Chapter 20

1.2K 162 48
                                        

Hari baru lagi, dengan aktivitas yang tak berbeda dengan hari kemarin. (Name) masih tidur lelap dan enggan bangun. Walau begitu, Sopan tak mau lelah menunggu. Ia akan terus di situ sampai (Name) bangun.

Kebetulan hari ini Hari Minggu, yang artinya masih libur. Masih ada kesempatan untuk menjaga (Name), sebelum besok kembali kuliah.

Kemarin malam, ada (Mother) yang ikut menjaga (Name). Pagi ini pun (Mother) belum pulang dari rumah sakit dan sedang mengurus (Name) pagi ini. Sementara itu, Sopan sedang di kamar mandi.

"Cepat bangun ya, nak. Kembali lihat dunia dan orang-orang yang menyayangimu. Jangan terus tiduur. Di dunia ini banyak yang menyayangimu dan menunggumu bangun." (Mother) merasa mellow berbicara di depan (Name) saat ini.

Wanita itu memberi kecupan pada kening (Name). Lalu tersenyum. "Anakmu belum pernah kamu lihat, (Name). Kamu harus melihatnya, agar dia tau, siapa yang selama ini kuat membawanya hingga hadir di dunia."

Tak lama kemudian, ada Sopan yang baru kembali. Ia pun duduk di seberang (Mother). Ia memperhatikan (Name) yang sehabis dilap tubuhnya dan juga disisir rambutnya oleh (Mother).

"Mama, sebaiknya mama pulang. Aku sendiri di sini gak apa-apa."

"Mama mau di sini, nemenin (Name). Yang di rumah biarin aja, udah pada gede juga, mama tinggalin gak bakal nangis kok."

Sopan tersenyum tipis mendengar ucapan (Mother). "Ibuku akan datang, ma. Mama yakin mau di sini lebih lama lagi?"

"Yakin ... ada ataupun gak ada dia, mama gak terusik. Biarin aja gitu."

Sampai sekarang ini, (Mother) masih merasa bahwa Fania tidak searah dengan dirinya. Masih ada rasa tak cocok ketika dipertemukan, kalau bertemu pasti saling melempar kepalsuan. Dari kejadian hamil di luar pernikahan sudah begitu.

Perlakuan Fania pada (Name) sejak (Name) menjadi istri Sopan pun buruk. Sempat (Mother) curiga kalau kejadian ini ulah Fania, tapi ia tak mau berasumsi lebih. Ia sendiri pun belum tau, bukan hal yang baik juga menambah benci tanpa alasan yang jelas.

(Mother) dan Fania lebih sering diam jika bertemu, entah bertemu secara sengaja atau tak sengaja. Seingatnya, cuma saat lamaran dan pernikahan mereka berdua bertemu. Mungkin kalau (Mother) berkunjung untuk menemui (Name), ada saja papasan, dan mereka hanya pura-pura tak lihat atau cuma menatap datar. Belakangan pun masih sama saja, tak ada perubahan dari interaksi dua wanita itu.

"Aku akan membeli sarapan, ma. Mama mau memesan apa?"

"Samain denganmu aja, mama omnivora."

Sopan cuma tersenyum. "Baiklah."

"Eh! Pakai ini, nak," (Mother) menyodorkan lembaran uang.

"Gak perlu, ma, aku udah bawa uang."

"Bawa, heh! Gak usah nolak, berkah ini. Buat jajan lebih gitu. Galau dan bersedih juga perlu tenaga."

Sopan menghela napas, lalu mau menerima uang dari (Mother), kemudian pergi membeli makanan.

"Nak ... mama pernah ngayal kamu punya suami baik ... ternyata itu jadi nyata, ya? Suamimu, Si Sopan ini udah klop banget. Semua kriteria yang ada di list menantu idaman mama pun kena tanda centang."

"Memang ya, sehabis hujan ada pelangi--tapi pelanginya belum kelihatan HD, masih ada samar-samarnya."

Tak lama kemudian, Sopan kembali ke ruangan itu. Ia memberi sebungkusan pada (Mother). Lalu mereka berdua sarapan di sana.

"Besok kamu kembali berkuliah, 'kan?" ujar (Mother)

"Tentu, apa mama yang akan menjaga (Name) besok? Sore hari baru aku pulang,"

"Iya, kebetulan mama gak punya kerjaan di luar."

"... Baiklah."

Sopan kadang bisa banyak pikiran secara seketika, bila mertua dan ibunya bertemu. Ia tau, besanan itu bukan tipe besan yang akur. Takutnya malah terjadi perang bila diperhadapkan.

Sehabis sarapan, (Mother) membereskan sampah mereka untuk dibuang.

"Nak, mama ingin melihat cucu mama. Apa dia boleh dijenguk sekarang?" tanya (Mother)

"Tentunya boleh, kebetulan ini sudah masuk jam besuk. Aku bisa mengantarkan ke sana ... setelahnya kembali ke sini, untuk menjaga (Name)."

"Baiklah."

Mereka keluar dari ruang rawat tersebut, menuju ruang NICU, tempat bayi kecil dirawat secara intensif. Memasuki NICU, Sopan dan (Mother) segera mendekati si bayi.

(Mother) bisa melihat sebuah inkubator, berisi bayi kecil yang lahir pada waktu yang belum cukup. Bayi kecil yang harus berkelahi dengan penyesuaian diri di luar rahim dan juga alat-alat medis.

Petugas medis yang ada di situ sempat memberi instruksi pada (Mother) dan Sopan selama membesuk si bayi, agar terhindar dari hal yang kurang diperkenankan. Tentunya mereka mendengar dan menjalaninya dengan baik.

"Tumben aku melihatnya kemari."

(Mother) tersenyum tipis, melihat cucunya yang kecil itu. "Bukan masalah kok, nak. Di sini udah ada banyak petugas yang memantau, kamu juga sibuk menjaga (Name)."

"Aku jadi berubah pikiran untuk kembali ke ruang rawat."

"Ya udah, lihat anaknya dulu sebentar."

Sopan menyempatkan diri untuk berada di situ sebentar, melihat anaknya yang masih begitu lemah. Sopan jadi ada rasa kasihan melihat manusia kecil yang ia ciptakan, tanpa adanya rasa keinginan.

Walau begitu, ia akan berusaha merawat dan membesarkannya dengan kasih sayang, bersama (Name) tentunya.

Tak lebih lama lagi, Sopan memutuskan untuk kembali, membiarkan (Mother) di ruangan itu. Sopan membuka pintu kamar rawat (Name), ia mendekati (Name) yang tampak tak berbeda.

Pria itu pun duduk di kursi. "Untuk pertama kalinya aku melihat anak kita tadi, melihat perkembangannya belakangan ini. Kata dokter yang menanganinya, anak kita berangsur-angsur membaik dari baru lahir."

"Kamu sendiri, apa gak mau melihatnya? Dia pasti penasaran siapa ibunya, yang berbulan-bulan membawanya sampai bisa melihat dunia. Walau untuk sekarang, dunianya adalah NICU dan alat medis."

Sopan meletakkan kepala di pinggir kasur, jari-jemarinya mengelus tangan (Name) yang dekat dengannya.

Lalu, perhatiannya teralihkan pada monitor yang mendeteksi detak jantung (Name). Itu terus bergerak maju dengan bentuk yang tampak runcing.

"Betah banget kamu tidur. Biasanya juga, bangun paling awal." Mata Sopan melirik wajah (Name).

Suara monitor di situ sudah seperti lagu bagi Sopan. Hanya itu yang terus terdengar bila ia berjaga sendiri.

Tit, tit, tiiittt──

To Be Continued

Kugantung kalian semua, wahahahaha (qetawa jahad)

[ 15 Juli 2024 ]

Certainty [✓]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang