ELEGI SENANDIKA PART 2

527 55 1
                                        


Sejak kejadian penyerangan waktu itu, Gito dan Shani menjadi berjarak. Shani yang sudah sembuh menjadi bingung harus bagaimana. Gito tidak meberikan alasan apapun kepada Shani. Dengan berat hati, Shani akan pergi ke Paris untuk menenangkan diri berkedok belajar bisnis fashion disana.

"Jadi kapan kamu berangkat sayang?".

"Besok ma".

"Yaudah besok kita antar ya pa".

"Hmm", jawab Shota yang dingin sembari melanjutkan makan malamnya bersama.

Shani membulatkan tekadnya untuk berpamitan kepada Gito sebelum dia berangkat. Saat setelah makan bersama keluarga, ia menghubungi Gracia untuk menjemputnya.

"Ge, please. Bantuin aku ya. Sebelum aku berangkat Ge", mohon Shani di telepon kepada Gracia yang masih enggan membantu karena tidak ingin terkena masalah katanya.

"Yaudah kalo kamu gamau. Aku yang pergi sendiri ke tempat Gito".

"Eh yaudah iya aku anterin. 10 menit lagi ketemu ditempat biasa".

Akhirnya dengan berat hati Gracia mengiyakan keinginan sahabatnya. Setelah kejadian itu, Gito dipindahkan bertugas oleh Ayah Shani keluar kota Tokyo. Shani dan Gracia menempuh perjelanan dengan taxi sehingga sampai juga di kediaman Gito saat ini.

TING TONG

TING TONG

TOK TOK TOK

TOK TOK TOK

Berkali kali Shani mencoba memanggil Gito. Shani sudah mulai putus asa akhirnya meninggalkan tempat itu. Berat langkahnya dibantu oleh Gracia menuruni anak tangga.

Langkah mereka terhenti sesaat sampai dibawah. Seorang pria sedang berdiri depan mereka. Ternyata itu adalah Gito.

"Gito", Shani memanggil nama Gito sembari berlari kearahnya.

Shani langsung memeluk Gito. Erat, sangat erat pelukan dari Shani karena ia sangat rindu. Tapi, Gito hanya terdiam mematung.

"Kenapa kamu ada disini?".

"Aku rindu".

Kata yang keluar dari mulut wanita manis yang saat ini sedang tidak bisa membendung kerinduannya. Gito menjadi bimbang harus bereaksi seperti apa. Hatinya bergejolak antara rindu juga namun tidak ingin mengkhianati Shota.

"Hey, yaudah jangan nangis ya", Gito coba menenangkan Shani.

"Aku ga ngerti. Kenapa kamu tinggalin aku?".

Gito tidak menjawab. Dirinya hanya mengusap lembut kepala Shani. Lalu ia melanjutkan untuk melepaskan pelukan Shani dan menggenggam jemari Shani.

"Maaf. Tapi aku gabisa Shan. Aku sudah berjanji dengan ayahmu".

"Tapi, yang menjalani kita bukan orang lain Git".

"Aku tidak ingin membahayakan dirimu lebih jauh lagi Shan. Sekali lagi maaf kita tidak bisa bersatu".

Gito melepaskan Shani. Ia menuju kearah Gracia lalu ia menepuk pundak Gracia.

"Aku titip Shani ya Ge".

Shani langsung kembali membuka suara, "Aku akan pergi dari Jepang".

Seketika Gito membatu. Namun dirinya tidak berani menengok kearah Shani. Shani meneruskan kembali kalimatnya.

"Jika kamu emang sayang denganku. Besok kutunggu di bandara atau kita tidak akan bertemu lagi selamanya".

Gito masih diam. Justru ia berjalan meninggalkan Shani. Shani yang terkejut dengan keputusan Gito akhirnya meninggalkan tempat tersebut. Gracia mencoba menghibur Shani. Tapi tidak ada respon apapun dari Shani. Dirinya hancur lebur. Hubungan yang bahagia sudah terkubur. Shani hanya bisa mengenang semuanya saja dalam pejaman mata dirinya. Tak sadara karena dalam kegundahan akhirnya dirinya sampai dirumah. Malam tersebut menjadi malam yang berat untuk Shani maupun Gito.

Pagi yang cerah namun tetap tidak bisa membuat hati Shani berwarna. Shani sangat masih dalam kedaan kelabu harus menjalani hari. Shota dan Melody akan mengantar Shani pergi. Mereka sedang bersiap-siap. Melody menghampir sang anak yang sedang menunggu waktu.

"Shan, sudah siap?".

"Shan, kenapa kamu?".

Lamunan Shani akhirnya pecah karena suara sang Ibu.

"Eh iya, gapapa kok Ma. Aku sudah siap".

"Kamu mikirin Gito ya?", insting Ibu memang tidak pernah salah.

"Hah, engga kok Ma. Aku lagi mikirin gimana aku jauh sama mama dan papa aja".

"Heem, yang bener? Mama tau semua kok. Apalagi dokter juga sudah mengatakannya", Sang ibu ternyata mengetahui sebuah rahasia dari anaknya.

"Hah apa ma?".

"Kamu gausah bohong lagi sama mama. Kamu mengandung anak dari Gito kan?".

Shani terkejut. Akhirnya tangis dirinya pecah. Ia langsung memeluk Melody. Melody coba menenangkan sang anak.

"Udah gausah sedih sayang. Mama tau ini berat. Tapi keputusan ini harus dijalani. Jika kalian memang jodoh, kalian akan dipersatukan oleh semesta".

Kesedihan Shani harus disudahi karena sudah saatnya berangkat. Keluarga kecil itu sudah berada dalam mobil dan mereka menuju bandara. Shani hanya terus memandang langit dari dalam mobil.

Disisi lain. Gito sudah tidak memiliki kesempatan. Ia hanya terdiam dan merenung di apartmentnya. Dirinya hanya bisa memandangi foto bersama Shani saja. Tiba-tiba notifikasi ponselnya terus berbunyi. Ia meliha itu ada pesan dari Gracia yang berulang dengan kata "Penting". Lalu Gito memutuskan untuk menelepon Gracia.

"Iya, halo kenapa ci Ge?".

"Cepet kamu kesini. Shani Git, Shani", suara Gracia yang kacau membuat Gito panik.

"Kenapa ci. Kenapa ci Shani?".

"Pokoknya buruan kerumah sakit sekarang".

Setelah telepon tersebut, Gito langsung bergegas kerumah sakit. Sesampainya Gito disana, dia terkejut dengan keadaan disana. Hampir seluruh orang yang mengenal Shota berada disana. Seketika ia melihat Gracia. Dirinya menghampiri Gracia dengan tergesa-gesa.

"Ci, ada apa ini?".

"Kamu tenang ya. Shani sekeluarga mengalami insiden. Saat menuju bandara mereka kecelakaan dan tidak ada yang selamat".

Gito tidak percaya, dia coba menyangkal hal tersebut. Lalu datanglah Aokuri Fujiko, Ayah dari Gracia menghampiri.

"Gito".

Gito memberi hormat, " Aokuri-san apakah ini semua nyata?".

Aokuri hanya menepuk pundak Gito sembari mengangguk tanda mengiyakan. Gito hanya mematung. Gracia memeluknya untuk memberikan semangat. Lalu Gracia mengeluarkan sepucuk surat.

"Git, ini surat dari Shani untuk kamu".

Gito menerimanya. Dirinya coba menguatkan diri lalu membuka surat itu.






Dear Gito

Mungkin saat kamu membaca surat ini, aku sudah berada jauh darimu. Ya walaupun dari sekarang juga kita sudah berjarak. Tapi yang harus kamu tahu Git. Aku selalu mencintaimu dalam keadaan apapun.

Aku tidak peduli dengan semuanya Git. Diotakku saat ini hanyalah dirimu. Entah ini telat atau tidak tapi aku ingin memberi tahu kalau saat ini aku mengandung anakmu Git.

Lucu ya, saat kita berpisah ternyata ada saja yang mempersatukan kita. Tenang saja Git, anak ini akan ku rawat. Entah kamu mau percaya atau tidak Git. Intinya aku akan terus menjaga rasa ini bersama dengan anak kita.

Semoga kita benar berjodoh. Kita akan bertemu lagi ya. Jangan lupakan aku Gito.

I LOVE YOU

JE T'AIME

AISHITERU

AKU CINTA KAMU

Shani Renjana Hibiki

ELEGI SENANDIKA | AU Gita Sekar AndariniCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang