"Nona, apapun yang terjadi saya akan terus bersama nona meskipun itu nyawa saya jadi taruhannya".
"Ngomong apa sih kamu Hina. Gausah aneh-aneh deh. Saya butuh kamu untuk terus mendampingi saya sampai sukses nanti".
Percakapan yang terus terngiang dikepala Feni. Matanya kini tak bisa menampung kesedihannya. Kini air mata sudah mulai membasahi pipi Feni. Ciko yang berada dikursi pengemudi sekilas memperhatikan kesebelah. Dirinya mencoba berkomunikasi dengan Feni.
"Fen, sorry sebentar lagi kita sampe nih. Lo kalo mau istirahat, dimobil aja. Biar gue yang kedalem sendiri".
Feni langsung mengusap air mata dan membenarkan posisi duduknya, "Eh udah gue juga ikut turun Cik".
"Okedeh itu toko yang dulu bar kita sering ngumpul didepan. Kita prepare sekarang".
Setelah memberhentikan mobilnya didepan gedung yang sudah terbengkalai itu, Ciko dan Feni kini turun dan menuju kedalam gedung tersebut. Sesuai dengan arahan terakhir dari Jeno, dirinya menyimpan bukti itu didalam loker. Ciko dibantu juga Feni mencari didalam. Akhirnya Ciko berhasil menemukan satu loker yang terkunci.
"Kayanya ini deh Fen. Kita coba buka paksa dulu".
Akhirnya setelah dipaksa, pintu loker itu terbuka karena juga sudah dibantu keadaan yang tak terurus menjadikan loker itu mudah dibuka. Benar saja, disitu ada sebuah FlashDrive yang disembunyikan dibalik bingkai foto. Ciko sempat tertegun melihat foto yang ada dibingkai itu. Ternyata Jeno menyimpan foto bersama mereka dahulu. Ollan, Ader, Ciko, Zean, Jeno, Jesse berada didalam foto tersebut dengan senyuman yang sumringah. Setelah terdiam sebentar, akhirnya ia mengambil foto itu juga.
"Okay sekarang kalo gini kita mending langsung ketemu sama Gito".
"Tapi gimana caranya Cik? Kita kan udah lost contact setelah keributan saat itu".
Ya, mereka sudah tidak ada kontak bersama Gito setelah kejadian di dermaga saat dirinya tidak terima kalau Fujiko Flames disalahkan menjadi biang kerok kematian keluarga Hibiki. Sejenak mereka berpikir langkah apa yang selanjutnya harus mereka ambil. Seketika Ciko ingat kalau Gito dekat dengan Marsha yang juga mantannya Zean.
"Gimana kita ketempat orang yang Gito kenal".
"Siapa?".
"Marsha".
"Kamu tahu dimana Marsha emangnya Cik?".
"Semoga aja gasalah tapi gue pernah kok kerumahnya. Mantan dari Marsha adalah salah satu teman gue".
"Hmm, yauda kalo gitu deh kita langsung aja kesana. Semoga bisa menjadi langkah yang benar".
Mereka bergegas untuk meninggalkan gedung itu. Tapi Ciko menyadari kalau ada suara gaduh didepan. Ia dengan sigap menahan Feni dan mengajaknya bersembunyi. Kecurigaan dari Ciko ternyata benar. Ashel bersama beberapa orang lain sudah berada ditempat itu juga.
"Wah tempat rongsok ini. Gue juga pernah kesini nih. Ga nyangka bakalan kesini lagi", Ashel mengenang masa lalunya.
Dahulu Ashel sempat bekerjasama dengan Geng Crazy hingga menjadi dekat dengan Zean. Tapi ternyata visi antara dia dan Ciko tidak cocok. Akhirnya kerjasama mereka disudahi dan Zean lebih memilih bersama dengan Marsha. Ashel langsung mencoba menghubungi Zean, "Zee aku sama flo dan Fino sudah di bar rongsok tempat teman-teman kamu dulu".
Zean menjawab diujung telepon lainnya, "Yaudah kamu tunggu disana sekalian pastikan benar gak mereka akan ketemuan disana".
"Okay sayang. Aku coba suruh mereka mencari disekitar barangkali ketemu dengan apa yang dicari Fujiko Flames".
KAMU SEDANG MEMBACA
ELEGI SENANDIKA | AU Gita Sekar Andarini
RomanceCerita ini adalah Perjalanan terjal penuh liku dalam kehidupan Gito Senandika Andari. Apakah ia akan menyelesaikan konflik batinnya? Apakah ia bisa mencapai kebahagiaan? . . .
