"Mas dimas lo serius dulu pernah pacaran sama kak sky? Kok bisa gitu? Terus sean tau gak kalau kalian pacaran?" tanya hujan bertubi-tubi.
"Sean gak tau gue pacaran sama sky, lagian itu kejadian sebelum gue kenal sean dan jadi meneger nya."
Hujan menatap dengan serius bahkan dia menatap lekat kearah wajah dimas, membuat dimas menatap dengan bingung.
"Lo kenapa liatin gue begitu?"
"Nggak. Gue masih bingung aja plot twist macam apa ini kalau lo pernah jadi kekasih nya kak sky, terus ini lo masih cinta sama dia gitu."
"Gue gak tau. Sebenarnya masih ada perasaan atau tidak gue gak tau hujan. Gue bingung."
"Kalau lo gak ada perasaan apapun kenapa lo sampai frustasi seperti ini."
"Karena dia mengalami kecelakaan karena gue" ucap dimas dengan pelan.
"APA!!!"
Dimas menutup telinga nya karena suara cempreng hujan, dia pun menghela nafas panjang lalu menceritakan semuanya kepada hujan. Hujan menyimak dengan seksama, sesekali dia mengangguk tanda paham, dimas cerita sampai selesai membuat hujan memegang dagu nya dan mengelus tanda dia berpikir sejenak.
"Kayak nya apa yg dikatakan nenek sihir itu benar sih, kalau kak sky bisa aja frustasi terus memabukan kayak lo gini. Udah gitu kecelakaan tapi nenek sihir itu gak bisa nyalahin lo gitu aja, apalagi nyalahi sean."
"Gue sebenarnya kesel tapikan lo tau kalau gue gak punya power apapun buat melawan reza."
"Hm, iya sih. Harusnya lo ajak gue tadi biar gue remes tuh mulut nenek sihir. Enak aja ngatain temen gue cuman bisa foya-foya tanpa tau kebenaran nya."
"Gue harus gimana ya?" tanya dimas membuat hujan bingung.
"Gue juga bingung sih. Tapi gue punya saran nanti takutnya lo gak terima dengan saran gue."
Alis dimas terangkat sambil menatap wajah hujan, dia penasaran dengan saran apa yg akan disampaikan oleh hujan. Dia mengangguk tanda hujan harus menyuarakan saran nya.
"Lo masih ada perasaan gak sih sama kak sky?" tanya hujan membuat dia bungkam.
Hujan hanya tersenyum mengejek dia bisa menebak kalau dimas sebenarnya masih mencintai sky, hanya saja dia menganggap kalau dirinya kurang pantas. Hujan merangkul pundak dimas.
"Kalau lo diem berarti emang masih ada perasaan sama dia. Kenapa harus menghindar tau gak sih coba kalau lo mau nerima kak sky lagi pasti gak begini ceritanya, dan lihat diri lo sekarang malah ngerasa bersalah dan malah milih mabokan begini."
"Gue lakuin ini semua demi kebaikan semua nya."
"Demi kebaikan bersama atau demi keegoisan lo semata mas, masa lalu kalian sudah selesai kan dengan salah paham dan lo udah maafin kak sky. Jadi, yaudah apalagi gitu loh. Kalau masih saling cinta mah lebih baik balikan."
"Kami banyak perbedaan, jan. Lagian keluarga sky tidak suka dengan gue. Bahkan keluarga sky itu."
"Homophobic."
Dimas mengangguk tanda iya membuat hujan berdecak kesal, dia memegang tangan dimas seolah memberikan semangat.
"Lo tau gak sih kalau sean itu gay. Harusnya lo bisa membaca keturunan siapa sean kalau bukan keturunan kak sky. Udahlah mas mending lo jenguk kak sky daripada lo galau gini."
"Kak gue pulang dulu ya besok gue balik lagi kesini, lo istirahat" ucap reza yg membereskan semua barang dan memasukan nya kedalam tas.
"Dimas beneran gak jenguk gue" ujar sky membuat reza mendesah kesal.
"Kak kan udah gue bilang kalau kak dimas gak ada jenguk lo, sama sekali gak ada jenguk lo ini. Ngapain juga gue ngarang cerita sama lo gak ada untung nya, dari awal lo kecelakaan juga yg anterin lo ya keluarga gue. Bukan dimas apalagi sean adik lo itu."
"Sean dia lagi berlibur ke pulau" katanya dengan memandang lurus kedepan.
