Akhir-akhir ini Sopan tampak lebih sibuk kerja dari sebelumnya. Kalau libur sih santai. Hari kerja lebih sering ia habiskan untuk berkutat dengan kertas dan juga laptop dibandingkan bersama istri beserta anak.
Walau begitu, mereka berdua paham yang namanya sibuk. Sibuk yang nyata. Tanpa mengganggu pun mereka sering menemani Sopan bekerja pada malam sepulang kerja. Walaupun kadang bisa menganggu, Sopan sabar-sabar saja menanggapinya.
"Aby udah tidur nih, kakak masih lama di sini?"
"Iya. Kalian duluan saja, gak apa-apa."
"Ya udah, pastikan dirimu gak tidur terlambat."
Sopan mengiyakan itu, lalu menghela napas dan melanjutkan pekerjaannya dengan lesu. Kelihatan dari matanya yang jenuh terkena radiasi laptop. Maunya tidur sekarang bersama istrinya, tapi nanggung banget bila meninggalkan pekerjaannya saat ini.
Sopan berusaha menyelesaikan pekerjaannya tersebut, meski tanpa niat penuh, tapi maunya cepat selesai. Ada salah sedikit, membuatnya berdecak, kalau biasa ia mungkin sudah memarahi laptopnya.
"Duh, kapan selesainya, sih,"
Sesaat kemudian, Sopan merasakan sentuhan pada kedua bahunya. Ia jadi sedikit terperanjat, lalu menoleh, dan menghela napas lagi.
"Kalau udah berat, berhenti dulu."
Sopan mengusap mukanya, menarik rambut-rambutnya ke belakang. "Nanggung kalau ini ditinggalin, dikit lagi kok."
"Kamu kelihatannya udah capek, mending kamu istirahat sekarang, kak. Gak usah maksain diri dengan modal 'dikit lagi kok'."
Sopan menatap istrinya untuk beberapa saat, lalu beralih ke laptopnya. Tangannya meraih mouse. "Aku kira kamu sudah tidur."
"Belum ... aku gak bisa tidur tanpa kamu."
Sopan jadi tersenyum mendengar itu. Ia segera menutup laptopnya, lalu berdiri. "Baiklah, ayo ke kamar."
"Aby gimana?" tanya Sopan selagi mereka berdua menuju kamar.
"Dia gak apa-apa, tidurnya udah lelap. Mungkin dia udah ngantuk berat selama temenin kamu tadi."
Sopan tersenyum tipis. "Gak perlu kalian temani juga gak apa-apa sebenarnya."
"Aby kangen sama kamu, kak. Rencananya mau main bareng ayahnya, tapi ternyata ayahnya sibuk, ya udah dia mau nemenin kamu kerja sampai ketiduran." (Name) membuka pintu kamar.
Jadi gemas rasanya setelah mendengar cerita dari istrinya. Mereka berdua segera menempati tempat tidur.
(Name) melirik Sopan yang berada di sebelahnya, kedua sudut bibirnya terangkat, tampaknya mau membahas sesuatu. "Kak ... bayangin deh, nanti kalau Aby punya adek,"
Sopan jadi membayangkannya. "Pastinya bahagia. Abyan sudah sebesar itu, pastinya perlu teman sebaya untuk diajak main, bukan malah dititip terus ke orang dewasa. Apalagi, kadang ia bertanya-tanya padaku tentang adik, sampai pernah aku dengar dia mengigau mau punya adik."
"Kasihan juga, ya ..." Pupil mata (Name) mengarah ke sudut. "Umm, aku juga ngebayanginnya kayak gitu. Apalagi kalau adeknya cewek, pasti bakal jadi abang yang sweet, kayak ayahnya."
"Kamu mau punya anak kedua?"
(Name) rasa ini lain arahnya. "... Aku cuma ngajakin kamu ngebayangin, berangan-angan."
"Itu artinya mau 'kan?" Sopan menatap (Name), lalu hendak berpindah posisi.
(Name) pula menahannya. "Jangan ngadi-ngadi kamu ya, aku lagi berhalangan."
Raut muka Sopan agak masam. "Nanti Abyan nunggu lebih lama lagi, dong?"
"Ya elah, kamu kali ya yang gak sabaran."
KAMU SEDANG MEMBACA
Certainty [✓]
Fanfiction୨⎯ BoBoiBoy Sopan w/ Female!Readers ⎯୧ Pahit di awal, manis di akhir‼️ (Name), gadis baik-baik dan termasuk anak pintar di sekolahnya, malah harus terjerumus ke dalam pernikahan dini yang diakibatkan kehamilan pranikah. Sopan, lelaki baik-baik yang...
![Certainty [✓]](https://img.wattpad.com/cover/371248822-64-k704315.jpg)