengecek apa maunya Abyan. "Dia haus, (Name). Susui lah dia."
(Name) merapikan rambut singanya, lalu segera mengambil anaknya untuk disusui. Sadar di hadapannya ada Sopan, membuat (Name) berbalik badan. Sopan biarin aja, walau nyatanya ia tak akan melakukan apapun meski istrinya itu menyusui anak mereka di hadapan matanya.
(Name) memperhatikan Abyan yang sudah anteng dan meminum susu dengan lahap. (Name) suka melihatnya, sangat lucu.
Sopan sebenarnya penasaran, jadi ia mendekat di belakang (Name), setidaknya untuk mengintip muka anaknya. Sadar ada Sopan dekat di belakangnya, (Name) berbalik badan lagi agar tak terjangkau pandangan Sopan.
"... Kenapa, (Name)?" Sopan merasa sedih karena dihindari oleh (Name).
"Malu."
Sopan mengelus kepala belakangnya. "Padahal aku pernah mengelap satu tubuhmu selama koma ..." gumam Sopan
"Hah?"
"Gak ada."
(Name) pura-pura tak peduli, kembali ia memperhatikan anaknya yang masih sibuk. Setelah beberapa menit, Abyan selesai menyusu, (Name) merapikan bajunya. Kembali (Name) meletakkan Abyan di antara dirinya dan Sopan. Dengan mudah Abyan kembali tidur.
Sopan mematikan lampu kembali, kemudian berbaring di tempatnya dan memejamkan mata. (Name) juga berbaring, tapi matanya sudah segar.
Terbangun pada dini hari, lalu harus tidur lagi, memang terasa susah. (Name) melihat dua laki-laki di sebelahnya yang tampaknya sudah tidur.
'Mikir aja kali ya?' batin (Name)
(Name) terus saja terjaga sampai sejam, dan kini matanya mulai layu dan sudah bisa tidur lelap kembali.
Sampai matahari terbit, tampaknya (Name) baru bangun pagi. (Name) melihat ke sampingnya, sudah kosong. Dengan perlahan ia mulai duduk, melihat jam yang sudah menunjuk angka setengah tujuh, lalu bangun dan menuju luar kamar.
Dari depan kamarnya, bisa kelihatan Sopan duduk di ruang tamu bersama Abyan.
Awalnya, (Name) pikir itu bukan masalah, lalu setelahnya. "Lah, kenapa udah dibawa aja? Apa dia gak rewel?"
Niatnya mau turun, tapi (Name) hampir lupa dengan dirinya yang harus cuci muka. (Name) pun segera pergi ke kamar mandi, setelahnya baru turun ke ruang tamu.
"Loh, ada ibu baru bangun pagi." ucap Sopan
"Dia gak rewel 'kan?" tanya (Name) langsung.
"Enggak. Tadi pagi, dia sempat nangis. Karena kamu gak bisa dibangunin, ya sudah aku langsung bawa dia keluar kamar. Setelahnya dia tenang."
(Name) mengangguk-angguk mendengar itu. Itu terdengar bagus. "Dia haus, gak?"
"Sepertinya enggak, dari tadi aku ajak di sini, dia tenang."
"... Berarti, kamu belum cuci muka?"
Sopan tersenyum menanggapi itu. Lalu, ia menyerahkan Abyan pada (Name), kemudian pria itu pergi ke kamar mandi. (Name) pun duduk di sofa.
Baru saja tadi bilang pasal haus, sekarang Abyan tiba-tiba menangis karena kehausan. Segeralah (Name) menyusui bayinya agar tidak kelamaan rewel.
Kalau sudah begini, baby blues yang (Name) alami bisa memudar dengan cepat. Lihat saja, Abyan fokus menatap (Name) selama menyusu. (Name) bagai terhipnotis melihat tatapan dari sepasang netra yang besar tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Certainty [✓]
Fanfiction୨⎯ BoBoiBoy Sopan w/ Female!Readers ⎯୧ Pahit di awal, manis di akhir‼️ (Name), gadis baik-baik dan termasuk anak pintar di sekolahnya, malah harus terjerumus ke dalam pernikahan dini yang diakibatkan kehamilan pranikah. Sopan, lelaki baik-baik yang...
![Certainty [✓]](https://img.wattpad.com/cover/371248822-64-k704315.jpg)