"Nak, kita perlu bicara."
Ibu dan anak itu berhadapan dengan raut muka serius, sudah dapat dipastikan akan ada obrolan serius diantara mereka.
"Langsung ke intinya saja, kamu harus cerai dengan (Name), setelah (Name) melahirkan."
Sopan sontak merasa ingin protes mendengar itu. "Kenapa begitu?"
"Sederhana, ibu gak menginginkan (Name) menjadi istrimu dan menantu ibu. Ibu beritahu ya, ibu sudah menyiapkan calon istri untukmu, bahkan jauh sebelum ini terjadi. Pokoknya, habis melahirkan kalian cerai."
"... Gak bisa begitu, bu. (Name) dan anaknya sudah jadi tanggung jawabku. Lagipula, aku gak mau menikah lagi, apalagi jalur perjodohan begini."
"Loh, kenapa begitu? Jangan-jangan dari awal kamu dan (Name) memang pacaran ya? Jangan-jangan juga, hamil di luar pernikahan cuma trik kalian?"
"Curiga ibu terlalu banyak. Aku menolak calon istri pemberian ibu karena aku gak mengenalnya. Yang jelas, aku gak berminat untuk menikah lagi." ucap Sopan dengan tegas, tanpa keraguan.
"Menjalani yang ini saja agak memaksakan diri, dan ibu malah ingin memenuhi keinginan ibu yang jelas banyak melibatkanku?"
Fania menatap mata anaknya. "Emang kamu bahagia menjalani ini?"
Sopan seketika terdiam.
Fania mengambil kesempatan bicara lagi. "Ibu udah baik-baik nyuruh kamu cerai setelah anak di rahim (Name) lahir, salahnya dimana juga, cerai dulu terus nikah. Memangnya kamu mau beristri dua? Enggak 'kan. Toh, calonmu yang ini jauuhh lebih bagus dari (Name). Cantik, berpendidikan tinggi, kaya. Pokoknya setara dengan kita."
"Sebentar deh," Fania mengambil handphone-nya dan mulai mengetuk-ngetuk layar itu dengan jarinya. Kemudian, ia menunjukkan layar handphone itu, menunjukkan sebuah foto.
"Lihat ini, inilah calon istri dari ibu, namanya Julya."
"Ibu berani jamin, kamu akan lebih bahagia kalau mau menikah dengannya."
Sopan memperhatikan foto yang ditunjukkan ibuya dengan muka datar, tak berminat. "Tetap saja, aku menolak."
Fania menatapnya dengan masam, tapi ia tak akan mudah menyerah. "Apa alasannya? Hanya karena kamu gak kenal? Nanti juga ibu kenalkan kalian berdua,"
"Intinya aku gak mau, aku gak mau dijodohkan. Aku sibuk. Mohon maaf, ibu." Sopan undur diri dari tempatnya.
Bukan asal menolak, Sopan tak mau menikah lagi demi menyenangkan ibunya. Karena ia yakin, menikah dengan pilihan ibunya cuma untuk membuat status. Sopan juga tak kenal dengan calon dari ibunya, ia tak tau akan sebaik atau seburuk apa rumah tangga berjalan jika menikah dengan menantu idaman Fania.
Sudah harus menikah di tengah perjalanan kuliah pun, rasanya berat bagi Sopan, beban pikirannya bertambah. Harus menjadi suami dan ayah secara mau tak mau. Ia bahkan tak pernah kepikiran untuk meninggalkan (Name) setelah anaknya lahir. Apalagi, mental (Name) yang tak baik-baik saja dan harus didampingi.
Dari awal, Sopan memang terpaksa, tapi bukan berarti ia harus berperilaku buruk dengan dasar rasa terpaksa, apalagi kepikiran untuk menikah lagi hanya karena saat ini menikah dengan yang bukan Sopan mau. Sopan mau mencoba menjalani ini dengan ikhlas. Bukan hanya mental (Name) yang berantakan, tapi mentalnya juga labil.
Walau ditemani ketidakstabilan begitu, Sopan selalu mengandalkan ketenangan, yang bisa menyelesaikan sedikit banyaknya masalah yang sedang dihadapi. Marah-marah, menyesal, ataupun menyalahkan keadaan tak ada gunanya, semua sudah dan sedang terjadi. Waktu hanya akan terbuang sia-sia jika hanya diisi emosi negatif.
Tentang perasaannya, Sopan rasa biasa saja, tak ada perasaan berlebih jika ia bersama (Name). Mungkin karena belum waktunya? Selama berhari-hari bersama (Name), Sopan tak merasakan yang namanya pertumbuhan rasa cinta. Rasanya biasa, tapi bukan berarti hambar. Asal tidak sampai jadi masalah yang lebih besar, itu tak apa-apa.
Jika diingat lagi, Sopan selalu perhatian pada (Name), apalagi jika (Name) sehabis diamuk oleh ibunya. Menenangkannya, mengelus kepala. Melihat ada secuil kebahagiaan dari (Name) pun membuat Sopan merasa senang, ia merasa jadi psikolog yang berhasil.
