Alunan suara TV diruang tengah meski tidak ada yang menonton tetap terdengar. Beby sedang sibuk dengan laptopnya di ruang tengah sedangkan sang anak belum terlihat batang hidungnya. Justru Ader sang penyewa salah satu kamar dirumah itu keluar dari kamarnya menuju ruang makan.
"Pagi tante", sapa Ader kepada Beby.
"Eh pagi Der. Mau sarapan?".
"Iya tante".
"Itu tante bikin bubur ayam. Dimakan ya".
"Okay makasih tante".
Beby memang suka membuatkan sarapan untuk para penghuni rumah kosan itu. Meski saat ini penghuninya hanya ada Ader, karena Gito yang mulai jarang kekosan walaupun statusnya masih penyewa kamar itu. Tapi rumah itu tetap terasa hidup karena juga ada Muthe sang anak yang membuat suasana rumah begitu ramai. Contohnya pagi ini. Saat Ader menikmati sarapan dan Beby yang berkutat dengan kegiatannya di laptop, Muthe keluar kamar dengan semangat.
"Selamat pagi semua! Ih mama kok pagi-pagi hari libur gini malah sibuk sih. Gak asik nih!", suara menggelegar Muthe membuat ramai pagi itu.
"Sst ah, berisik banget si kamu Muth. Mama ada deadline ini". Seraya Beby sang ibunda tercinta kesal merasa terganggu dengan suara anak cantik yang sudah menuju dewasa ini. "Itu mending kamu sarapan sama Ader disana", sambung Beby menyuruh sang anak untuk menikmati sarapannya.
Muthe sampai dimeja makan dan melihat Ader yang sedang sarapan. Semakin hari semakin dirinya merasakan perasaan yang aneh setiap bertemu dengan Ader. Perempuan penyuka warna merah itu selalu terkesima melihat paras pemuda tersebut. Rasanya seperti ia sudah menemukan pengganti Gito.
Lamunan Muthe terpecah saat ada suara yang menyapa dia, "Muth sini makan. Sekalian bareng sama aku".
"I-iya kak".
"Ih udah dibilang gausah make kak kali. Kita ga beda jauh umurnya".
"Hahaha tetep aja kan aku harus menghargai kamu Der".
Setelah obrolan canggung itu mereka melanjutkan sarapan bersama. Rasanya sarapan hari itu sangat berbeda. Muthe sering mencuri pandang memperhatikan wajah dari Ader. Ternyata, Ader tanpa sadar juga memperhatikan Muthe.
Tiba-tiba momen yang tidak bisa dihindari akhirnya terjadi. Kedua mata mereka saling menabrak. Bukannya melepas pandangan itu justru Ader semakin dalam menatap Muthe dan Muthe malah merona pipinya. Ditambah lagi saat itu Ader tersenyum kearah Muthe.
"Gimana sarapannya? Enakan?", Beby memecahkan kehenigan diruang makan itu.
"Eh, kamu kenapa sayang? Kok muka kamu merah? Sakit kah?", Beby kaget melihat sang anak merah wajahnya sembari menaruh tangan dikeningnya untuk memastikan keadaan sang anak.
"Ih, gapapa kok ma. Apa sih lebay ah", Muthe menjawab dengan kesal sembari menutupi malunya.
"Hahaha", tawa Ader pecah melihat tingkah laku anak dan ibu didepan mukanya itu.
"Apa yang kamu ketawain hah?", kesal Muthe.
"Kalianlah siapa lagi", Ader yang sudah semakin akrab dengan keluarga ini tidak tahan melihat pertikaian kecil nan lucu diantara mereka.
"Ah kalian apa Muthenya nih?", goda Beby sembari memainkan matanya kearah Ader.
"Ah tante bisa aja nih. Udah ah saya pamit kekamar ya tan".
"Cie salting nih. Muth liat itu Ader salting".
Tidak merespon ucapan sang ibu, ternyata Muthe juga sedang salah tingkah di kursinya. "Ye dia juga ikutan salting. Dasar".
KAMU SEDANG MEMBACA
ELEGI SENANDIKA | AU Gita Sekar Andarini
RomanceCerita ini adalah Perjalanan terjal penuh liku dalam kehidupan Gito Senandika Andari. Apakah ia akan menyelesaikan konflik batinnya? Apakah ia bisa mencapai kebahagiaan? . . .
