Setelah mendapat kabar bahwa suaminya sudah selesai ditangani, (Name) segera pergi ke rumah sakit bersama Abyan. Walau setibanya di situ, Abyan nempelin Gentar, ia bahkan tak tau kenapa dirinya di ajak ke tempat ini.
(Name) memasuki ruang rawat seorang diri. Di situ tampak ada Sopan dengan keadaan merem, Fania juga ada. Tetapi setelahnya, Fania ke luar ruangan dengan niat memberi ruang untuk (Name) dan Sopan.
(Name) mendekati Sopan yang tampak diperban sana-sini. Ada luka lebam juga. Melihat itu, air mata (Name) menggenang lagi. Seolah secara otomatis ia bisa merasakan rasa sakit yang Sopan dapatkan dari kecelakaan. Apalagi, melihat orang tersayang dalam keadaan begini ditengah kangen yang menggebu.
(Name) menangis lagi, dan kini di sisi Sopan.
"Untuk apa kamu menangisiku?"
(Name) sedikit tersentak, tangisnya berhenti seketika. Ia mengangkat kepala, melihat ke arah Sopan yang sudah membuka mata dengan arah kepadanya.
Entah (Name) harus menunjukkan rasa senang, haru, sedih, semua terasa menyatu pada perasaan. (Name) cuma menatapnya dengan muka-muka habis nangis.
Lain dengan Sopan, ia menatap (Name) dengan heran. (Name) jadi ikut bingung dengan tatapannya.
"A-ada apa?"
"Kamu siapa?"
. . . . .
Seriusan?
(Name) merasa kelu untuk beberapa saat. Matanya pun nanar, menatap wajah Sopan yang masih sama.
"Aku tanya, kamu siapa? Kenapa datang ke sini, dan menangis?"
(Name) rasanya mau menangis lagi. "A-aku ini (Name), aku istrimu, kak."
"... Benarkah? Aku masih umur segini. Gak mungkin dah punya istri."
"... Kakak lupa denganku?"
"Aku bahkan gak kenal dengan wajahmu."
Potek banget, hati (Name) berasa habis digiling halus menjadi tepung. Benaran, habis kecelakaan Sopan jadi ilang ingatan? Terutama, Sopan tak ingat sama sekali dengan (Name)? Dengan istrinya?
(Name) berdiri dari tempatnya duduk. Mereka berdua masih beradu pandang. Mata (Name) basah lagi, membuat pandangannya kabur. Sepertinya hari ini stok air mata (Name) bisa habis untuk menangisi suaminya.
Tanpa meninggalkan omongan apapun lagi, (Name) segera menuju pintu, hendak ke luar ruangan. Dada (Name) terasa sesak, menahan tangis yang ingin ia keluarkan di tempat sepi.
"Mau kemana?"
(Name) tertahan. Lalu, dengan perlahan menoleh ke arah Sopan yang kini telah duduk, dan tampaknya tersenyum.
Pria itu terkekeh. "Kalau direkam, kayaknya bagus."
(Name) terdiam di balik pintu itu. Linglung, kalau bisa (Name) ingin pingsan.
Jadi, dari tadi Sopan cuma akting amnesia?!
Entah sebab apa, tawa pria itu jadi makin panjang. Diakhiri dengan senyuman, ia memanggil (Name) untuk mendekat. (Name) langsung pergi padanya dengan tangis kencang. Kayak bocah gak dibeliin ayam warna-warni terus lari ke bapaknya.
Mereka berdua pun berpelukan.
Selama beberapa saat, mereka berpelukan, menenangkan diri, melebur rindu selama lima hari tak bertemu.
"Maafkan aku, ya." Sopan menatap wajah (Name). "Gak bermaksud."
(Name) menatap Sopan juga. Rasanya agak masam karena bisa-bisanya tadi Sopan begitu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Certainty [✓]
Fanfiction୨⎯ BoBoiBoy Sopan w/ Female!Readers ⎯୧ Pahit di awal, manis di akhir‼️ (Name), gadis baik-baik dan termasuk anak pintar di sekolahnya, malah harus terjerumus ke dalam pernikahan dini yang diakibatkan kehamilan pranikah. Sopan, lelaki baik-baik yang...
![Certainty [✓]](https://img.wattpad.com/cover/371248822-64-k704315.jpg)