Sopan paham, (Name) yang mengalami banyak kerugian. Dari segi fisik dan mental. Sopan yakin di umur segitu bukan umur yang siap dan bagus bagi organ reproduksi untuk mengandung anak, juga bocah yang masih memerlukan masa pendidikan serta mengasah mental sebelum melahirkan dan menyusui, singkatnya menjadi ’ibu’. Apalagi (Name) awalnya mendapat kucilan dari sekolah, sekarang malah tergantikan dengan mendapat amarah Fania.
Jika dibilang Sopan mendingan, itu tidak salah. Teman-temannya tak mempermasalahkan dirinya yang sehabis melakukan hal itu, walau ada saja ucapan risih hingga candaan tentang itu yang ia dapat.
Untuk sekarang, berita dirinya sudah tak lagi viral dan tak lagi menjadi obrolan hangat kampus, semua seolah sudah bodoamat dengan Sopan, ya palingan cuma sebagian kecil yang masih suka menjadikannya candaan. Juga, tak ada yang banyak memarahi Sopan selain Fania, itupun hanya di awal, yang menggosipkan Sopan di belakang juga tak kedengaran lagi.
Jika keadaan nyatanya berbeda, alias (Name) dan Sopan tak menikah, akan sangat kentara bahwa (Name) sedang mengandung anak orang, lalu pastinya akan dapat cemoohan dari orang sekitar, tidak dengan Sopan karena tak terlihat bekasnya bahwa Sopan habis menghamili perempuan. Untung nyatanya mereka menikah dan menjalani ini bersama, tidak akan merugikan salah satu saja.
"Habis dari mana, kak?" tanya (Name), melihat Sopan di ambang pintu kamar.
"Habis mengobrol sebentar dengan ibu." Sopan duduk di pinggir kasur.
"Ngobrol apa tuh?"
"Berat topiknya."
(Name) pun cuma iya-iya.
"Oh, ya," Sopan bersuara lagi. "Apa, kamu pernah berpikiran, kita bercerai setelah anak ini lahir?" Sekilas jarinya menunjuk perut (Name).
"Dipikir-pikir ... gak pernah sih. Yang aku pikirin tuh, rumah tangga kita yang ... baik-baik aja, setelah anak ini lahir. Gak ada tuh perceraian." jelas (Name), "Tapi kayaknya itu gak mungkin terjadi di masa depan. Kak Sopan maunya cerai?"
"Bukan begitu, aku hanya bertanya. Apalagi 'kan, kita membangun pernikahan tanpa banyak kesiapan. Aku kadang jadi khawatir."
(Name) tersenyum menatapnya. "Biasanya kamu yang tenang dan positive vibes. Aku tebak, habis ngebahas yang ada perceraiannya sama ibu, ya?"
Sopan terdiam, perlahan mengangguk. "Ya ... kamu sendiri, pastinya tau bahwa ibu kurang menyukai dirimu. Beliau meminta agar kita cerai, lalu aku menikah lagi."
(Name) menghela napas. "Itu pilihanmu. Kalau aku harus pergi sendiri ataupun bersama anak, aku siap. Lagipula aku sadar diri, rumah tangga kita sekarang terjadi karena keterpaksaan. Kalau memang bahagia ini bukan punya kita, berarti harus dibuat masing-masing ... gak bareng-bareng ..."
"... Kok jadi sedih, ya."
(Name) hanya bisa tersenyum sendu. Iya juga, rasanya sedih seketika memikirkan kalau mereka berdua harus berpisah nantinya. Namun, siapa juga yang tau masa depan?
"Daripada sedih-sedihan, mending lewatin jalanan yang ada depan mata dulu."
Senyuman Sopan bisa kembali lagi dibuatnya. Itu benar. Lebih baik langkahi dulu tanah di hadapan, daripada sibuk memikirkan ketidakpastian.
Sopan menghembus napasnya. "Aku rasa aku butuh istirahat ..."
(Name) tersenyum ke arah Sopan. "Kemarilah. Giliranku menenangkanmu." (Name) pun merentangkan tangan.
Mereka berdua berpelukan. Kedua mata Sopan terpejam di dalam situ. Tak perlu canggung diantara mereka untuk sekadar pelukan. Toh mereka sudah pernah membuat anak.
•
To Be Continued
Bangun tidur ku terus update✨
[ 03 Juli 2024 ]
KAMU SEDANG MEMBACA
Certainty [✓]
Fanfic୨⎯ BoBoiBoy Sopan w/ Female!Readers ⎯୧ Pahit di awal, manis di akhir‼️ (Name), gadis baik-baik dan termasuk anak pintar di sekolahnya, malah harus terjerumus ke dalam pernikahan dini yang diakibatkan kehamilan pranikah. Sopan, lelaki baik-baik yang...
![Certainty [✓]](https://img.wattpad.com/cover/371248822-64-k704315.jpg)