TSK2-20

4.5K 250 47
                                        

Malam. Semua orang sudah tertidur lelap. Kecuali Liona. Gadis itu masih terjaga, pikirannya melayang ke mana-mana, penuh dengan pertanyaan tanpa jawaban. The Rose dan Ilona—dua nama itu terus menghantui benaknya belakangan ini.

Tatapan tajam Liona menembus kegelapan kamar. Di sampingnya, Arion perlahan terbangun. Dalam redupnya malam, ia menyadari istrinya belum juga terlelap.

“Sayang?” Suara khas Arion yang masih berat karena baru bangun membuat Liona tersadar. “Kenapa belum tidur?”

Liona yang semula terlentang, berbalik menghadap Arion. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya berbicara.

“Bantu aku, Arion.”

Arion tak langsung menjawab. Ia mengulurkan tangan, menyibakkan helaian rambut yang menghalangi pandangannya ke wajah Liona.

“Panggil yang benar,” ujarnya pelan.

Liona tersenyum kecil. “Sayang, bantu aku ya?”

Arion mengangguk, sorot matanya lembut. “Tanpa kamu minta pun, aku akan selalu membantumu. Kamu tahu kenapa?”

Liona menatapnya. “Karena aku istrimu?”

Arion kembali mengangguk. “Itu sudah jelas, sayang. Tapi lebih dari itu… Aku akan bantu kamu, karena aku ada untuk kamu.”

Liona menatap mata suaminya lama, seolah mencari pegangan dalam pusaran pikirannya yang tak kunjung reda.

"Aku takut," bisiknya akhirnya.

Arion menggeser tubuhnya lebih dekat, menyentuh pipi Liona dengan punggung tangannya. "Takut kenapa?"

"The Rose... Ilona... semuanya terasa seperti teka-teki yang tak ada ujungnya. Aku nggak tahu siapa yang bisa aku percaya. Bahkan kadang aku ngerasa diriku sendiri pun udah mulai goyah."

Arion menarik napas pelan. Ia tahu betapa kerasnya dunia yang sedang mereka hadapi. Dunia yang memaksa Liona untuk tumbuh terlalu cepat, berani terlalu dalam.

“Kamu nggak harus cari semua jawabannya malam ini, sayang,” ucap Arion lembut. “Tapi kamu juga nggak harus jalan sendiri.”

Liona menggenggam tangan Arion, erat.

"Aku cuman... nggak mau semuanya berakhir kayak dulu lagi. Aku takut kehilangan siapa pun yang aku sayang. Kamu, Arka, Alden... semuanya."

Arion mencium kening Liona. Lama, seolah ingin menyalurkan ketenangan yang ia punya ke dalam benaknya.

“Aku di sini. Dan selama aku masih bisa bernapas, kamu nggak akan kehilangan aku. Kita lawan semuanya bareng-bareng, ya?”

Liona mengangguk pelan. Air matanya jatuh, tanpa suara.

***

Pada mata kuliah pertama, Liona duduk tenang di bangkunya, matanya tertuju ke arah depan kelas. Sekilas tampak seperti sedang memperhatikan penjelasan dosen—padahal tidak. Bukan tulisan di papan tulis yang menarik perhatiannya, melainkan sesuatu yang lain.

Tanda itu lagi. The Rose.

Tergambar jelas di tangan yang sedang menulis di atas meja dosen. Sudah dua dosen yang ia temui dengan tanda yang sama. Simbol kelompok itu.

Liona tersenyum miring. Ternyata kelompok yang dulu ia ciptakan kini punya banyak pengikut, bahkan merambah sejauh ini.

Tapi senyum itu cepat menghilang. Berganti dengan tatapan dingin. Ada rasa tak rela menyusup dalam dadanya. The Rose ia bentuk untuk alasan yang sangat personal—untuk menemani kesepiannya, bukan untuk menyakiti orang-orang tak bersalah.

TRANSMIGRASI SANG KETUA 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang