"Gila! Maksudmu kita harus bunuh dia?".
"Iya Shota harus gimana lagi. Dia sudah menjadi bahaya untuk bisnis kita. Jika kamu tidak mau melakukannya berarti kerjasama kita berakhir".
"Argh, tapi haruskah dihabisi?".
"Ya mau gimana lagi. Daripada rahasia kita terbongkar dan buat semua bisnis kita berantakan? Jadi gimana?".
Shota berpikir sejenak. Demi keberlangsungan kerjasama antara Hibiki dan Fujiko dirinya diberikan tugas untuk membunuh Enrico Wibisawa. Enrico awalnya bagian dari kerjasama tapi lama kelamaan visi mereka berbeda hingga ia ingin memutuskan melepas kerjasama tersebut. Setelah diam sejenak, Shota akhirnya mengambil keputusan, "Baiklah, besok saya akan berangkat ke Indonesia".
Setelah menempuh perjalanan Jepang-Indonesia, kini Shota sudah bersiap. Ia sudah melakukan penyelidikan bagaimana kehidupan Enrico saat ini. Dirinya juga sudah memiliki rencana untuk menghabisi Enrico. Kini hanya tinggal menunggu waktu saja.
Malam hari yang ditunggu tiba. Kini Shota sudah berada didepan rumah Enrico. Dirinya terus memantau keadaan. Shota sudah tahu kalau saat ini Enrico akan pergi keluar bersama seseorang. Suatu hal yang tidak diketahui oleh Shota. Enrico memiliki anak yang mendekati umur Shani. Sempat bimbang tapi demi kelancaran akhirnya ia melanjutkan misinya. Sekarang setelah keluarga Enrico makan malam diluar, Shota sudah menunggu didepan rumah Enrico.
Enrico menyadari kehadiran dari orang yang ia tak diundang. Ia melihat Gito yang sedang terlelap dikursi sebelah. Dirinya mengelus lembut kepala sang anak. Enrico lalu keluar menhampiri Shota.
"Shota. Ada apa kamu jauh-jauh datang ke Indonesia?".
"Maaf", hanya kata itu yang keluar dari mulut Shota.
Seakan mengerti, Enrico hanya tersenyum kearah Shota.
"Sebelum kamu lakukan misi. Boleh titip sesuatu?".
"Apa?".
"Titip anakku. Karena ia tidak terlibat apapun. Aku tidak melanjutkan kerjasama karena istriku meninggal karena sakit dan anakku tinggal sendiri di Indonesia. Aku ingin membesarkannya dengan baik. Toh dia tidak jauh kan umurnya dengan Shani?".
Shota tidak berkata apapun. Ia hanya mengeluarkan sebuah pisau dan langsung saja dihujam keperut Enrico. Tusukan berkali-kali dilakukan oleh Shota hingga Enrico mati dalam pelukan sahabatnya. Shota hanya bisa terdiam dan mulai menteskan air mata. Setelah beberapa saat dan meletakan tubuh Enrico, Dirinya berjalan kearah Gito yang masih terlelap didalam mobil.
"Gito, kini saya akan menjagamu menggantikan ayahmu".
"Memang, ayah kemana?", Gito sedikit bingung.
"Nanti saya akan ceritakan", Shota lalu menggandeng lengan Gito dan berjalan kearah mobil Shota.
Gito sempat melihat kearah tubuh Enrico yang sudah kaku dibelakang. Tapi seperti tersirap, ia tak bisa berkata apapun. Hingga ia pasrah mengikuti Shota.
.
.
.
.
.
Seperti tersambar petir disiang bolong. Gito setelah mendengar kalimat dari Gracia kini tak bisa bergerak. Kilasan masa lalu dan kenyataan mulai terbuka. Ternyata kini ia sadar kalau tembok ingatan diotaknya itu terbangun karena ia merasakan kehangatan dari keluarga Shota hingga memudarkan kenyataan kalau Shotalah sang pembunuh dari ayahnya. Marsha yang mendengar hal itu juga terkejut. Apalagi ia melihat Gito yang kini diam seperti tak bernyawa.
KAMU SEDANG MEMBACA
ELEGI SENANDIKA | AU Gita Sekar Andarini
RomanceCerita ini adalah Perjalanan terjal penuh liku dalam kehidupan Gito Senandika Andari. Apakah ia akan menyelesaikan konflik batinnya? Apakah ia bisa mencapai kebahagiaan? . . .
