Pagi ini, (Name) mulai membuka mata, bangun dari tidurnya. Pupil matanya bergerak melihat sekitar, yang masih merupakan ruang rawat di rumah sakit. Di dekatnya ada Sopan yang sedang tidur dalam posisi duduk.
(Name) bernapas tenang, dirinya merasa tenang dan lebih sadar. Pancaran matanya terlihat, tidak kosong seperti kemarin hari, apalagi kemarin (Name) cuma bengong dan tidak merespons siapapun.
(Name) sedang diam, seolah dirinya habis di-restart. Kepalanya terasa kosong, ia merasa tak ingat dengan apa yang terjadi sampai dirinya terbangun di tempat ini.
Lalu, tangan (Name) mengarah ke perutnya. Ia ingat kalau perutnya itu sedang besar karena berisi anak, tapi saat baru disentuh rasanya datar. (Name) seketika panik dan melihat perutnya sendiri.
"Hngg ... kenapa ini ... anakkuu,"
Suara (Name) mampu membangunkan Sopan. Pria itu langsung mengarah ke (Name) yang kelihatan sedang panik. Ia yang baru bangun pun mencoba menenangkan istrinya.
"(Name), tenanglah, anak di kandunganmu baik-baik saja."
(Name) menatap Sopan, tak luput dengan kekhawatiran. "Anakku manaa ..."
"Dia sudah lahir, tenanglah. Dia baik-baik saja selama ini." Sopan mengelus kepala (Name).
Perlahan-lahan (Name) kembali tenang, napasnya kembali beraturan. Sopan pun ikut merasa lega. Lalu, ia segera mengambilkan minuman untuk (Name) dan membantu (Name) meminumnya.
"Dimana dia sekarang?" tanya (Name) dengan pelan.
"Anak kita masih dalam penanganan rumah sakit. Dia lahir prematur, dengan berat hampir mencapai dua setengah. Sejauh ini, kondisinya semakin baik."
(Name) pun bisa tersenyum mendengar itu. Mata (Name) sayu dan rasanya ia ingin jatuh dalam dekapan hangat. Sopan terusan memberinya afeksi agar dirinya merasa tenang.
"Kamu, Kak Sopan 'kan?"
Sopan seketika terdiam mendapat pertanyaan itu. "Tentu saja ... kamu, lupa denganku?"
(Name) menatap muka Sopan. "Enggak ... cuma lagi mengingat. Aku gak yakin ini Kak Sopan, suamiku."
Sopan tersenyum tipis. "Kamu sendiri masih ingat dengan namanya, cara memanggilnya, cara menatapnya, gak mungkin kamu lupa dengan orangnya. Intinya, aku ini Kak Sopan-mu, suamimu."
"Oh ..." (Name) merasa mengantuk lagi karena elusan lembut Sopan yang tak berhenti.
"Oh ya, aku akan memanggilkan dokter untuk memeriksamu lagi."
(Name) cuma diam, ia mengiyakan ucapan Sopan. Suaminya itu segera memanggil dokter untuk (Name), tak lama kemudian kembali lagi pada (Name).
(Name) seketika merespons kedatangan Sopan dengan tangan terulur, seolah meminta agar Sopan di situ terus menemaninya.
"Tenanglah, aku gak kemana-mana, (Name)."
(Name) cuma diam dengan itu, tak meresponsnya dengan ucapan, ia sedang menatap tangannya sendiri yang memegang tangan Sopan.
"Kamu akan diperiksa, lepas sebentar, ya?"
"... Tapi kamu jangan kemana-mana."
"Tentu saja."
Dokter pun datang, mulai memeriksa keadaan (Name).
"... Dia siapa, kak? Kok megang-megang aku?" bisik (Name)
"... Dia dokter, (Name), bukan orang jahat kok."
"Oh, kirain ... aku gak kenal soalnya."
Si dokter pura-pura gak denger aja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Certainty [✓]
Fanfiction୨⎯ BoBoiBoy Sopan w/ Female!Readers ⎯୧ Pahit di awal, manis di akhir‼️ (Name), gadis baik-baik dan termasuk anak pintar di sekolahnya, malah harus terjerumus ke dalam pernikahan dini yang diakibatkan kehamilan pranikah. Sopan, lelaki baik-baik yang...
![Certainty [✓]](https://img.wattpad.com/cover/371248822-64-k704315.jpg)