Bab 46 - Penyerangan

512 48 11
                                        

UTAMAKAN VOTE SEBELUM MEMBACA⚠️

Ruby tertidur pulas dalam pelukan suaminya, Sagara menepuk-nepuk punggung istrinya lembut. Setelah lelah menangis, akhirnya Ruby jatuh tertidur karena kelelahan.

Sebelah tangan Sagara mengelus pipi istrinya, tatapannya berubah menjadi sendu. Dia meraih ponselnya yang berdering.

Melepaskan pelukannya perlahan, kemudian turun dari ranjang menuju balkon. Jarinya menggeser ikon berwarna hijau untuk mengangkat.

"Sir, maaf mengganggu waktunya. Nona Ji-eun kembali membuat onar," ucap pria di seberang telepon.

"Dasar tidak becus! Kenapa kau tidak menjaga dia!!" marah Sagara mencengkram pembatas balkon. Giginya bergemeletuk sampai berbunyi.

"Maaf Tuan, kami sudah menjaganya. Tapi Nona Ji-eun selalu memanggil-manggil nama anda, Tuan."

"Saya tidak bisa pergi ke Korea!" Sagara berkata dengan tegas.

"T-tapi Tuan. Jika anda tidak datang, nona akan bunuh diri," gagap pria itu dengan nada ketakutan.

Sagara mematikan sambungan teleponnya, kemudian beralih menelpon Dilaver—asistennya.

"Siapkan pesawat pribadi, Dilaver! Siapkan semuanya, malam ini kita berangkat ke Korea!" perintah Sagara, kemudian mematikan sambungannya sepihak membuat Dilaver di seberang sana menggerutu kesal.

"Untung bos, jika bukan bos. Sudah saya tendang dia ke sungai amazon!" gerutu Dilaver .

Sagara menghembuskan napasnya panjang, ia berbalik masuk ke dalam kamar tanpa menutup pintu balkon. Ia berjalan mendekat pada ranjang, dimana ada Ruby yang tertidur pulas.

Sagara menundukkan kepalanya kemudian mencium kening, kedua mata, hidung, kedua pipi dan terakhir bibirnya. Ia melumatnya lembut sebelum mengakhirinya.

"Maaf, saya harus pergi sayang..." gumam Sagara kemudian berbalik pergi, mengambil jaket tebalnya.

Tanpa melihat ke belakang, Sagara menutup pintu perlahan. Dengan langkah kaki lebarnya, Sagara meninggalkan Ruby.

Sagara bertemu dengan Dilaver di lantai bawah, ia berjalan mendahului asistennya.

"Tuan, kenapa kita harus ke Korea?" tanya Dilaver.

"Gadis itu berbuat ulah lagi."

Sagara masuk ke dalam mobil di kursi penumpang. Dilaver duduk dibagian depan bagian kemudian, mobil itu kini melaju cepat meninggalkan kawasan hotel.

"Semuanya sudah saya siapkan, Tuan."

"Kau yang atur," ucap Sagara melihat ke arah jendela mobilnya.

"Bagaimana dengan Nyonya Ruby?" tanya Dilaver pelan.

Sagara menghembuskan napas pendeknya, "Saya tidak memberitahukannya, karena dia sedang tidur. Jadi saya pergi tanpa pamit sama dia," ucap Sagara dengan wajah lesunya.

Dilaver melihat Sagara dari kaca spion wajahnya terlihat lesu dan tidak ada semangat. Biasanya jika bersama dengan Ruby, Sagara akan terlihat sangat posesif dan mengumbar kemesraan didepannya.

"Jangan lihat saya terus, nanti kau naksir sama saya. Tapi saya tidak suka pisang, saya masih suka semangka, melon," ujar Sagara bergidik geli, menatap Dilaver dengan tatapan horornya.

Dilaver pun bergidik ngeri membayangkannya, "Saya masih suka perempuan. Bagaimana saya bisa suka sama anda?"

"DIAM!! KAU MEMBUAT SAYA GELI! JANGAN TATAP SAYA LAGI DENGAN TATAPANMU ITU!!" tegas Sagara memejamkan matanya.

Married With MafiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang