"Aby bangun, oh Aby bangun, kalau enggak bangun, susunya diambil ayah."
Pagi-pagi (Name) sudah menyanyikan bayi kecilnya yang sedang tidur lelap. Biasanya bayi itu pasti bangun pada pagi buta, mendahului orang tuanya, tapi Abyan masih tidur lelap setelah terakhir menyusu jam tiga pagi tadi.
"Raja tidur, ayo bangun. Matahari udah terik loh. Tumbenan kamu betah banget bobonya."
Dari baru bangun pagi, (Name) sibuk menunggu Abyan bangun, sampai dirinya tak sarapan. Tak ada Sopan yang ia ajak suap-suapan. Kalau Abyan malah terbangun disedang (Name) tinggal sebentar, takutnya malah nangis kejer. (Name) tak mau mendengar tangisannya.
Eh, sudah ditemani dari tadi, malah tak kunjung bangun. (Name) sampai gelitikin juga tak mau bangun. Ditaruh di kasur juga malah makin lelap.
Tok, tok, tok
(Name) menoleh, mendengar ketukan pintu. "Masuk."
Pintu terbuka, tampak seorang wanita paruh baya masuk dengan nampan. "Sarapan, nak. Dari tadi banget kamu gak keluar kamar." Fania pun meletakkan nampan itu di atas laci.
(Name) tersenyum tipis, tak banyak respons terhadap Fania. Wanita tersebut pula mendekat pada (Name).
"Sarapan dulu, Abyan biar sama ibu."
Karena (Name) juga sudah lapar, ia mau menyerahkan Abyan pada ibu mertua. Entah kenapa ajaib sekali, Abyan tampak mulai bangun setelah berpindah tangan.
(Name) badmood dibuatnya. "Dari tadi sama ibu gak bangun-bangun. Kenapa sih, nakk."
Fania terkekeh, sedikit membenarkan gendongannya. "Yah, mau bagaimana lagi. Sudah, sana makan."
(Name) pun mengambil isi nampan, lalu duduk di pinggir kasur, memulai sarapan yang agak telat. Sambil sesekali melihat anaknya yang sedang bersama neneknya.
Pada akhirnya, sarapan (Name) selesai. Ia pun bangun dan mengambil nampan yang masih di sana, sampai Fania bertanya, "Mau kemana nak?"
(Name) menatap ke arahnya. "Ke dapur, naruh ini."
"Jangan, taruh aja dulu. Biar ibu yang pindahin ke dapur."
"Cuma sampai dapur, bu. Ibu aja yang di sini, sama Abyan."
"Udah, kamu yang bawa Abyan nih," Fania menyerahkan bayi kecil tersebut pada tangan kosong (Name). Lalu, wanita itu pergi ke dapur dengan alat makan terpakai tadi.
(Name) iya-iya saja, kembali berinteraksi dengan bayi antengnya.
===
Sudah siang, (Name) masih di rumah bersama anaknya. Kebetulan cuma berdua, sebab Fania sudah hilang ke tempat bekerjanya. Rasanya sangat gabut karena semua sudah terurus, Abyan juga anteng banget rebahan di kasur, membuat (Name) bingung harus ngapain lagi.
(Name) berdiri, melihat ke arah jendela kamar. Yang bisa (Name) lihat dari situ adalah jalanan. (Name) pun menghela napas.
Beberapa menit kemudian, muka datar dan masamnya perlahan mulai berubah saat melihat ada motor yang dikenalinya, tampak bergerak memasuki rumah.
Apalagi begitu pintu terbuka, menampakkan Sopan yang pulang dari kampus. (Name) langsung menyambutnya dengan senyum manis.
Sopan tentu membalas itu dengan senyuman khasnya. "Bagaimana kabarmu, selama aku tinggal?"
"Hehe, baiikk. Dari tadi juga Aby gak rewel, anteng pokoknya."
Sopan pun beralih pada anaknya yang kelihatan asik sendiri. "Bagus lah. Aku akan mandi dulu, baru main dengan kalian."
KAMU SEDANG MEMBACA
Certainty [✓]
Fanfiction୨⎯ BoBoiBoy Sopan w/ Female!Readers ⎯୧ Pahit di awal, manis di akhir‼️ (Name), gadis baik-baik dan termasuk anak pintar di sekolahnya, malah harus terjerumus ke dalam pernikahan dini yang diakibatkan kehamilan pranikah. Sopan, lelaki baik-baik yang...
![Certainty [✓]](https://img.wattpad.com/cover/371248822-64-k704315.jpg)