Hari sudah pagi lagi, matahari juga mulai menyembul dari ufuk timur. Tampaknya pasutri muda kita masih tergulung selimut dengan mata tertutup.
Kemudian, salah satunya mulai membuka mata dengan pelan. Melihat sekitaran, dan berakhir pada jam dinding yang menunjuk ke angka enam. Kedua netranya melirik ke sebelah, pada pria yang masih tidur.
Dengan sengaja ia mencubit hidungnya. "Dasar."
Merasakan cubitan itu, Sopan mulai bangun pagi. Menatap wajah di hadapannya, kemudian senyuman terulas.
"Pagi."
(Name) membalasnya dengan tatapan datar. "Tengil banget, sih."
Sopan hanya terkekeh mendengar ucapan tersebut. "Ngambek, nih?"
(Name) tak bersuara, tetapi dari raut mukanya sudah tersimpulkan jawabannya.
"Kenapa harus ngambek, memang kamu gak menikmatinya?"
Bugh
Bantal guling terlempar, dan Sopan langsung menurunkannya dari mukanya. "Enggak, ya?"
"Ish, diem! Sakit badanku ini!"
"Oh, iya? Nanti juga membaik. Istirahat saja seharian."
Muka (Name) cemberut, masam semasam-masamnya. Soal menikmati itu, iya, ia akui, tapi tak mau mengatakannya di hadapan Sopan. Konsekuensinya, malah begini.
Rasanya agak dejavu.
===
"(Name) dimana, nak? Mama gak lihat dia dari tadi."
Sopan beralih pada mertua wanitanya. "Dia sedang istirahat, katanya gak enak badan."
"Ohh, jadi sekarang gak ikut sarapan, nanti kamu yang bawain, ya."
"Tentu."
Cahyana pura-pura batuk. "Gak enak badan, katanya."
Seolah dia tau sesuatu.
Habis melakukan sarapan sekeluarga, sebagian ada yang bersantai dan juga sibuk. Abyan kini sedang duduk di sofa bersama ayahnya.
"Ayah kemayin malam ngapain?"
"Tidur dong, 'kan malam."
Abyan tak puas dengan jawaban itu, lalu menggeleng. "Ndakk, kata Om Nana, ayah lagi buat cecuatu sama ibu. Makana kemalin aku tidulna cama Om Nana."
Sopan diam dulu. Lalu ia geleng-geleng kepala. "Om Nana bilangnya apa?"
"Buat adek."
Singkat, padat, buat adek.
"Oh, oh! Ibu cekalang dimana?"
"Ibu di kamar. Kamu mau ketemu ibu?"
"Mauu! Dayi tadi Abi ndak iyat ibu. Abi kangen."
Sopan senyumin saja, pikirnya, sudah seperti ditinggal setahun, sampai kangen-kangenan begitu.
"IBUUUU!"
(Name) sedang duduk juga bersandar di kasur, langsung menyambut Abyan yang datang dengan riangnya. Balita itu berlari kecil ke arah (Name), dan langsung menubruk (Name) dengan pelukan. Seketika saja (Name) meringis.
"Aw ..." lirihnya
Abyan kaget. "Eh? Ada yang cakit, ya, bu?"
"Eh, enggak, nak. Ibu cuma--sedikit pusing."
Seketika tangan Abyan terulur ke arah kepala (Name), mengelus kepala tersebut yang katanya terasa pusing. (Name) merasa gemas melihat kelakuan anaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Certainty [✓]
Fanfiction୨⎯ BoBoiBoy Sopan w/ Female!Readers ⎯୧ Pahit di awal, manis di akhir‼️ (Name), gadis baik-baik dan termasuk anak pintar di sekolahnya, malah harus terjerumus ke dalam pernikahan dini yang diakibatkan kehamilan pranikah. Sopan, lelaki baik-baik yang...
![Certainty [✓]](https://img.wattpad.com/cover/371248822-64-k704315.jpg)