Chapter 19

1.1K 167 56
                                        

Surya kembali menyambut hari. Dari kemarin hari, Sopan menjaga (Name) di ruang rawat itu. Tak ada Fania, sebab wanita itu disuruh Sopan untuk pulang dan beristirahat di rumah saja.

Pria itu tampaknya baru mulai membuka netra, melihat ke arah (Name) yang masih tidur lelap. Dari kemarin Sopan duduk di kursi di samping kasur (Name), sampai tidur pun masih duduk. Sopan pun meregangkan tubuhnya. Ia lebih mendekati (Name), lalu mengecup pipinya.

"Selamat pagi."

Sebelum berkegiatan pagi ini, Sopan pergi mencuci muka terlebih dahulu supaya lebih segar. Setelahnya, kembali menghampiri (Name). Ia harus mengelap tubuh (Name) dengan tisu basah. Sebelumnya Fania pernah memberitahu itu pada Sopan, Sopan juga sudah tau tugasnya selama menjaga (Name). Dulu pun ia pernah begini, ketika menjaga ayahnya di rumah sakit.

Setelahnya, Sopan juga harus sarapan. Ia segera membeli sarapan di luarnya. Tak lama kemudian kembali ke ruang rawat (Name) dan sarapan di sana.

Seharian ini, Sopan akan menjaga (Name) seandainya tak ada kegiatan berkuliah. Sudah memasuki Hari Sabtu alias hari libur, harusnya tak ada kelas dadakan, yang membuatnya bisa bebas dari kampus untuk sejenak.

Setelah sarapan, Sopan meletakkan wadahnya dengan rapi di atas meja. Ia kembali memperhatikan (Name).

"Mau tau? Anak kita sudah lahir. Dia masih harus mendapat penanganan rumah sakit selama beberapa hari ke depan, karena lahirnya prematur dan kondisinya pun rentan."

"Aku ingat, kamu selalu saja membayangkan gimana nanti anak kita setelah lahir ... pasti menggemaskan, ya? Untuk sekarang sih belum terlihat. Dia masih sangat kecil dan keriput."

"Cepat bangun ya, agar kita bisa menggendongnya, mengobrol dan bercanda dengan anak kita." Tangan Sopan mengelus kepala (Name) dengan halus.

"Aku merindukanmu."

Tangan Sopan terus mengelus pucuk kepala (Name). Tak jelas rasanya kerinduan yang Sopan rasa, pokoknya ia sangat merindukan (Name) sekarang ini. Ia masih terngiang dengan kemarin siang. Baru tadinya mereka mengobrol secara online, selepasnya tiba-tiba saja (Name) bermandikan darah.

Sopan lebih memajukan wajahnya ke wajah (Name). Dapat dilihatnya wajah yang tenang, seolah sedang beristirahat dan tak mau diusik sedikitpun. Mata Sopan memejam, lebih mendekat lagi wajah mereka.

Tok, tok, tok

Ketukan pintu membuat Sopan menarik tubuhnya kembali, kembali duduk tegak. Jelas ia kaget dengan ketukan pintu yang tiba-tiba terdengar, dan sejujurnya itu sangat mengganggu bagi Sopan.

"Silakan masuk."

Pintu terbuka, tampaklah seorang lelaki seumuran Sopan masuk ke situ, yang tak lain merupakan Gentar. Lelaki itupun duduk di sofa, berhadapan dengan Sopan.

"Ganggu gak, nih?"

"... Kamu sendiri sudah duduk di sini. Masa aku mengusirmu."

"Hehehe." Malah nyengir.

"Apa keperluanmu ke sini?"

"Main lah, nemenin lo yang lagi galau, di rumah juga gua bosan. Mending di sini, sekalian gangguin yang lagi bucin."

"Gak ada yang bucin."

"Alahh, lo kayak bohongin anak kecil aja."

Sopan hanya mampu menghela napas. Ia kembali melirik (Name) yang tak berbeda.

"Gimana keadaan (Name) sekarang?"

"Masih tidur lelap."

Gentar jadi ikut melihat ke arah (Name). Benar-benar seperti orang yang tidur lelap, pikirnya.

Certainty [✓]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang