Malam kini mulai pudar. Mentari perlahan berganti tempat dengan sang rembulan. Semilir angin pagi menyambut pergantian itu. Gito yang sedang terlelap di sofa mulai membuka matanya. Meskipun dirinya tidak bisa istirahat sepenuhnya. Tapi ini terasa cukup setidaknya untuk memulihkan diri dari kelelahan.
Seperti biasa, sesaat matanya terbuka Gito langsung meraih ponselnya setelah mengusap wajahnya agar sedikit lebih segar. Ia terkejut ada pesan beruntun dari Dheo. Lalu ternyata ada nomor tak dikenal yang juga menghubunginya. Gusar hatinya setelah menelaah pesan dari Dheo. Kini ia mencoba menghubungi Dheo. Namun ternyata telepon dari Gito tak juga dijawab.
Sesaat setelah menghubungi Dheo yang tak kunjung ada jawaban, Gito teringat nama Aran. Setidaknya mungkin Aran bisa membantunya untuk mencari tahu kabar dari Dheo. Ternyata ia ingat juga kalau dirinya memiliki nomor Aran dari Dheo dari waktu yang lalu. Akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Aran. Tetapi hasilnya sama. Tidak ada jawaban dari Aran.
"Mungkin karena masih pagi buta jadinya dua-duanya ga ngangkat kali ya. Yaudah lah gue langsung kesana aja", monolog Gito.
Kalimat terakhir dalam pesan yang diberikan Dheo itu menjadi pikiran yang mengganggu.
- Woy Gitoy, lo bales chat gue, penting! Gue tunggu lo dikantor gue ya-
Kata penting itu yang terus menjadi pikiran. Menyetir dalam keadaan penuh pikiran buat Gito tak sadar sudah dekat dengan kantor Dheo. Dirinya langsung saja menghentikan kendaraannya sesaat ia melihat ada polisi yang berjaga disana. Ternyata tempat kerja dari Dheo sudah dipenuhi oleh kepolisian. Kini ia memutuskan untuk turun dari mobil dan melihat ada kerumunan orang.
"Maaf ini ada apa ya?", Gito bertanya kepada kerumunan itu.
"Oh ini tadi ada kecelakaan", kata salah satu orang yang ada disana.
"Iya katanya juga yang jadi korban tuh pemilik usaha di gedung itu".
Sontak Gito terkejut mendengar hal itu. Orang yang ia ingin temui ternyata mengalami kecelakaan. Setelah mendengar hal itu ia coba lebih mendekat lagi. Sesaat didepan, ia mendengar dari kerumunan lagi yang lain.
"Iya bang tadi si korban itu punya banyak luka kaya abis berantem baru deh ketabrak".
"Dicurigai sih yang melakukan penyerangan adalah pesaing dari bisnisnya".
"Ih iya kasian mana kantornya juga diobrak-abrik lagi".
"Tapi tadi katanya korban lagi berjuang diselamatin tuh di rumah sakit".
"Maaf, itu korban dibawa ke rumah sakit mana?".
"Itu di RS deket sana".
"Oalah baik terimakasih ya", Gito lalu beranjak pergi setelah mendapatkan informasi.
Lekas setelah itu Gito langsung menuju rumah sakit tempat Dheo berada. Dirinya ada sedikit harapan kalau Dheo masih hidup setelah mendapat kabar dari ucapan orang sebelumnya. Akhirnya Gito sampai di rumah sakit. Benar disana ada beberapa polisi yang menjaga satu ruangan ICU. Ternyata disana ada Aran yang langsung menyapa Gito.
"Gito".
"Ran, lo gapapa? Dheo kenapa Ran?", Gito langsung menyambar dengan berbagai pertanyaan kepada Aran.
"Tadi gue gaada di kantor Git. Sampai disana ternyata udah kaya gini deh. Kayanya kita lebih baik ngobrol diluar biar jauh dari jangkauan polisi Git".
Gito memiliki insting yang tajam. Dirinya sedikit menaruh curiga kepada Aran. Sekilas Gito menyadari ada noda darah di pakain Aran. Tapi ia tetap tenang dan mengikuti keinginan dari Aran. Selama berjalan, Gito terus memperhatikan gerak-gerik dari Aran dan sekitar.
Akhirnya mereka telah sampai di parkiran. Aran menyalakan rokok disana lalu menghadap kearah Gito. Dirinya memulai perbincangan.
"Git, btw keluarga yang pas itu lu minta tolong jagain itu siapa lo Git?".
"Kenapa?".
"Engga, soalnya gue penasaran aja kok mereka bisa terlibat sama gengster gitu".
Gito coba memperhatikan sekitar dan menjawab Aran setelahnya, "Oh iya mereka itu keluarga kenalan gue. Gue udah anggep mereka keluarga sendiri".
"Oalah gitu toh, terus lo ketemu Cynthia dan anak-anaknya dimana emangnya?".
"Ga sengaja aja sih. Serba kejutan semuanya".
"Hahaha serba kejutan semua ya. Lucu juga dunia ini bekerja".
"Maksudnya?".
Aran menghembuskan asap rokok dan membuang rokoknya. Lalu Aran seketika langsung mengejutkan Gito dengan coba menusuknya menggunakan pisau. Gito yang sudah siaga berhasil menahan tusukan itu lalu menendang Aran.
"Ternyata lo masih jago ya Git. Inget gue ga lo?".
"Gak".
"Okay, gue bakalan bikin lo inget".
Aran kembali menerjang dengan sekuat tenaga. Pergelutan terus terjadi. Jual beli serangan dilakukan keduanya. Menggunakan pisau yang ada digenggamannya, Aran terus menusuk dan menebaskan pisau itu kearah Gito. Sementara itu semua serangan dari Aran berhasil dihindari oleh Gito. Gito kembali bertanya,
"Kenapa lo nyerang gue?".
"Bisnis", jawab Aran pendek dan kembali melanjutkan serangannya.
Gito melihat sedikit kesempatan untuk menghentikan Aran. Saat pisau Aran menerjang dari kiri Gito dalam ketinggian lehernya, ia menangkap pisau itu dan menggenggamnya dengan erat hingga meneteskann darah dari telapak Gito. Lalu ia menendang Aran dengan sepenuh tenaga hingga terpelanting jatuh. Setelah itu, Gito melempar jauh pisau itu lalu menuju kearah Aran untuk melanjutkan pertarungannya.
Aran yang merasakan sakit karena sudah ada luka yang ia alami saat melawan Dheo sebelumnya tidak menyerah. Dirinya kembali berlari kearah Gito dan melanjutkan pertarungan keduanya. Namun, Gito tidak sadar kalau Aran tahu kelemahannya. Saat itu Aran menerjang Gito dan memeluknya dengan sekuat tenaga hingga terdorong sampai terbentur mobil dibelakang Gito. Gito merasakan rasa sakit yang hebat. Aran meneruskan serangannya dengan mendorong berkali-kali hingga Gito coba membalas dengan sikutan yang mengarah punggung Aran.
Adrenalin merusuh, Gito seperti bisa menahan sakitnya karena itu. Ia membalas dengan menhujam Aran menggunakan sikut dan serangan lutut beruntun. Aran mulai melemah, Gito langsung memeluk Aran balik dan coba melancarkan serangan terakhir.
Penuh dengan amarah, Gito membanting aran keatas kap mobil begitu keras. Aran sangat kesakitan begitu juga Gito yang berlutut karena sakit punggung yang lumayan mengganggu. Keduanya coba melakukan dialog sembari beristirahat.
"Ternyata, lo emang sangat kuat ya Git. Cedera punggung lo itu ga menghambat lo sama sekali".
"Siapa lo sebenernya Ran?".
"Hanya orang suruhan untuk membunuh elo".
"Dugaan gue bener. Lo Kami no Kage kan".
"Akhirnya, inget juga lo".
"Siapa yang ngutus elo?".
"Lebih baik daripada lo mikirin itu, lo kejar kesayangan lo".
"Maksudnya?".
"Hahaha, bukan lo doang yang diincar. Masa lo gatau sih tujuan sebenernya apaan".
"Anjing! Lo gangggu keluarga gue, gue bakalan kasih ampun",
Aran hanya tertawa. Gito kembali berdiri dan langsung menarik Aran yang sedang tergeletak diatas kap mobil. Aran ditarik kebawah tanah lalu Gito dengan penuh kekesalan menginjak Aran berkali-kali. Gito menghentikan serangannya setelah terlihat Aran pingsan.
"Marsha, Gracie, Cynthia, Muthe. Siapa yang mereka kejar. Ah sudah lah pokoknya gue harus samperin mereka sekarang", Monolog Gito sembari berjalan meninggalkan Aran.
Rasa sakit dipunggungnya tidak menghambat Gito karena ia tahu kini orang terdekatnya tidak aman. Saat ini dengan penuh kewaspadaan ia bergerak menuju orang-orang yang ia sayangi.
KAMU SEDANG MEMBACA
ELEGI SENANDIKA | AU Gita Sekar Andarini
RomanceCerita ini adalah Perjalanan terjal penuh liku dalam kehidupan Gito Senandika Andari. Apakah ia akan menyelesaikan konflik batinnya? Apakah ia bisa mencapai kebahagiaan? . . .
