Gemericik hujan tampak berjatuhan satu sama lain ke bumi. Suara pertemuan air dan tanah seolah menjadi musik di telinga. (Name) tengah berdiri di depan cafe, menunggu air berhenti berjatuhan dan mengizinkannya untuk ke luar cafe.
"Kapan pulangnya kalau gini ..."
(Name) merasa agak gundah. Padahal, sehabis menghabiskan satu jam me time di cafe, niatnya (Name) pulang, saat baru ke luar dari pintu cafe, tiba-tiba malah hujan. Anaknya di rumah sudah merana bersama sang ayah.
(Name) memutuskan untuk duduk di kursi-meja outdoor, dari pada masuk lagi untuk duduk. Di situ pun aman, tak terkena cipratan air hujan. (Name) memainkan handphone dengan niat video call bersama Sopan.
Tak lama, panggilan diangkat oleh subjek di seberang. Tampaklah muka dua orang laki-laki yang mirip.
"Kapan pulang?"
Suara itu langsung datang dari seberang, secara bersamaan oleh dua laki-laki tersebut. (Name) pun terkekeh.
"Sabar ya, lagi hujan. Gimana ibu bisa pulang?"
"Mending aku jemput, ya. Di sini gak hujan, cuma masih mendung. Daripada kamu berlama-lama di sana."
"Baiklah, aku tunggu."
"Ibu tunggu, yaaa! Abi yang demput ibu!"
(Name) terkekeh. "Oh, iya? Bukannya ayah yang jemput?"
"Iya, cama ayah."
(Name) tersenyum. "Iya, sayang, ibu tunggu kok di sini."
Panggilan masih tersambung, hanya saja mereka cuma diam-diaman. (Name) menunggu dua laki-lakinya datang sembari menonton hujan. Hujan tampak turun dengan melodi yang menenangkan, membuat (Name) ikut merasakan ketenangannya.
Beberapa kenangan jadi teringat bila melihat hujan.
"Melamun. Mikirin apa?"
(Name) melirik ke layar handphone-nya. "Ada-ada aja kok." Kembali (Name) melihat air hujan di hadapannya.
Sambil menunggu, menonton hujan, akhirnya jemputan (Name) tiba, ditandai dengan seruan Abyan dari kejauhan di tengah hujan.
"Ibuuu! Abi dataang!"
Begitu mobil berhenti, dekat dengan (Name), dengan semangat Abyan mau membuka pintu, ya walaupun dia sendiri tak paham bagaimana caranya agar pintu terbuka.
"Sabar, nak. Kita ke luar sama-sama." ujar bapaknya seraya mengambil payung.
Dua prajurit (Name) pun ke luar dari mobil, menghampirinya dirinya yang sekarang sudah berdiri dari duduknya.
"Ibuuu, kangeen!" Abyan pun memeluk (Name).
(Name) memperhatikan Abyan yang memakai style hujan. Jaket berbahan plastik, sepatu but, tak lupa topi payung. Lucu banget.
(Name) mencubit pipi anaknya dengan pelan. "Iyaa, ibu juga kangen. Sekarang pulang, yuk. Lama-lama di sini nanti kedinginan."
Abyan menatap (Name) dengan polosnya, sekilas melihat pakaian yang ia pakai. "Ndak, Abi ndak dingin, dah pakai jaket."
"Sebaiknya kita langsung pulang. Iya, kamu gak dingin, Bi. Tapi ibu."
Abyan kembali melihat (Name) dengan sepasang mata besarnya. "Iya juga ya." Lantas, ia maju, mengambil salah satu tangan ibunya. "Ayo puyang."
(Name) tersenyum melihat laki-laki kecilnya, romantis seperti suaminya. Entah perempuan beruntung mana yang akan jadi istrinya kelak, yang pastinya akan diperlakukan romantis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Certainty [✓]
Fanfiction୨⎯ BoBoiBoy Sopan w/ Female!Readers ⎯୧ Pahit di awal, manis di akhir‼️ (Name), gadis baik-baik dan termasuk anak pintar di sekolahnya, malah harus terjerumus ke dalam pernikahan dini yang diakibatkan kehamilan pranikah. Sopan, lelaki baik-baik yang...
![Certainty [✓]](https://img.wattpad.com/cover/371248822-64-k704315.jpg)