"Tuh kan feeling gue mengatakan kalau adik lo itu emang suka foya-foya, setidaknya dia taulah lo kecelakaan gini. Setidaknya dia jenguk lah kakak nya yg lagi sakit. Ini nggak malah liburan ke pulau. Apaan sih."
"Lo tau hubungan gue sama Sean gimana? Menurut lo kalau gue benci dia apakah dia mau datang kerumah sakit jenguk gue. Hm."
Reza terdiam setelah sky mengatakan itu, memang benar hubungan sky dan Sean sudah renggang karena kematian orang tua mereka. Bahkan sky sangat membenci Sean karena menganggap Sean lah penyebab orang tuanya meninggal.
"Gue balik dulu."
Reza pamit kepada sky lalu langsung keluar dari ruang rawat inap sky, sky memejamkan matanya sejenak karena kepala nya masih pusing. Apalagi dia memikirkan dimas yg tidak kunjung menjenguk nya, dahi sky menyerngit mendengar suara Handel pintu kamar nya terbuka. Dia pikir kalau itu reza yg ketinggalan barang nya.
"Ada yg ketinggalan, za."
"Sky" panggil seseorang membuat sky membuka matanya dan terkejut siapa yg datang.
Air membawa koper Sean untuk menuju ke mobilnya, pagi ini mereka sudah harus pergi ke Jakarta. Air hanya membawa satu ransel besar yg isinya baju yg tidak banyak, keduanya pegangan tangan satu sama lain saling melempar senyum seolah kebahagiaan tengah menghampiri mereka berdua.
Setelah sampai di tempat sewa mobil dan langsung airlangga meminta kunci mobil dengan pemilik rental mobil, ternyata Sean sudah menambahkan uang sewa mobil sehingga ada seorang supir yg akan mengantarkan mereka ke bandara.
"Kamu bayar lagi buat sewa supir?" tanya air membuat Sean mengangguk cepat.
"Iya. Gue rasa kita memerlukan supir buat mengantarkan kita ke bandara, lagian kalau kamu yg bawa gimana caranya pulangkan mobil yg kita sewa jika tidak ada supir."
"Kamu bener juga. Kenapa saya tidak kepikiran."
Sean memeluk air "karena lo cuman mikirin gue aja."
Airlangga tertawa lalu menoel hidung Sean membuat keduanya tertawa bersama.
"Udah yuk itu supir nya nungguin."
Mereka berdua lekas masuk kedalam mobil setelah semua pembawaan mereka sudah masuk kedalam bagasi, mereka berdua duduk di belakang sementara supir berada didepan.
"Haikal gak lo kasih tau?" tanya Sean yg tiba-tiba kepikiran teman air itu.
"Nanti saya kasih tau setelah sampai di jakarta, kamu ngantuk."
"Hum, ngantuk banget. Semalam kurang tidur."
Airlangga menarik Sean dalam pelukan nya "tidurlah nanti kalau sampai bandara akan saya bangunkan."
Maka Sean mencari posisi yg nyaman untuk dia tertidur dalam sandaran bidang dada Airlangga.
Setelah menempuh jarak yg berjam-jam akhirnya mobil yg mereka sewa sampai juga di bandara, Airlangga membangunkan Sean yg masih terlelap nyaman diatas bidang dada nya.
"Sean bangun kita sudah sampai bandara" bisik air membuat Sean membuka matanya perlahan.
"Hoooaaammm... Sudah sampai."
"Hm."
Keduanya pun langsung turun dari mobil, sang supir segera menurunkan barang bawaan mereka. Mata Sean sedikit melihat kearah kanan yg mana dia tersenyum mengingat pertemuan pertama dengan Airlangga.
"Kenapa?" tanya air yg melihat Sean tersenyum tipis.
"Eh, nggak. Aku lihat tempat dimana kita pertama kalinya ketemu. Makasih ya sudah menjaga aku selama dua minggu ini."
"Saya suka" ucap Airlangga membuat Sean tidak mengerti.
"Maksudnya?"
"Saya suka kalau kamu menggunakan kata aku dalam berbicara itu jauh lebih lembut menurut saya."
"Apaan sih gombal banget."
"Tetap terus menggunakan aku ya. Terutama sama saya itu terdengar jauh lebih manis dan juga imut" kata Airlangga lagi membuat Sean tersipu malu.
Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Love Sea
Fiksi Penggemarseorang model terkenal yg sedang naik daun namun harus terkena sedikit skandal hingga akhirnya dia di asingkan di sebuah pulau terpencil, dia yg membenci laut harus bertemu dengan seorang penyelam andal yg sialnya si penyelam utusan dari meneger san...
