Gelap, sunyi, dingin. Itulah yang kini dirasakan oleh Gito. Perlahan ia membuka matanya. Seketika ia terkejut karena kini dirinya berada di hamparan luas sendiri. Sejauh mata bisa menyapunya, tidak ada apapun disekitar. Gito berdiri lalu terus berjalan tanpa arah. Rasanya sudah sangat jauh ia melangkah tapi nihil, tidak ada apapun disana. Tiba-tiba rasa pusing yang hebat membuatnya terpaska untuk bersimpuh. Kepala Gito seperti ditekan terus menerus. Ia juga mulai merasakan sekitarnya bergoyang dan mengganggu kepalanya. Sakit yang begitu hebat mulai ditambah dengan suara yang berulang-ulang menghantui dirinya.
"Gito! Jika bukan karnamu, aku masih bisa bahagia bersama Gracie dan Greesel anakku. Tanggung jawab Gito! TANGGUNG JAWAB!", Jelas terdengar kalau itu suara Cynthia. Lalu suara kembali terdengar yang kini dari orang lain.
"GIT! MANA TANGGUNG JAWAB MU! KAU SUDAH BUAT KELUARGA SAYA MENDERITA!", dengan lantang terdengar oleh Gito yang ternyata itu adalah suara dari Melody.
Gito hanya bisa berteriak dan berteriak tanpa bisa menghilangkan suara-suara itu.
"TANGGUNG JAWAB!".
"GITO! TANGGUNG JAWAB!".
Kalimat itu terus berulang dari berbagai orang yang terus menghantui Gito. Mulai dari Cynthia, Shota, Melody, hingga Enrico sang ayah. Tiba-tiba semua berhenti saat ia merasakan terdampar disatu tempat yang sempit. Suara-suara itu terus terdengar dan mengganggu. Hingga tibalah secercah cahaya menghampiri Gito. Perlahan cahaya itu berubah. Cahaya itu mulai menjadi wujud wanita paras cantik dengan pakaian gaun putih senada dengan kulit dari wanita itu yang mulus nan cantik juga. Tapi Gito masih terus terganggu dengan suara yang mencekam.
Perlahan demi perlahan sosok bagaikan dewi itu mendekati dan lebih dekat lagi dengan Gito. Gito yang terus terunduk memegang kepalanya yang sakit karena tekanan tidak berujung, pelan-pelan sadar kalau ada seseorang yang mendekatinya. Gito mencoba mengangkat kepalanya untuk melihat siapa itu. Begitu terkejut saat ia sadar kalau sosok itu ada Shani. Terakhir kali bertemu dengan Shani juga Gito dalam keadaan hancur seperti sekarang. Kini dirinya bertemu lagi. Senyum indah bak cokelat membuat Gito mulai tenang. Shani mengulurkan tangannya sambil mengatakan, "Git, sudah yuk. Istirahat bersamaku. Kamu lelahkan?".
Suara yang mengganggu Gito seketika menghilang dan hanya suara dari perempuan cinta pertamanya itulah yang bisa didengar dengan jelas. Gito seakan terhipnotis, perlahan ia mulai mencoba meraih tangan dari Shani. Selembut sutra tangan itu dirasakan Gito. Perlahan-lahan Gito mulai berdiri dari posisi sebelumnya.
"Ayo Git. Kita bersama lagi. Kita akan hilangkan lelahmu. Kita akan bersama selamanya", Shani meyakinkan Gito untuk ikut dengannya.
Genggaman Gito semakin erat. Kini perlahan mereka mulai melangkah kearah pintu yang sangat cerah. Shani dan Gito bersandingan. Kenangan indah kini terus mewarnai pengelihatan Gito disekitarnya. Saat dia berkenalan dengan Shani, hingga hari-hari yang penuh kebahagiaan sederhana juga terlihat oleh Gito. Sesekali Gito melihat kearah Shani dan dibalas dengan senyuman olehnya.
"Kak Gito! Berhenti! Kak! Kakak mau kemana? Katanya mau nemenin aku dan Greesel?", seketika suara yang tak asing terdengar dari belakang Gito. Gito yang sudah berada didepan gerbang bersama Shani menghentikan langkahnya. Dirinya coba menengok kearah sumber suara tersebut. Ternyata disana ada Gracie yang menangis dan menunggu Gito. Gito mulai merasakan kegalauan. Satu sisi ia ingin bersama Shani yang ia yakini akan mengakhiri semuanya. Tapi, ada sisi dimana ia melihat Gracie membuatnya juga ingin menjaga Gracie. Diambang kebingungan, Shani hanya terus tersenyum tanpa sepatah katapun sedangkan Gracie terus menangis sebari memeluk kedua dengkulnya.
Gito coba menenangkan Gracie dari jauh, "Gracie, kamu bisa kok tanpa kakak. Kan ada kak Greesel. Kamu kan wanita kuat ya Gracie".
Tapi tidak ada jawaban dari adik kecil itu. Lalu tak selang berapa lama, Greeselpun hadir bersama dengan Muthe.
KAMU SEDANG MEMBACA
ELEGI SENANDIKA | AU Gita Sekar Andarini
Storie d'AmoreCerita ini adalah Perjalanan terjal penuh liku dalam kehidupan Gito Senandika Andari. Apakah ia akan menyelesaikan konflik batinnya? Apakah ia bisa mencapai kebahagiaan? . . .
