Hari ini, sudah resmi (Name) LDR bersama Sopan. Sekarang, tampaknya keluarga kecil itu sedang pamitan sebelum Sopan berangkat.
"Dadah, ayah. Nanti puyang beliin mainan balu satu tluk, ya!"
Sopan tersenyum menanggapinya, kemudian mengelus kepala putranya.
"Aku berangkat, ya. Jaga diri baik-baik." Sopan masih dengan senyumannya, lalu mengecup kening istrinya, tak lupa juga mengelus perut yang sedang berisi jabang bayi.
(Name) membalas senyumannya, lalu menganggukkan kepala.
Setelah pamitan, pria itu berangkat ke tempat tujuan. (Name) masih memandangi arah perginya kendaraan Sopan, sementara itu mertua dan anaknya hendak masuk kembali ke rumah.
Tau ibunya masih diam saja di gerbang, Abyan putar balik lagi, hendak mengajak ibunya. "Ayo macuk, bu." Anak itu memegang tangan ibunya.
(Name) melihat ke bawah, lalu mengikuti langkah anaknya menuju dalam rumah. Sampai di dalam, (Name) langsung ke dapur, mengambil buah mangga yang asam dan juga pisau.
Fania melihat kelakuan mantunya dari luar dapur. Ia yang kepo pun berdiri di ambang pintu.
"Tumben, buat apa?"
(Name) menoleh selagi tangannya mengupas mangga. "Sajen."
Wanita itu jadi tersenyum mendengar jawaban mantunya. "Baru tau ada yang buat sajen pakai mangga muda,"
"Hehe, buat camilan aja kok, bu. Ibu mau?"
"Enggak, kalau yang matang mau." ujar Fania, "Eh, mangga muda? Camilan?"
(Name) yang kini tersenyum menanggapinya. "Yaa,"
Senyum Fania jadi mengembangkan. "Kenapa gak ngasih tau sih, nak. Biar surprise, ya?!"
"Gak juga, tuh tadi udah waktunya ibu tau."
"Aduh, gak gitu juga, udah berapa lama usianya?"
"Baru tiga minggu." (Name) mengambil piring yang sudah berisi mangga.
Fania jadi murah senyum setelah tau kabar itu. Nanti ia pergi ke butik, pasti akan mengobrolkannya kesana-kemari karena saking senangnya akan dapat bayi lagi.
(Name) menempati sofa panjang di ruang tamu, begitu pula dengan Fania yang menempati sofa single. Di ruang tamu itu sudah ada Abyan yang tampak sedang bermain dengan lego. Tau ibunya datang, Abyan menunda permainannya dan mendekati ibunya, itu sih karena ia melihat ibunya membawa piring.
"Ini apa, bu?" tanya Abyan seraya mengambil secuil dari isi piring itu. Hendaknya mencicipi objek misterius tersebut.
"Eh, jangan dimakan, kamu gak bisa,"
"Uwek ..." Abyan seketika menjulurkan lidahnya begitu rasa asam menemuinya.
(Name) terkekeh melihatnya. "Dibuang, nak."
Abyan seketika mendekati tong sampah di dekat ruang makan, membuang potongan mangga itu di sana. Kembali lagi pada ibunya.
"Itu apa sih, buu?"
"Mangga." jawab (Name) seraya mulai ngemil.
"Kok ndak enak? Yang biacanya enak tuh,"
"Ini khusus buat ibu. Tadi udah ibu peringatkan, jangan dimakan, malah gak nurut."
Abyan nyengir. "Abisna Abi penacalan."
Lalu, bocah itu beralih pada neneknya. "Nenek, ada mangga manis, ndak?"
"Ada gak, (Name)?" Fania bertanya pada (Name).
"Ada, aku belinya nyampur. Pilihin aja, bu."
"Oke. Ayo, Bi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Certainty [✓]
Fanfiction୨⎯ BoBoiBoy Sopan w/ Female!Readers ⎯୧ Pahit di awal, manis di akhir‼️ (Name), gadis baik-baik dan termasuk anak pintar di sekolahnya, malah harus terjerumus ke dalam pernikahan dini yang diakibatkan kehamilan pranikah. Sopan, lelaki baik-baik yang...
![Certainty [✓]](https://img.wattpad.com/cover/371248822-64-k704315.jpg)