Chapter 26

1.2K 128 7
                                        

Hari demi hari terus berlalu, dan menunjukkan perubahannya secara perlahan nan pasti. (Name) sudah lebih sehat setelah melewati hari dengan luka fisik serta luka mental. Emosinya sudah lebih stabil. Sindrom baby blues-nya pun perlahan sudah tak terasa lagi setiap bersama Abyan. Walau kadang masih bisa kumat ketika Abyan menangis kencang.

Perubahan itu terasa oleh (Name), dan ia senang bisa melewati hari-hari berat tersebut. Dengan bantuan suami dan mertua, (Name) tak merasa begitu terbebani, semakin hari ia semakin menikmati hidup. Ia bahagia bisa melewati ini semua dan berhasil baik.

Pagi ini, di hari libur (Name) bangun saat matahari sudah bersinar. (Name) segera membuka gorden kamar agar sinarnya menghangatkan kamar. Di sisi lain kamar, ada Sopan sedang menggendong Abyan, bayi berusia tiga bulan itu.

(Name) tersenyum menatap mereka, lalu mendekatinya. Bayi kecilnya yang tampak lebih gembul dari bulan sebelumnya, bayi itu anteng di dekapan ayahnya.

"Hari ini, kamu sibuk gak?"

"Enggak, lagipula ini libur. Aku seharian akan di rumah, menjadi ayah yang baik dan benar."

(Name) tersenyum gemas dibuatnya. "Kan udah selalu begitu." (Name) memegang tangan mungil Abyan.

"Aku mau ke kamar mandi dulu deh."

"Baiklah."

Sopan mendekati jendela kamar, melihat pemandangan pagi yang segar. Abyan juga ikut melihat walau ia tak paham. Kemudiannya, bayi itu senyum-senyum. Sopan jadi ikutan tersenyum melihatnya.

"Turun yuk, kita cari nenek." Lalu, ayah dan anak itu turun dari kamar.

Mereka turun ke dapur, tempat Fania sedang memasak. Tau ada yang datang, Fania menoleh dan langsung tersenyum, tau yang datang itu anak dan cucunya.

"Ada Abyan ternyata, anteng banget sama ayahnya."

Sopan tersenyum, sedikit membenarkan gendongannya. "Aby 'kan dah gede, jarang rewel."

Fania tersenyum gemas. Inginnya mengambil bocah itu, tapi masakan itu belum matang beserta urusan dapur lain belum disentuh.

"Ibu gak capek, dari tadi sendiri di sini,"

"Ibu gak apa-apa, Pan. Lagian udah biasa 'kan, gini-gini, udah selama bertahun-tahun malah. Kamu mau bantu emang." Fania mengaduk-aduk di dalam wajan.

"Mau-mau aja sih, harusnya sih bantuin."

"Gak usah lah, kamu, ataupun (Name), lagi sama anak juga. Repot. Gimana bisa bantu-bantu. Eh ya, (Name)-nya mana?"

"Dia lagi di kamar mandi, sebentar juga ke sini."

"Halo."

Sopan seketika melirik ke sebelahnya, hampir kaget karena yang barusan diserempet tiba-tiba ada. Fania cuma senyumin.

"Sejak kapan di sini?"

"Barusan. Aku emang mau ke dapur." (Name) masih menatap Sopan, seraya masuk ke dalam dapur.

"Mau ngapain, nak?"

"Bantu-bantu ibu lah, dari tadi ibu sendiri."

"Gak usah lah, lagi dikit juga. Tunggu aja di meja makan, sama Sopan tuh."

"Banyak tuh kelihatan, mending aku bantu. Cepat selesai, jadi cepat sarapan."

Fania menghembuskan napas. "Ya sudah, nak."

Kegiatan dapur berlanjut lagi, hingga tak lama kemudian selesai dengan cepat. Lalu, masakan jadi dibawa ke meja makan.

"Biar Abyan aku bawa." (Name) sudah merentang tangan.

Certainty [✓]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang