Suasana semakin mencekam. Hingar bingar pertarungan mulai memudar. Hanya ada keheningan bersamaan dengan tubuh yang berajatuhan. Gracia mulai merasa cemas karena suara teriakan diluar seperti berasal dari Chelsea orang kepercayaannya. Marsha yang menyadari kegelisahan dari Gracia ia coba berbicara untuk menyudahi ini semua.
"Kak, lebih baik sudahi ini semua. Dari pada semakin berat dan terlambat".
Gracia justru kesal dengan kalimat itu, "Diam kamu!".
PLAK
Tamparan kencang mendarat di pipi Marsha. Setelah itu, tak lama mulai terdengar suara langkah di depan pintu. Saat pintu itu terbuka, semuanya terkejut karena yang muncul adalah Gito. Keadaannya sungguh mengenaskan dengan punggung yang penuh darah dan juga wajah lebam hingga lengan yang mulai tak bisa digerakkan. Marsha otomatis berteriak melihat kehadiran orang yang ia cintai.
"Kak Gito! Hiks hiks hiks", Marsha memanggil Gito dengan diikuti isak tangis karena melihat keadaan darinya juga ditambah kerinduan yang sangat berat.
"Sha, kakak datang. Ci Ge kita sudahi ini semua ya", ucap Gito perlahan mendekati mereka.
Gracia yang enggan menyelesaikan konflik ini, justru ia langsung mengancam Marsha dengan pisau di depan tenggorokannya Marsha. Gito terkejut dan panik melihat hal itu.
"Ci Ge sudah ci. Jangan gegabah", pinta Gito dengan memohon.
"Berhenti Git! Semakin mendekat, justru aku akan habisi nyawa perempuan ini!".
Marsha semakin menjadi tangisannya. Christy yang terikat disana juga semakin derasa tangisannya. Gito coba menenangkan Gracia. Ia ulurkan tangannya untuk memberikan tanda menyerah.
"Okay ci please jangan sakiti Marsha. Kalau kamu mau, habisi aku saja. Semua ini karena aku kan?".
"Berisik! Pokoknya gue akan habisi lo semua! Ga ada yang boleh selamat dari sini!".
Gito sejenak berpikir. Ia coba untuk merayu Gracia agar menghentikan segalanya. Kini ia coba buat kenangan mereka sebagai senjata untuk meredam Gracia.
"Ci sudah ya ci. Inget gak, ci Shani selalu percaya kalau kamu bisa menjadi pebisnis yang ulung karena kemampuanmu. Hampir setiap hari kita bertiga selalu bersama ci. Susah senang hampir selalu kita lalui bersama".
.
.
.
.
.
Jepang disuatu sore hari yang cerah. Shani yang sedang terburu-buru karena sudah telat dengan janji bertemu sahabatnya itu berlari kecil dan diikuti oleh seorang bodyguard yang tidak lain adalah Gito dibelakangnya. Akhirnya mereka sampai di sebuah kafe dan terlihat Gracia sudah melambaikan tangan untuk memberitahu posisinya. Shani dan Gito kini sudah berada di tempat posisi Gracia.
"Sorry ya Ge aku telat. Soalnya ada urusan tadi", suara Shani terdengar bersamaan dengan langkah seorang pria dibelakangnya.
"Hi Shani. Eh sekarang Gito udah resmi nih jadi bodyguard kamu shan?".
"Iya nih, setelah aku sedikit memaksa akhirnya sekarang Gito jadi bodyguard aku deh. Gits santai aja lagi, kaya baru aja nongkrong sama kita deh. Mencair aja dulu mencair".
Perbincangan kedua wanita itu dipenuhi gelak tawa karena melihat Gito yang sangat kaku menjaga dibelakang Shani. Padahal sebelum ini juga Gito sudah sering bersama mereka. Karena saat bersekolah Gito juga menjadi adik kelas dari mereka berdua. Hari-hari mereka terus bersama hingga akhirnya posisi kehidupan membuat mereka berjarak. Status Gito sebagai staff dari keluarga Shani membuat ia sedikit menjaga jarak. Tapi setiap bersama Gracia dan juga Shani akhirnya Gito bisa mencair.
"Pokoknya ingat Git, selama bersama kita berdua. Kamu ga perlu jadi staff kaku gitu ya. Kita itu udah kaya keluarga okay", Gracia coba mencairkan keadaan.
"Iya Gits. Kamu boleh jaga aku dengan gaya kamu senyaman mungkin. Karena kamu adalah orang yang paling aku percaya", Shani menimpali sambil melempar senyumannya.
Itulah untuk pertama kalinya Gito merasakan kalau Shani special untuknya. Gracia juga sadar kalau Gito terus memperhatikan Shani seakan mencintainya. Akhirnya semua hal itu terbukti saat malam festival kembang api. Gito dan Shani saling menjalin janji dan Gracia merasakan kehancurannya. Kesedihannya Gracia terus terkumpul dalam hati. Hingga ia tahu kabar kalau Shani hamil anak Gito. Ia sudah mulai tertutup dengan rasa benci. Ditambah lagi keluarganya juga mendukung untuk menghancurkan keluarga Shani. Hingga akhirnya semua itu terjadi dan sampailah dimana Gracia mengancam Marsha saat ini.
Ingatan tersebut yang awalnya sempat hampir berhasil meluluhkan hati Gracia. Tapi justru kembali menjadi amarah saat ia ingat kejadian festival kembang api. Gracia yang sudah mulai menurunkan pisaunya, mulai kembali marah.
"ARGH! Sialan kamu Gito! Semua hancur karena kehadiranmu! Sekarang biarkan kubunuh wanita ini sebelum aku habisi kamu!".
Gracia dengan penuh amarah ingin menusuk pisau tersebut kearah dada dari Marsha. Christy sudah menutup mata sama seperti Marsha yang sudah amat takut. Gito dengan kekuatan penuh terakhirnya langsung menubrukan badannya hingga Gracia terpental. Gito langsung bergerak cepat membuka ikatan dari Marsha. Pelukan hangat akhirnya mereka lakukan untuk melepas semua masalah yang ada.
Marsha menangis kencang dalam pelukan erat Gito. Sedangkan Gito juga merasa lega telah berhasil menyudahi ini semua.
"Sha udah ya. Kamu udah aman. Maafin aku ya. Karena aku jadi kaya gini".
"Engga usah minta maaf kak. Aku udah senang dengan kehadiran kakak disini menyelamatkan aku. Kita bersama lagi ya kak. Jangan tinggalin aku lagi ya kak Gito".
Ternyata semua belum berakhir. Gracia sudah kembali berdiri dan meraih pisaunya lagi. Penuh api cemburu dan amarah, ia langsung bersiap menusukan pisau itu kepada Marsha.
"SEMUA HARUS MATI!", teriak Gracia sembari berlari.
JLEB
Ternyata Gito menyadari pergerakan dari Gracia. Ia refleks mendorong Marsha menjauh hingga serangan dari Gracia justru mengenai perut bagian belakang Gito. Sontak semua yang disana terkejut. Gracia kini mulai sadar apa yang ia lakukan. Saat dirinya panik tiba-tiba ada suara yang datang dari pintu.
DOR
DOR
DOR
Tembakan pistol dari Feni mengakhiri semua pertarungan Gracia. Gito yang sedang merasakan sakit karena pisau yang tertancap langsung memeluk Gracia yang sudah sekarat. Gito mersakan sedih karena harus menyudahi ini semua dengan seperti ini.
"G-gits, ma..afkan cici. Ini se..mua karena ci...ci gamau kehilanganmu", suara Gracia yang mulai terasa berat meminta maaf kepada Gito.
"Ci maaf ci. Cici harus tahu aku selalu sayang cici sebagai cici aku yang terbaik. Aku ga akan pernah lupain cici. Aku maafin semuanya kok ci".
Semua karena rasa cemburu hingga buat Gracia menjadi buta akan segalanya. Ditambah perbedaan visi antara keluarga Shani juga Gracia menambahkan percikan amarah dari Gracia. Segalanya dikorbankan demi balas dendam akan kehancuran persaan seorang Gracia. Sehingga semuanya hancur tak berbekas. Justru semua ini diakhiri dengan kepergian dua sahabat yaitu Shani dan Gracia. Gracia menghembuskan nafas terakhirnya dalam pelukan Gito, seorang pria yang ia cintai tapi tak bisa ia miliki. Perlahan Gito meletakan tubuh Gracia dilantai. Lalu dengan tenaga yang ia miliki, Gito mengarah kepelukan Marsha.
Tangis Marsha pecah melihat keadaan dari Gito sekaligus merasa lega setelah semuanya berakhir. Feni, Onel, Ciko, Beby, Geby dan Frieska juga masuk keruangan tersebut. Ciko langsung menyelamatkan sang adik.
"Kak Ciko, dedek takut kak. Kakak jangan tinggalin dedek ya", tangisan Christy yang langsung dibekap dengan pelukan hangat dari Ciko untuk menenangkannya
"Dek Kitty, maaf ya semuanya jadi kaya gini. Udah ini semua sudah aman dan selesai", Ciko langsung memeluk erat sang adik.
Saat itu juga Gito sudah berada didepan Marsha. Langsung saja keduanya berpelukan dengan erat. Saat dalam pelukan Marsha Gito mulai memejamkan matanya.
"Sha, semua akhirnya selesai. Kakak mau istirahat dalam peluka...", Gito tersenyum lalu hilang suaranya.
"KAK GITO!!!".
KAMU SEDANG MEMBACA
ELEGI SENANDIKA | AU Gita Sekar Andarini
RomanceCerita ini adalah Perjalanan terjal penuh liku dalam kehidupan Gito Senandika Andari. Apakah ia akan menyelesaikan konflik batinnya? Apakah ia bisa mencapai kebahagiaan? . . .
