48. Nggak Ditakdirkan?

474 92 7
                                        

Mobil yang dikendarai oleh Jay itu sudah melaju di jalanan selama beberapa jam dengan kecepatan sedang. Jennie yang ada di kursi penumpang hanya menatap kosong jalanan sambil sesekali mengusap air matanya yang terus saja jatuh. Jay sendiri sudah melakukan banyak hal untuk menghibur nona mudanya itu tapi sejauh ini, ia belum berhasil.

"Nona masih belum mau makan?" Terhitung sudah kali kelima Jay menanyakan pertanyaan yang sama namun Jennie tetap saja menggeleng. Jay tentu khawatir karena Jennie sudah menangis berjam-jam dan belum memakan apapun sejak pagi.

"Jay. Apa keputusan aku salah? Apa sekarang mommy baik-baik aja?"

"Saya yakin, nyonya Jennifer pasti baik-baik aja. Kalo nyonya lagi kenapa-napa, Tuan Minho atau Namu pasti langsung hubungin kita. Nona tenang ya."

Jennie tidak menjawabnya lagi. Ia hanya menghela nafas lalu memperbaiki posisi duduknya agar bersandar nyaman di sandaran kursi. Salah satu tangannya terangkat memijat kepalanya yang sejak tadi pening. Pikirannya penuh memikirkan masalahnya dengan dua orang terdekatnya.

"Nona pusing?"

"Hm."

"Mau tiduran di hotel nona Rose?"

"Kita ke rumah Kookie aja."

"Nona yakin? Kondisi mental dan fisik nona lagi nggak memungkinkan buat ketemu Lisa. Nona itu kecapek an. Ngobrol dalam kondisi capek itu bisa bikin masalah jadi makin runyam. Lagipula nona janjinya sore kan? Ini masih jam satu. Lebih baik nona makan dulu."

"Aku nggak laper Jay."

"Nona. Bukannya itu mobil Kookie? Kenapa ada di sini?" Jay menepikan mobilnya, memarkirkannya di belakang mobil Kookie.

Pertanyaan itu langsung terjawab saat Lisa dengan tergesa menghampiri mobil Kookie. Melihat wajah Lisa yang sembab seperti habis menangis, membuat Jennie langsung turun dari mobilnya. Ia berlari dan menahan Lisa yang hendak memasuki mobil.

"Kamu kenapa, Li? Ada masalah?" tanyanya khawatir

"Lepas." Lisa menatap dingin tangan Jennie yang sedang merangkul lengannya. Kondisi hatinya sedang buruk dan ia tak ingin berurusan dengan Jennie dulu. 

"Nggak." Bukannya melepas, Jennie malah mempererat rangkulannya.

"Lepas!" Kali ini Lisa menghempas lengan Jennie kuat hingga membuat Jennie terdorong dan hampir jatuh. Untung saja Jay berhasil menahan Jennie sebelum Jennie benar-benar jatuh.

"Lisa. Lo boleh marah tapi jangan sampe kasar," tegur Jay.

Lisa membuang muka, berusaha menutupi rasa bersalah yang mulai menyeruak. Ia meruntuki refleksnya yang tak segaja hampir membuat Jennie terluka.

"Bawa majikanlo pulang," ujarnya sebelum memasuki mobil. 

Jennie menggeleng. Ia masih ingin berbicara dengan Lisa. Ia ikut masuk ke dalam mobil Kookie. Bedanya ia duduk di bangku belakang, tepat di belakang Lisa.

"Turun."

"Nggak."

"Turun!" nada bicara Lisa semakin tegas.

"Li udah. Biarin aja Jennie ikut mobil kita," ujar Kookie. Sejujurnya ia merasa kasihan dengan Jennie dan Lisa. Mereka saling menyayangi namun mengapa takdir seolah menuntun mereka untuk saling menyakiti.

"Yaudah lo aja yang anter dia pulang."

Lisa keluar sambil menghempas keras pintu mobil. Perasaannya berkecamuk. Ia masih marah pada Jennie dan untuk itu, ia hanya butuh waktu untuk sekedar menjauh sebentar. Ia hanya tak ingin semakin menyakiti Jennie. 

I Hate HospitalsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang