Suara tangis bayi sudah jadi musik sehari-hari di rumah. Sebab hal-hal kecil pun membuat si bayi mudah menangis, tergantung kondisinya juga.
Jatuh karena ulahnya sendiri, nangis. Tak ada yang diajak main, nangis. Kenyataan tak sesuai keinginannya, nangis juga. Memang macam-macam kelakuan balita, ya namanya juga tumben hidup.
Balita itu tak lain adalah Abyan. Bayi kecil (Name) yang telah berusia tiga tahun, sebentar lagi akan empat tahun. Anaknya cukup aktif, padahal ibu ataupun ayahnya kalem. (Name) jadi mempertanyakan, apa benar ini anaknya dan Sopan.
Namun, yang namanya balita, pasti aktif, selagi tidak menjadi masalah tidak apa-apa.
"Aduh, sayang ibu, kepalanya jadi nambah gede deh. Sini, sini, kita obatin, yaa." (Name) menggendong balitanya yang masih menangis, agar dibawa ke sofa untuk diobati.
"Kak Sopan, tolong ambilin obat, ini Abyan benjol jidatnya." ucap (Name), agak teriak agar didengar. Lalu, lanjut menenangkan anaknya yang masih nangis kejer.
Dengan gerakan kilat, Sopan datang membawa pertolongan pertama untuk mengobati anaknya tersebut. (Name) segera memulai pengobatan terhadap benjolan di jidat Abyan.
"Nah, udah, gak sakit lagi 'kan?" (Name) selesai mengobati anaknya. Kelihatan Abyan masih agak sesenggukan.
Anak itu merentangkan tangan, (Name) pun menyambut pelukannya dengan lembut, memberi kenyamanan padanya. Sampai-sampai Abyan ketiduran.
(Name) tersenyum tipis. Ia pun menggendong bayinya, segera membawanya ke kamar agar tidur di kasur. Sopan cuma no comment dan tak mau mengganggu.
Tepat sehabis (Name) baru balik dari kamar, pintu utama terdengar diketuk. Sopan menghampiri, ia membuka pintu dan mendapati temannya datang. Teman rasa saudara, Gentar.
"Dateng lagi?"
Gentar menyengir lebar. "Iya dong, mau lihat ponakan. Mana dia?"
"Dia barusan tidur, kak. Gak bisa main sekarang, ya." ucap (Name), menyahut ucapan Gentar.
"Yah ... ya udah lah, sama bapaknya aja kalau gitu."
Sejak Abyan berusia satu tahun, Gentar mulai rajin datang ke rumah temannya, kebanyakan untuk bermain bersama Abyan. Sampai-sampai dua laki-laki beda generasi itu sudah seperti bapak dan anak.
Sebenarnya, dari Abyan belum bisa ngapa-ngapain selain nangis, minum, dan eek, Gentar ada niat untuk sering-sering main dengan anak temannya itu. Dasarnya memang suka anak kecil. Tapi, ada saja yang melarangnya, contohnya tugas kuliah, dan juga waktu bersama pacar. Jadinya, cuma bisa menanyakan Abyan bila sudah bertemu dengan bapaknya.
Akhir-akhir ini, Gentar sudah kelihatan sering datang, karena sudah lulus dari dunia kuliah yang membuat hidupnya lebih santai. Kadang pun kalau sempat ia mengajak ponakan gadungannya jalan-jalan. Orang-orang sampai mempertanyakan, bapaknya Gentar atau Sopan.
"Kakak-kakak sekalian, mau disajikan apa?" (Name) tersenyum
"Umm, apa aja deh, (Name), asal buatan kamu aku terima." Gentar mengedipkan sebelah matanya. Membuat Sopan melempar lirikan tajam untuk dirinya yang kini cengengesan.
Aku sebut Gentar pemberani (berani menggoda istri teman di hadapan temannya).
Sejak terbiasa berinteraksi dengan (Name), karena Gentar sering datang, membuat Gentar berani menggoda (Name). Cuma sekadar kata-kata manis dan kedipan mata. Katanya sih, bercandyaa, (Name) juga tak menanggapinya dengan serius, meski awal-awal ia agak takut dengan kelakuan Gentar yang ini.
"Ya udah lah, tunggu ya." (Name) pergi ke dapur.
Tak lama, kembali dengan nampan berisi minuman dan juga makanan ringan. Setelahnya, (Name) pergi dari situ dengan alasan mau menjaga Abyan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Certainty [✓]
Fanfiction୨⎯ BoBoiBoy Sopan w/ Female!Readers ⎯୧ Pahit di awal, manis di akhir‼️ (Name), gadis baik-baik dan termasuk anak pintar di sekolahnya, malah harus terjerumus ke dalam pernikahan dini yang diakibatkan kehamilan pranikah. Sopan, lelaki baik-baik yang...
![Certainty [✓]](https://img.wattpad.com/cover/371248822-64-k704315.jpg)