TSK2-08

12.4K 705 111
                                        

Liona berdiri di dapur rumahnya, tangan terampilnya bergerak cepat memegang pisau tajam, mengiris daging ikan di atas talenan. Gerakannya halus namun tegas, seolah ia telah lama terbiasa bermain dengan benda-benda tajam. Setiap potongan daging itu jatuh dengan presisi, tak ada ruang untuk kesalahan. Matanya fokus, memandang tanpa ragu, seperti menganggap daging itu lebih dari sekadar bahan makanan—mungkin pelampiasan dari kekacauan dalam hidupnya.

Di belakangnya, Arion berdiri bersandar di ambang pintu, memperhatikan setiap gerakan Liona dengan ekspresi geli dan sedikit ngeri. “Itu cuma daging ikan, Liona. Irisnya jangan sadis gitu dong, sayang,” katanya dengan suara tenang namun sedikit meringis.

Liona berhenti sejenak, mengerjapkan matanya. Senyum kecil terukir di wajahnya sebelum dia melepaskan tawa pelan yang tak terduga. Dia menoleh ke arah Arion, matanya berbinar penuh godaan. “Sadis? Aku cuma memastikan potongannya sempurna,” balasnya sambil menyeringai, lalu melanjutkan memotong dengan gaya yang sedikit lebih lembut.

Arion tertawa kecil, menggelengkan kepala. “Kalau aku jadi ikannya, aku pasti ketakutan,” ujarnya sambil melangkah mendekat, melihat bagaimana Liona bekerja dengan tenang.

“Kamu bukan ikan, Arion,” jawab Liona, suaranya lembut namun penuh arti. “Tapi kalau kamu berani macam-macam, mungkin kamu bakal tahu gimana rasanya.” Dia tersenyum manis, namun tatapannya penuh tantangan.

Arion hanya tersenyum, merasa sedikit tertantang oleh gurauan Liona. Dia tahu betul, di balik canda itu ada sisi Liona yang tidak main-main. Tapi, itulah yang membuatnya tak bisa lepas darinya—kombinasi antara kekuatan dan kelembutan yang hanya dimiliki oleh Liona.

Arion melangkah mendekat, tanpa suara, lalu melingkarkan lengannya di pinggang Liona, menariknya mendekat. Tangannya bergerak lembut di atas perut Liona yang rata, jari-jarinya mengusap dengan penuh kehangatan dan ketenangan. Liona berhenti sejenak, merasa kehadiran Arion begitu dekat. Hembusan napasnya menggelitik tengkuknya saat Arion menunduk, mengendus leher jenjang Liona.

Sebuah lenguhan halus terlepas dari bibir Liona, membuatnya sadar betapa intimnya momen itu. Arion menyeringai, mengetahui bahwa dia berhasil membuat Liona merespons dengan cara yang begitu khas. Namun, tanpa memperpanjang momen itu, Arion perlahan menjauh, senyum jahil tak lepas dari wajahnya.

"Jadi, gimana kuliah pertamamu?" tanya Arion, menatap Liona sambil menyandarkan diri pada meja dapur, seolah-olah tidak ada yang baru saja terjadi.

Liona menarik napas panjang, menenangkan diri sejenak sebelum menjawab. "Cukup menantang," jawabnya sambil tersenyum tipis, namun ada sesuatu yang tersembunyi di balik kata-katanya. Matanya memandang Arion, namun pikirannya kembali ke apa yang dia alami di kelas hari itu-tato The Rose, masa lalunya yang terus membayangi.

"Menantang, ya?" Arion mengangkat alis, seakan mengundang Liona untuk bercerita lebih jauh. Tapi Liona hanya menggelengkan kepala, mengalihkan perhatiannya kembali ke ikan yang sedang ia iris.

"Bukan sesuatu yang perlu dipikirkan terlalu jauh," ujarnya, meski Arion bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekadar pertemuan pertama dengan dosen di balik jawaban Liona.

Arion bisa merasakan ketegangan di tubuh Liona, meski gadis itu berusaha menyembunyikannya. Ada sesuatu yang ingin dia katakan, tapi dia menahan diri. Arion bisa merasakannya, tahu betul bahwa Liona tidak akan melepaskan beban itu begitu saja. Maka, dia mendekat lagi, kali ini memeluk Liona dari belakang, tangannya melingkar di sekitar pinggangnya, menekan tubuh Liona lebih dekat ke tubuhnya sendiri.

"Katakan," bisiknya lembut di telinga Liona, suaranya penuh perhatian. "Apa yang bikin kamu nggak nyaman, sayang?"

Liona menutup mata sejenak, seperti menimbang-nimbang apakah dia harus mengatakan sesuatu atau tidak. Akhirnya, dia menghela napas panjang dan, dengan suara pelan, berkata, “The Rose.”

Telinga Arion langsung menangkap kata itu, dan ekspresinya berubah seketika, alisnya terangkat, tanda ia penasaran dan bingung. "The Rose?" tanya Arion, suara rendahnya penuh keheranan. "Siapa itu?"

Liona sedikit menggigit bibirnya, merasa tak ingin membicarakan ini. Namun, Arion tidak melepaskannya. Dia tetap memeluknya dari belakang, dengan perhatian yang tidak biasa. “Aku harus tahu, Liona. Apa itu The Rose?" tanya Arion lagi, kali ini suaranya sedikit lebih serius.

Liona menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri. "Itu... bukan sesuatu yang bisa aku jelaskan begitu saja," jawabnya, suaranya agak terbata. "Itu bagian dari masa laluku. Dan..."

Arion mengerutkan dahinya, semakin bingung. “Masa lalumu?” tanyanya, sedikit mengernyit. “Apa maksudmu?"

Liona merasakan arus ketegangan yang semakin dalam, dan meskipun dia ingin menghindarinya, dia tahu dia harus berbicara, setidaknya untuk memberi Arion sedikit gambaran. "The Rose," lanjut Liona, "adalah nama dari kelompok yang... sangat penting dalam hidupku."

Mata Arion menyipit, mencoba memahami kata-kata Liona. "Kelompok?" tanyanya, suara mengandung tanda tanya. "Apa maksudnya?"

Liona menelan ludah, merasa kata-katanya sudah terlalu dekat dengan kenyataan yang harus dia hadapi. “The Rose... adalah bagian dari dunia yang lebih gelap dari yang bisa kamu bayangkan. Tempat yang aku anggap sebagai rumah, dan kini... aku harus merebutnya kembali.”

Kata-kata itu menggantung di udara, dan Arion bisa merasakan betapa beratnya itu bagi Liona, meskipun dia tidak tahu sepenuhnya apa yang sedang dihadapi gadis itu. Namun, di balik semua itu, Arion tahu satu hal pasti: ada lebih banyak rahasia yang disembunyikan Liona dari masa lalunya, dan ini mungkin hanya permulaan.

#tbc
Follow ig: @wiwirmdni21

Follow tiktok: @Wiwi Ramadani

KOMEN DOONG YANG BANYAKKK HIHI😖🖤 SPAM NEXT!!

JANGAN LUPA VOTE🖤

TRANSMIGRASI SANG KETUA 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang