"Hari ini, kamu pulang, 'kan?"
"Iya, sayang. Tunggu aku di rumah."
"Tentu. Aku selalu menunggu kamu."
Sudah selama lima hari Sopan berada di sana, yang artinya pagi ini ia akan pulang, kembali menemui keluarga di rumah. (Name) yang telah tau itu tentunya sudah begitu excited menunggu kepulangan suami. Lima hari dia gak pelukan sama Sopan.
"Ibuuuuu ..."
Setelah mengusaikan panggilan, ada panggilan lain yang merupakan rengekan anak. Ada anak kecil yang datang pada (Name) dengan muka sedih.
"Kenapa, nak?" (Name) menunduk, mengelus kepala Abyan.
Abyan pula memeluk kaki (Name) dengan kepala mendongak. "Abi kangen ayaahh ..."
(Name) tersenyum tipis. "Sabar ya, bentar lagi ayah pulang, kok."
"Masaa? Kok ibu tauu?"
"Tau dong, ayah kamu yang bilang barusan."
"Kok ayah ndak biyang ke Abi?! Ayah ndak kangen Abi, ya?!"
"Siapa yang bilang gitu?"
"Habis naa, ayah ndak kabayin Abi!"
(Name) terkekeh, lalu menggendong putranya. "Enggak dong, Ayah juga kangen bangeett sama Abi, ayah terus tanyain Abi. Udah pernah lihat ayah juga 'kan di HP? Aby 'kan gak punya HP, gimana mau dikabarin ayah sering-sering,"
"Ya udah, kasi Aby HP aipon."
(Name) menautkan alis. "Tau aipon dari mana kamu?"
"Om Gental."
(Name) geleng-geleng kepala. "Nanti deh ya, kalau udah besar. Ke luar kamar yuk."
Setibanya di luar kamar, di tangga menuju lantai pertama, mereka sudah bisa melihat seorang tamu yang main masuk aja. (Name) cuma bisa geleng-geleng kepala.
"Sopan belum sampai rumah." ucap (Name)
"Aku mau nyari anaknya, bapaknya entaran aja."
(Name) segera turun tangga, kemudian menurunkan anaknya yang sudah tak sabar menemui sohibnya itu (sohib kok bapak-bapak).
"Kalian mau keluar rumah?"
"Iya, rencananya begitu. Gak lama kok, sejam aja balik lagi."
"Ya udah deh, jagain anakku baik-baik."
"Siap!"
Ditinggal anak, (Name) mulai menyibukkan diri di dapur. Ia memutuskan untuk membuat camilan sehat untuk dirinya.
"Lama juga ya dia balik ..."
Ada selama setengah jam (Name) asik di dapur, (Name) pun keluar dan pergi ke ruang tamu. Mulai ngemil sambil nontonin HP, hanya sendiri di situ. Sambil menonton HP itupun, (Name) berharap tiba-tiba ada panggilan ataupun pesan dari Sopan.
Tak terasa sampai Gentar dan Abyan pulang dari jalan-jalan, (Name) masih sibuk menunggu Sopan pulang. Merana.
"Sopan belum sampai rumah, ya?" ucap Gentar
(Name) menoleh, "Belum. Mungkin bentar lagi sampai, toh dari situ sampai sini jauh, makan waktu sejam lebih."
"Ohh ..." Gentar duduk di sofa single. "Jadi ikutan kangen sama temanku satu itu. Soalnya selama kuliah, aku suka minjem duitnya."
(Name) menatapnya dengan datar. "Pantes tiap pulang kuliah, aku jarang banget dibawain oleh-oleh sama Kak Sopan."
Gentar terkekeh. "Habis minjem juga balik, kok."
(Name) melanjutkan ngemilnya lagi, lalu tiba-tiba mendapat panggilan dari kontak bernama 'Luv ♛'. Dengan semangat (Name) mengangkat telepon tersebut. Gentar cuma nyimak.
"Halo, kak, ada apa?" ucap (Name) dengan binar-binar semangat di mukanya.
Mendengar balasan dari seberang, semangat di muka (Name) menurun. Senyumannya pun perlahan sirna.
"Dengan istri dari pemilik HP? Saya warga sekitar, emm, pemilik HP ini mengalami kecelakaan. Sekarang sedang dibawa ke rumah sakit."
Gentar menyadari perubahan raut di wajah (Name). Tadinya semangat, sekarang kayak mau nangis. Gentar pun mengambil alih handphone di tangan (Name).
"Halo, ada apa ini? Dengan siapa di sana?"
"Saya warga sekitar, yang punya HP ini mengalami kecelakaan dan sekarang sedang dibawa ke rumah sakit."
Gentar mencoba tetap tenang. "Rumah sakit mana, pak?"
"Rumah Sakit Sehat Selalu. Sebentar lagi kami tiba. Dah ya, cuma itu yang bisa saya kasih tau."
"Oh iya, pak. Terimakasih infonya, nanti akan kami tindak lanjuti."
Usai teleponan, bahu Gentar sudah dibasahi air mata serta ingus (Name). Air mata tak sanggup (Name) tahan begitu tau orang yang (Name) nantikan sedari tadi mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang dari keluar kota.
Padahal tadi janjinya pulang, malah mampir ke rumah sakit.
Gentar berusaha menenangkan istri temannya itu, walaupun gak ngaruh, dan semakin menangis. Abyan dari tadi ada di situ, ia cuma nyimak, tak paham kenapa tiba-tiba ibunya menangis kencang di bahu lelaki lain.
"Ibu kenapa, om?" tanya Abyan
"Eh ... ohhh, ini, ibu kamu lagi cuci mata. Biar segar matanya."
Abyan malah bingung. "Cuci mata? Kok nangis?"
"Emang harus nangis dulu! Kan cuci mata pakai air, nah yang paling bagus itu pakai air mata daripada air keran."
Gentar sok ngelawak aja di hadapan Abyan yang polos, padahal dirinya juga syok setelah tau temannya kecelakaan.
Tak lama kemudian, tangisan (Name) mereda, tak lagi terisak di bahu Gentar. Hanya agak sesenggukan dan sedang menenangkan diri.
"Udah, jangan nangis terus. Ingat, kamu juga lagi hamil, sedih terus bisa ngaruh ke kandunganmu."
Dengan muka habis nangis, (Name) menyahut, "Gimana aku gak nangis, Kak Sopan tadi ngabarin bakal pulang, kenapa pulangnya bukan ke rumah, malah ke rumah sakit?!"
"Ssstt, gak ada yang ngarepin ini terjadi. Yang penting sekarang, Sopan udah ditangani. Kamu-nya jangan nangis terus." Tangan Gentar pun terulur, meraih (Name) untuk dipeluk.
"Eh, eh! Plit plit! Cetop!"
Dua orang dewasa itupun kaget dan seketika terlerai, menatap bocah kecil di dekat mereka.
"Stop apaan, cil?" ujar Gentar
Alis tipis Abyan tertaut. "Dacal Om Gental lifebuoy! Balu tadi Abi liyat Om godain cewek. Teyus cekalang mau peyuk ibu aku?!"
"Ndak ada yang boyeh peyuk-peyuk ibu, tau! Yang boyeh cuma ayah dan aku!" ucap Abyan dengan garang pada Gentar.
"Lah? Siapa yang bilang?"
"Om-nya Abi! Om Nana!"
"Dih, aki-aki gak laku itu kamu percayain. Gak usah didengar, dia tuh jomblo."
Akibat interaksi mereka berdua, membuat (Name) tertawa kecil. Apalagi ekspresi Abyan yang lucu di mata (Name).
Melihat (Name) tertawa, Gentar jadi ikut tersenyum. Setidaknya, ia tak sedih lagi setelah yang sudah terjadi.
"Oh ya, (Name), aku akan menyusul ke rumah sakit. Sekalian, ngasih tau Tante Fania."
"Aku mau ikut."
"Kamu di rumah aja, sama Abyan. Nanti kalau Sopan udah selesai ditangani, aku jemput deh."
"Umm, baiklah."
•
To Be Continued
Sedihnya hati ... (besok sekolah)
[ 16 September 2024 ]
KAMU SEDANG MEMBACA
Certainty [✓]
Fanfiction୨⎯ BoBoiBoy Sopan w/ Female!Readers ⎯୧ Pahit di awal, manis di akhir‼️ (Name), gadis baik-baik dan termasuk anak pintar di sekolahnya, malah harus terjerumus ke dalam pernikahan dini yang diakibatkan kehamilan pranikah. Sopan, lelaki baik-baik yang...
![Certainty [✓]](https://img.wattpad.com/cover/371248822-64-k704315.jpg)