Chapter 15

1.2K 156 11
                                        

(Name) dilarikan ke rumah sakit untuk segera ditangani. Sopan pun sedang menunggu dengan khawatir.

Bermenit-menit kemudian, dokter pun keluar dari ruang penanganan, menghampiri Sopan untuk memberitahu kondisi (Name).

"Syukur, keadaan pasien sudah baik. Ibu dan anaknya selamat. Saya di sini menekankan agar kurangi aktivitas fisik yang berat, jaga kesehatan mental ibunya juga,"

"Baiklah, dokter. Terima kasih atas jasanya." Sopan mengiyakan ucapan dokter itu. Walau tak mungkin rasanya bisa menjaga (Name) selalu dari yang namanya stress.

"Kalau begitu, saya permisi."

Sopan segera pergi ke ruang rawat (Name). Masuk ke situ, terlihat (Name) yang terbaring dalam keadaan lemas. Sopan pun mendekatinya. Sopan duduk di kursi sebelah kasur, ia bisa melihat (Name) sudah sadar.

Sopan menyentuh kepalanya dengan lembut, dan itu membuat (Name) mengalihkan perhatian.

"Bagaimana perasaanmu?"

"Aku baik-baik aja."

Sopan tersenyum mendengarnya. "Baguslah. Istirahat yang banyak ya, untuk kedepannya aku usahakan untuk selalu menemanimu, agar hal ini gak terulang lagi."

(Name) hanya bergumam seraya mengangguk. (Name) dibuat terdiam dengan kejadian sore ini. Bisa-bisanya Fania sejahat ini padanya, walaupun pada akhirnya (Name) dan kandungannya dinyatakan selamat. Jika tidak? Bisa lebih kesakitan bagi (Name) dan jalannya akan berbeda lagi.

"Apa kamu perlu sesuatu?"

"Aku lapar ..."

Sopan mengukir senyuman lagi. "Baiklah, aku akan tinggalkan sebentar."

"Eh, tunggu dulu, bantu aku duduk."

Sopan melakukan itu, lalu ia menepuk kepala istrinya sejenak, kemudian keluar dari ruang rawat untuk membelikan makanan.

(Name) melirik ke arah perutnya yang masih besar dan menyimpan kandungan. Ia pun mengelus itu. "Kenapa kamu kuat banget, nak ... Banyak kali kita dikasih gempuran, kamu tetap aja di sini ... jika di tubuh orang lain, bahkan sampai ada yang keguguran." (Name) tampak termenung. Entah rencana indah apa yang akan terjadi nantinya, sampai segini kuatnya si janin bertahan.

"Ibu tadi gak sengaja jatuh, sampai pendarahan, kamu pun masih dinyatakan baik-baik aja." (Name) masih mengelus itu. "Kamu mau lahir, ya? Mau digendong ibu, hm?"

"Masih lama kamu lahirnya ... kita tunggu ya, semoga ada perubahan baik di depan sana."

(Name) sibuk sendiri mengajak anak di kandungannya mengobrol, sampai hampir tak menyadari Sopan sudah kembali dengan makanan. Sopan kembali duduk di tempatnya.

"Ini dia, selamat makan."

"Iya, kamu juga makan 'kan?"

"Tentu saja."

Mereka berdua pun makan dengan damai di situ. Mereka hanya fokus dengan makanan masing-masing tanpa berniat mengobrol, hingga pada akhirnya makanan semakin sedikit.

"Sampai kapan aku di sini?" tanya (Name)

"Aku belum tanya itu, dokter juga gak ada bilang kapan kamu boleh pulang. Kemungkinan besok pagi."

"Oh, baiklah ..."

(Name) meletakkan wadah makanannya yang sudah kosong. "Udah jam berapa ya?"

Sopan mengeceknya sebentar. "Petang."

"... Kakak udah mandi belum?"

"Kenapa tanya?"

"Soalnya tadi kamu tiba-tiba muncul dan bawa aku ke sini. Baru pulang dari kampus itu loh,"

"Em, aku bisa mandi besok."

"Kok besok sih,"

"Karena aku gak suka mandi malam, aku juga gak mau pulang ... nanti kamu sendirian di sini."

Mendengar itu, (Name) pun memalingkan wajah. "Ada suster kok. Lagian, lebih mentingin keinginan daripada kebutuhan?"

"Gak apa-apa, malam juga dingin."

"Ada yang namanya air hangat."

"Gak mau."

"Kamu kotor tau, masam, lengket, jelek pokoknya."

"Bukannya masih sama gantengnya?"

"Gaakk, kucel."

"Masa sih? Coba lihat," Sopan lebih mendekatkan tubuhnya pada (Name).

Membuat (Name) menahan pria itu dengan tangannya agar tidak lebih dekat. "Tuh kan, keringatnya campur parfum."

"Gak bau kan?"

"Jorook."

Sopan terkekeh, lalu kembali ke posisi duduk semula. "Yang penting gak bau."

"Dih, sejak kapan sih kamu jadi malas mandi gini? Kayak siapa gitu,"

"Bukannya malas, tapi aku mau menemanimu."

Lagi, (Name) menoleh dari Sopan. "Jorok pokoknya."

"Ya, ya, ya, jorok." Sopan diam sebentar sambil menatap (Name) dengan datar. "Awas aja nolak pelukan."

"Siapa juga yang mau dipeluk orang belum mandi."

"Kamu. Iya 'kan?"

"Iya, deh." (Name) pasrah, pada akhirnya mengaku juga.

Sopan menampakkan senyuman, lalu menepuk kepala (Name). "Kamu sendiri emang udah mandi?"

(Name) pula terdiam. 'Lah iya ya, aku tadi pulang cuma ganti baju.'

Sopan pun geleng-geleng kepala.

"Hehe." (Name) cengengesan.

===

Sudah jam malam, (Name) masih di situ dengan ditemani Sopan. (Name) kelihatan merem pada posisi bersandar, sementara itu Sopan sedang ada di kamar mandi rumah sakit.

Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka, menampakkan seorang wanita masuk ke situ dan mendekati (Name). Ia memperhatikan (Name) yang mulai membuka mata, lalu tersenyum.

"Tidur lelap, ya?"

(Name) menggeleng sambil membenarkan posisi duduknya. "Cuma merem, kok mama bisa datang?"

"Sopan yang kasih tau kalau kamu tadi sempat perdarahan. Sekarang udah baik-baik aja 'kan?" ucap (Mother)

(Name) menunjukkan senyum. "Aku dan bayiku baik-baik aja. Malah jadi laperan."

(Mother) tersenyum. "Syukurlah. Nih ibu ada jajan kesukaanmu." (Mother) menaruh tas berisi jajanan di meja sebelah kasur pasien.

"Makasih ya, bu, tau aja anaknya laper lagi."

"Haha, kan kamu emang selalu jajan. Tapi badan segini-gini mulu."

"Yang penting sehat dah."

Pintu kamar terbuka lagi, ada Sopan yang masuk ke kamar. Ia sudah langsung melihat ibu mertuanya, lalu segera menyalim tangannya.

"Gimana kabarmu akhir-akhir ini?"

"Baik, ma. Kapan mama datang?"

"Barusan. Baru tau (Name) masuk rumah sakit, langsung excited berangkat dari rumah."

Sopan senyumin aja. Ia pun menarik kursi dan duduk di situ juga. "Sendiri?"

"Iya, papanya sibuk."

Obrolan hangat pun berlangsung diantara mereka bertiga di situ.

To Be Continued

Selingan doeloe yea.

[ 06 Juli 2024 ]

Certainty [✓]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang