Chapter 24

1.4K 154 35
                                        

Tiga hari tambahan di rumah sakit sudah terlalui, hari ini (Name) sudah bisa pulang bersama anaknya.

Selama perjalanan, tak lepas (Name) memandang anaknya. Seperti, ada rasa tak menyangka, ia selama ini bisa membawa anak sekecil ini di dalam kandungannya, dan sekarang anak kecil tersebut sudah berada di luar rahimnya. Kadang kala, (Name) bisa merasa tak menyangka bahwa ini anaknya sendiri.

Sekarang, semua sudah di rumah, (Name) sedang di kamar bersama anaknya. Sedari tadi bayi kecil tersebut tidur dengan lelap, saking lelapnya (Name) sampai mengecek pertukaran udara di lubang hidungnya dengan menggunakan jari, memastikan apa masih ada atau tidak.

Di kamar mereka saat ini, sudah tersedia beberapa--banyak kelengkapan bayi. Sopan yang mengurus itu, awalnya tanpa sepengetahuan (Name), tapi lama-lama (Name) tau dengan sendirinya sebab adanya rak khusus skincare bayi dan juga pampers di kamar mereka. Sudah dari jauh-jauh hari, bahkan dari kandungan (Name) masih kecil, Sopan merencanakan itu, agar tidak tergesa bila malah baru diadakan ketika mendekati hari kelahiran. Kebetulan, anak mereka lahir lebih awal, sekarang jadinya santai dan bisa fokus pada si anak.

Sopan juga ada di kamar yang sama, ditemani pakaian yang baru dibawa pulang dari rumah sakit. Ada banyak, terutama pakaian kotor yang harus segera masuk mesin cuci. Sopan sedang sibuk menyortir itu semua.

"Kak ... siapa namanya?" tanya (Name)

Sopan beralih pada (Name). "Aku belum memberinya nama. Menurutmu, nama apa yang bagus untuknya?"

"Umm, sebelumnya aku sempat searching, cari tau nama-nama bayi yang bagus." ucap (Name), "Dan aku nemu, Abian."

"Tapi aku plesetin lagi jadi Abyan. Pakai Y."

Sopan mengangguk mendengar penjelasan (Name). "Nama yang bagus, artinya pun juga,"

"Iya, dinamai begitu biar dia gembiraa terus."

Sopan tersenyum. Ia sudah selesai mengumpulkan pakaian kotor yang siap masuk mesin cuci. "Aku harus ke belakang, sebentar ya."

(Name) cuma membiarkan Sopan pergi dengan tumpukan pakaian kotor miliknya. Merasa membebani Si (Name) tuh, tapi ia sendiri belum bisa kembali produktif seperti biasanya, dan juga Sopan tak membiarkan (Name) beraktivitas lebih banyak.

Tiba-tiba, si bayi mulai menangis. (Name) pun menoleh ke arah bayi itu--panggil saja Abyan--lalu mencoba menenangkannya agar tangisannya bisa mereda, tapi tidak juga, dan itu membuat (Name) cemas. Terus dipuk-puk pun, anaknya tak kunjung berhenti menangis. (Name) jadi semakin cemas dengan napas yang memburu.

"Arrghh! Ngapain nangis, sih!"

Untung ada Sopan yang baru kembali ke kamar dan melihat istrinya begitu. Ia segera mengambil alih si bayi dari (Name), giliran ia memenangkan anaknya ditambah menenangkan (Name).

Ini rasanya punya dua anak.

"Tolong buat dia diam, kak, aku gak suka dengarnya!"

"Iya, tenangkan dirimu dulu, (Name). Atur pernapasan, jangan gelisah berlebihan."

(Name) mulai melakukan yang dikatakan Sopan, secara kebetulan anak di dekapan Sopan jadi ikut mereda. (Name) yang sudah bisa tenang pun menghela napas panjang dengan muka yang layu.

"Aku gak bisa ..."

"... Aku menemanimu, jadi jangan khawatir. Ini semua akan cepat berlalu." Sopan pun menyandarkan kepala (Name) di bahunya.

"Kenapa sih harus pakai nangis ..."

Sopan menghela napas. "Namanya juga bayi, (Name). Belum bisa berbicara dan mengeluh apa yang dia rasakan. Kalau haus nangis, buang air nangis, ngantuk nangis, ya karena dia gak bisa bilang. Makanya aku pernah bilang jadi orang tua itu harus siap mental juga, tapi karena keadaannya terdesak begini, kita harus menjalaninya, siap ataupun gak siap."

Certainty [✓]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang